Viral Jalan di Semarang Bikin Pengendara Terasa Terbang, Penyebabnya di Luar Dugaan
Viral video di media sosial memperlihatkan kondisi Jalan Sukorejo arah Unnes Kota Semarang patah, membuat sejumlah pengendara motor terasa terbang.
Viral video di media sosial memperlihatkan kondisi Jalan Sukorejo arah Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kota Semarang patah, membuat sejumlah pengendara motor melintas kaget serasa terbang.
Kabar tersebut viral diunggah di akun Instagram @infokejadian_semarang bahwa retaknya badan jalan di tanjakan Trangkil, Kota Semarang disebabkan oleh keberadaan sesar aktif yang melintasi kawasan tersebut.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Jateng Heru Sugiharto membeberkan penyebab fenomena alam ini.
Retakan tanah hingga menimbulkan munculnya material beton yang menyembul merupakan indikasi kuat adanya aktivitas geologi serius.
"Di lokasi tanjakan Trangkil terdapat dua jalur patahan aktif. Di sana juga ada Perumahan Trangkil Sejahtera yang sudah kami kaji sebelumnya," kata Heru, Jumat (18/4).
Menurutnya, pesatnya pengembangan sektor properti menjadi alasan utama kerusakan infrastruktur di titik-titik tersebut diawali. Pembangunan dinilai tidak dengan konsultasi geologi.
"Ini sudah parah karena saat pengembang membangun, tidak konsultasi ke kami. Padahal wilayah tersebut berada di jalur patahan aktif," ungkapnya.
Patahan di Trangkil merupakan bagian dari tiga sesar mayor yang tersebar di wilayah selatan Kota Semarang. Sesar pertama melintasi kawasan barat, meliputi Kalialang, Green Wood, dan Bukit Manyaran Permai yang memanjang ke arah Goa Kreo dan wilayah Sadeng.
"Di lokasi ini sudah menunjukkan dampak signifikan. Sejumlah rumah sudah rusak berat dan tidak bisa ditempati lagi," ujarnya.
Sesar kedua berada di kawasan tanjakan Trangkil, lokasi retakan jalan yang kini jadi sorotan publik. Sedangkan sesar ketiga berada di timur laut Semarang, mencakup Bendan Duwur hingga kawasan Hutan Tinjomoyo.
Secara geologis, Kota Semarang dipengaruhi oleh dua mega sesar utama, yakni Sesar Kaligarang dan Sesar Baribis. Kedua sesar ini memengaruhi aktivitas patahan-patahan mayor dan minor di sekitarnya. Termasuk dipengaruhi pergerakan lempeng tektonik antara Asia dengan Indo-Australia.
"Wilayah rawan ada di selatan, seperti Mijen, Gunungpati, Banyumanik, hingga Tembalang. Sedangkan wilayah utara relatif lebih aman karena struktur tanahnya masih muda dan lunak," ujarnya.
Tanah di wilayah sesar umumnya disusun oleh batuan tua dari Formasi Kerek dan Kalibeng yang memiliki kandungan lempung tinggi. Material ini bersifat ekspansif, yaitu mengembang saat basah dan menyusut saat kering.
"Swelling atau pengembangannya tinggi. Jika dibiarkan, bangunan akan mudah rusak. Ini menjadikan kawasan tersebut rawan terhadap bencana geologi," jelasnya.
Untuk mitigasi risiko, ESDM Jateng telah menerapkan sistem peringatan dini atau EWS (early warning system) yang digunakan oleh BPBD, terutama di wilayah-wilayah rawan.
Namun, kesadaran pengembang terhadap pentingnya kajian geologi mulai meningkat sejak 2019. Kalau hasilnya menunjukkan risiko tinggi, pihaknya menyarankan tidak membangun.
"Seperti contoh saja, kalau ada pengembang mau bangun rumah KPR pasti izin ke kami. Jika daerah berada di jalur patahan, bank umumnya menolak memberikan kredit pembiayaan," ujarnya.
Maka Dinas ESDM bersifat memberi rekomendasi, bukan mengambil keputusan akhir. Saran yang diberikan adalah menghindari pembangunan di wilayah patahan aktif. Jika tidak memungkinkan, maka tata guna lahan harus diperhatikan, seperti dimanfaatkan untuk pertanian semusim, bukan tanaman tahunan atau bangunan permanen.
"Kalau untuk bangunan sipil seperti jembatan, jalan, atau gedung, harus ada rekayasa teknis yang sesuai. Seperti di Jepang, bangunan dirancang tahan terhadap gempa. Di sini pun harus begitu, meminimalkan dampak fatal akibat pergerakan tanah," pungkasnya.