Utusan Presiden Apresiasi Kurikulum Ketahanan Pangan Pesantren Zawiyah Garut
Utusan Khusus Presiden mengapresiasi Pondok Pesantren Zawiyah Garut yang menerapkan kurikulum ketahanan pangan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk swasembada pangan nasional.
Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, Muhammad Mardiono, memberikan apresiasi tinggi kepada Pondok Pesantren Zawiyah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Apresiasi ini disampaikan atas inovasi pesantren tersebut dalam menerapkan kurikulum pendidikan yang berfokus pada ketahanan pangan. Langkah ini dinilai sangat sejalan dengan program unggulan yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto terkait swasembada pangan nasional.
Kunjungan kerja Muhammad Mardiono ke pesantren tersebut juga bertepatan dengan pengajian rutin jamaah yang dilaksanakan pada Jumat (21/11) malam. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti bagaimana Pesantren Zawiyah telah menumbuhkan kesadaran dan pendidikan mengenai pentingnya ketahanan pangan melalui kurikulum sekolah menengah mereka. Ini menjadi contoh nyata kontribusi lembaga pendidikan dalam mendukung agenda nasional.
Inisiatif Pesantren Zawiyah ini dianggap sebagai fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan berdaulat dalam hal pangan. Mardiono menekankan bahwa ketersediaan pangan secara menyeluruh merupakan prasyarat utama untuk mencerdaskan bangsa. Oleh karena itu, program pendidikan semacam ini sangat krusial dalam mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.
Pesantren Zawiyah Wujudkan Visi Ketahanan Pangan Nasional
Muhammad Mardiono menjelaskan bahwa program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto menjadikan persoalan ketahanan pangan sebagai skala prioritas utama. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan swasembada pangan serta menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045. Adanya program pendidikan jurusan ketahanan pangan di Pesantren Zawiyah, menurutnya, harus didukung penuh dan disinergikan dengan kementerian terkait.
Dukungan dan sinergi ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target swasembada pangan nasional. Konsep pendidikan yang diterapkan oleh Pesantren Zawiyah tidak hanya berfokus pada kegiatan keagamaan semata, seperti mengaji, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan kejuruan. Kurikulum ini secara spesifik mengajarkan tentang ketahanan pangan, menunjukkan pendekatan holistik dalam mendidik santri.
Menurut Mardiono, lembaga pendidikan di Garut ini telah menunjukkan kemajuan signifikan dengan mengembangkan kurikulum ketahanan pangan. Inisiatif ini dinilai sebagai landasan kuat untuk membangun Indonesia yang lebih mandiri dan sejahtera. Ketersediaan pangan yang memadai adalah kunci untuk memastikan bahwa berbagai program pembangunan lainnya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Model Pendidikan Ketahanan Pangan untuk Indonesia
Kurikulum ketahanan pangan yang diimplementasikan oleh Pesantren Zawiyah mencakup berbagai aspek penting. Di antaranya adalah pendidikan tentang pengolahan pangan dan teknik memproduksi pangan secara mandiri. Pendekatan ini membekali para santri dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pangan nasional, sekaligus menciptakan generasi yang sadar akan pentingnya kemandirian pangan.
Mardiono menyatakan bahwa konsep pendidikan semacam ini berpotensi besar untuk menjadi proyek percontohan bagi lembaga pendidikan lainnya di seluruh Indonesia. Khususnya, ia berharap jurusan ketahanan pangan dapat diterapkan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lainnya. Dengan demikian, diharapkan produksi pangan nasional akan melimpah dan ketergantungan pada impor dapat diminimalisir.
Pemerintah menargetkan swasembada pangan dalam lima tahun ke depan, dan Mardiono optimistis dengan kemajuan yang telah dicapai. Ia menyebutkan, “Kita tahun ini sudah tidak impor lagi, jadi sesuai yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto lima tahun ini kita harus mencapai swasembada pangan, satu tahun ini kita sudah tidak impor, mudah-mudahan nanti tahun depan dan seterusnya itu juga tidak impor lagi.” Pernyataan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dan harapan besar terhadap kontribusi berbagai pihak, termasuk pesantren, dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Sumber: AntaraNews