Fakta Mengejutkan: Hanya 2,45% Pria Ber-KB, BKKBN Tegaskan Kontrasepsi Pria Bukan Lagi Tabu
BKKBN menyoroti rendahnya partisipasi KB Pria di Indonesia, hanya 2,45% menggunakan kondom dan 0,16% vasektomi, menegaskan bahwa kontrasepsi bukan hanya tanggung jawab wanita.
Kebutuhan akan kontrasepsi atau keluarga berencana (KB) kini ditegaskan bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan semata, melainkan juga laki-laki atau suami. Pernyataan penting ini disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Provider KB Pria Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, Raymon Nadeak, di Semarang, Jawa Tengah.
Raymon Nadeak pada Selasa lalu menjelaskan bahwa kesetaraan gender tidak hanya mencakup keadilan dalam pengasuhan anak, tetapi juga melibatkan keputusan bersama dalam memilih metode KB yang sesuai bagi keluarga. Ini termasuk pilihan kontrasepsi pria seperti kondom atau metode operasi pria (vasektomi).
Dorongan ini muncul seiring dengan data yang menunjukkan partisipasi pria dalam program KB masih sangat rendah di Indonesia, menjadi fokus utama BKKBN untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan laki-laki dalam perencanaan keluarga.
Mitos dan Tantangan Partisipasi KB Pria
Masyarakat Indonesia masih menghadapi resistensi kuat terhadap konsep KB pria, seringkali menganggapnya sebagai hal yang tabu dan secara keliru mengasosiasikannya hanya sebagai urusan perempuan. Raymon Nadeak mengidentifikasi pandangan ini sebagai salah satu hambatan utama dalam meningkatkan partisipasi laki-laki dalam program keluarga berencana.
Selain mitos yang berkembang, kurangnya pengetahuan yang memadai mengenai metode kontrasepsi pria, khususnya vasektomi, juga menjadi tantangan signifikan. Banyak pria dan keluarga belum memahami secara detail prosedur, efektivitas, dan manfaat dari vasektomi sebagai pilihan KB yang aman dan permanen.
Data pemutakhiran pendataan keluarga tahun 2024 menunjukkan angka partisipasi pria dalam ber-KB yang sangat minim. Hanya sekitar 2,45 persen pria menggunakan kondom dan 0,16 persen memilih vasektomi, menggambarkan kesenjangan besar dalam keterlibatan laki-laki dibandingkan perempuan.
“Masyarakat masih menganggap KB pria itu adalah hal yang tabu. Bahwa KB itu urusan perempuan, itu salah satu resistensinya. Kemudian, resistensi lainnya adalah pengetahuannya, banyak yang belum mengetahui apa itu vasektomi, metodenya seperti apa, seberapa bagusnya,” kata Raymon Nadeak.
Upaya Peningkatan Akses dan Layanan Vasektomi
Untuk mengatasi rendahnya kesertaan KB pria, BKKBN melakukan analisis mendalam yang mengidentifikasi tiga area perbaikan krusial: sisi permintaan atau kebutuhan masyarakat, sisi pasokan layanan, dan tata kelola program. Aspek permintaan sangat dipengaruhi oleh mitos dan penolakan dari berbagai pihak, termasuk tokoh agama.
Salah satu kendala utama dari sisi pasokan adalah ketersediaan tenaga medis yang kompeten untuk melakukan vasektomi. Saat ini, kompetensi vasektomi secara standar profesi hanya dimiliki oleh dokter spesialis urologi dan dokter spesialis bedah, yang jumlahnya terbatas dan terkonsentrasi di kota-kota besar.
Menanggapi hal ini, Kemendukbangga/BKKBN berkolaborasi dengan Dana Kependudukan Dunia (UNFPA) serta Kementerian Kesehatan untuk melatih dokter umum agar mampu menyediakan layanan vasektomi. Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan KB pria hingga ke daerah-daerah yang lebih terpencil.
Namun, upaya peningkatan kompetensi dokter umum ini juga menghadapi tantangan besar, termasuk kebutuhan anggaran yang substansial. Selain itu, dokter yang dilatih memerlukan akseptor yang cukup untuk mempraktikkan keterampilan mereka, memastikan mereka berani dan mahir dalam melakukan prosedur di tempat kerja masing-masing.
Peran Regulasi dan Kolaborasi Internasional
Tantangan lain yang dihadapi dalam program KB pria adalah adanya regulasi yang masih berbenturan dan tidak sinkron. Raymon Nadeak menyoroti bahwa banyak peraturan di tingkat kabupaten, kota, provinsi, dan pusat yang belum selaras, menghambat implementasi program secara efektif dan komprehensif.
Dalam upaya meningkatkan kesertaan ber-KB bagi pria, UNFPA secara aktif mendorong dan memfasilitasi keterlibatan laki-laki melalui berbagai program dan strategi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Organisasi ini berperan penting dalam mengadvokasi peran aktif pria dalam pengambilan keputusan terkait keluarga berencana dan penggunaan kontrasepsi.
Mengikutsertakan laki-laki secara aktif dalam program KB merupakan langkah strategis untuk mempromosikan kesetaraan gender dan menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam keluarga. Hal ini juga sejalan dengan visi pembangunan keluarga yang holistik dan inklusif.
Di Indonesia, UNFPA bekerja sama erat dengan pemerintah, Kementerian Kesehatan, dan BKKBN untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan keluarga berencana bagi laki-laki. Fokus utama kolaborasi ini adalah pada metode vasektomi tanpa pisau, yang diharapkan dapat menjadi pilihan yang lebih mudah diakses dan diterima oleh para pria.
Sumber: AntaraNews