UNFPA Dorong Kebijakan Afirmatif untuk Upskilling Perempuan Era AI
UNFPA menekankan perlunya kebijakan afirmatif untuk upskilling perempuan era AI guna meningkatkan partisipasi kerja dan mencegah ketertinggalan gender di tengah dominasi teknologi.
United Nations Population Fund (UNFPA) menyoroti urgensi kebijakan afirmatif untuk meningkatkan keterampilan atau upskilling perempuan di era Akal Imitasi (AI). Hal ini penting guna memastikan perempuan tidak tertinggal dalam persaingan kerja yang semakin didominasi teknologi. UNFPA menilai partisipasi kerja perempuan di Indonesia masih sangat rendah.
Verania Andria, Assistant Representative UNFPA Indonesia, menyatakan bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja belum mencapai 50 persen selama puluhan tahun. Kondisi ini diperparah dengan potensi penggantian pekerjaan oleh AI, sehingga affirmative action menjadi sangat krusial. UNFPA bersama BKKBN sedang menyusun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK).
PJPK ini akan membahas solusi komprehensif untuk meningkatkan partisipasi kerja perempuan di Indonesia, termasuk strategi upskilling khusus. Kebijakan ini bertujuan membekali perempuan dengan kemampuan relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI.
Fokus UNFPA dan Kebijakan Afirmatif
UNFPA mengusulkan berbagai bentuk affirmative action untuk mendukung perempuan agar lebih aktif di ruang publik dan dunia kerja. Salah satunya adalah melalui dukungan terhadap care economy, yang mencakup insentif untuk perawatan anak. Kebijakan ini akan meringankan beban perempuan dalam mengurus keluarga.
Vera Andria menjelaskan, "Misalnya dipermudah dengan ada insentif untuk anaknya, atau ketika dia merawat anak sebelum ke kantor, atau misalnya dia juga bisa dibantu dengan paternity leave (cuti pasca-persalinan), kebijakan-kebijakan seperti itu, jadi perempuan punya waktu untuk membekali dirinya dan masuk ke wilayah kerja." Dukungan ini diharapkan memberikan fleksibilitas bagi perempuan.
Selain itu, UNFPA juga menekankan pentingnya upskilling khusus bagi perempuan agar mampu menguasai teknologi AI. Ini bukan hanya sekadar memberi waktu luang, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi tantangan masa depan. Peningkatan keterampilan ini akan memastikan perempuan dapat bersaing secara efektif di pasar kerja yang berubah.
"Jadi harus ada affirmative action untuk perempuan, khusus untuk mereka mendapatkan skill yang terkait dengan pemanfaatan AI," tegas Vera. Ia menambahkan, "upskilling perempuan-perempuan di usia produktif agar mampu menguasai teknologi-teknologi baru." Hal ini krusial untuk mencegah kesenjangan digital yang lebih dalam.
Ancaman AI dan Kesenjangan Gender
Studi terbaru menunjukkan bahwa perempuan menghadapi risiko lebih tinggi kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi berbasis AI. Pekerjaan yang didominasi perempuan, seperti administrasi, pembukuan, kasir, dan staf kantor, lebih rentan digantikan oleh teknologi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap masa depan pekerjaan perempuan.
Studi tersebut juga mengungkapkan adanya kesenjangan signifikan dalam penggunaan perangkat AI generatif. Perempuan memiliki kemungkinan 20 persen lebih kecil untuk menggunakan alat AI generatif dibandingkan laki-laki. Kesenjangan ini secara langsung mengurangi peluang perempuan dalam pekerjaan yang sangat bergantung pada AI.
Harian The Independent melaporkan bahwa perempuan diperingatkan bisa tertinggal oleh kemajuan teknologi. Mereka dua kali lebih mungkin menempati pekerjaan yang terancam oleh AI. Kondisi ini menuntut adanya intervensi kebijakan yang kuat untuk melindungi dan memberdayakan perempuan di era digital.
Oleh karena itu, kebijakan upskilling yang proaktif dan terarah menjadi sangat vital. Program pelatihan yang fokus pada keterampilan AI dan teknologi baru akan membantu perempuan beradaptasi. Ini juga akan membuka peluang baru bagi mereka di sektor-sektor yang berkembang pesat.
Sumber: AntaraNews