Trivia Keamanan Siber: Mengabaikan Peretasan Portal Pemerintah Buka Celah Baru, BSSN Ingatkan Ancaman Zero Day Attack
Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi mengingatkan bahwa mengabaikan peretasan portal pemerintah membuka celah kerentanan baru, termasuk Zero Day Attack, bagi keamanan siber pemerintah.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) RI memberikan peringatan serius terkait potensi bahaya mengabaikan insiden peretasan pada situs dan portal pemerintahan. Kepala BSSN RI Letjen TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi menegaskan bahwa sikap abai tersebut dapat membuka celah kerentanan baru yang sangat berbahaya bagi sistem keamanan siber nasional.
Peringatan ini disampaikan Nugroho dalam acara Rapat Kerja Daerah (Rakerda) dan Komdiphoria 2025 Diskominfo se-Kalimantan Selatan yang berlangsung di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Kamis (26/9). Ia menyoroti pentingnya kewaspadaan tinggi dalam menjaga data-data rahasia negara dari berbagai upaya peretasan.
Menurut Nugroho, kerentanan siber akan selalu ada, baik dari pihak asing maupun dalam negeri, yang terus berupaya mengakses data penting. Oleh karena itu, mitigasi setiap peretasan dan perhitungan risiko ke depan menjadi kunci utama untuk menutup celah kerentanan baru, menjaga keamanan siber pemerintah.
Ancaman Kerentanan Siber yang Terus Mengintai
Nugroho Sulistyo Budi menekankan bahwa standar keamanan data yang diabaikan akan memicu munculnya berbagai serangan siber baru. "Kalau abai dengan standar keamanan data, kerentanan baru akan muncul berbagai serangan siber," kata Nugroho, menyoroti urgensi penanganan serius terhadap setiap insiden.
Ancaman kerentanan ini, menurutnya, tidak akan pernah berhenti dan memerlukan perhatian berkelanjutan. Baik aktor dari luar negeri maupun dari dalam negeri secara konstan mencari celah untuk mengakses data-data penting negara, mengancam keamanan siber pemerintah.
Oleh karena itu, BSSN menggarisbawahi pentingnya mitigasi setiap peretasan yang terjadi. Langkah ini harus diikuti dengan kalkulasi potensi risiko di masa mendatang. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa celah kerentanan yang baru tidak akan terbuka, menjaga integritas data pemerintah.
Mengenal Lebih Dekat Zero Day Attack
Salah satu ancaman siber yang disoroti oleh Kepala BSSN adalah Zero Day Attack. Jenis serangan ini memanfaatkan kerentanan (vulnerability) dalam perangkat keras atau lunak yang belum diketahui oleh pengembang sistem. Serangan ini sangat berbahaya karena tidak ada patch atau perbaikan yang tersedia saat serangan pertama kali terjadi.
Nugroho menjelaskan bahwa kerentanan untuk serangan siber jenis ini seringkali tidak ditemukan saat sistem dibangun. Kerentanan tersebut baru dapat diidentifikasi oleh pihak-pihak yang memang memiliki keahlian khusus dalam meneliti sistem secara mendalam. Ini menunjukkan kompleksitas dan sifat tersembunyi dari ancaman tersebut.
Begitu kerentanan Zero Day ditemukan, para peretas akan segera menjadikannya celah untuk menyerang sistem dan aplikasi. "Serangan siber ini begitu ditemukan, dijadikan celah menyerang sistem dan aplikasi," ungkap Nugroho, menegaskan kecepatan eksploitasi kerentanan semacam ini.
Strategi Mitigasi dan Sinergi untuk Keamanan Siber Nasional
Dalam menghadapi beragam ancaman serangan siber yang terus berkembang, BSSN menyarankan langkah-langkah mitigasi yang cermat dan terstruktur. Nugroho mengatakan bahwa perlu langkah hati-hati dengan terlebih dahulu mengisolasi kerentanan yang ditemukan.
Setelah isolasi, langkah selanjutnya adalah menguji jalur kerentanan tersebut untuk mengetahui sejauh mana ia dapat mengakses sumber data. Proses ini krusial untuk memahami skala potensi kerusakan dan merancang solusi yang efektif demi keamanan siber pemerintah.
Nugroho menambahkan bahwa tidak semua sistem serangan siber akan langsung terlihat di rubrik BSSN karena adanya sistem backup, data center, dan penghubung. Oleh karena itu, semua komponen harus diuji secara menyeluruh, mulai dari tahap awal hingga seterusnya, untuk memastikan tidak ada celah yang terlewat. "Jadi jangan abai dengan peretasan. Yang pasti kami di BSSN selalu monitor celah kerentanan," tegas Nugroho, menyoroti peran aktif BSSN.
BSSN juga terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait lainnya. Sinergi ini bertujuan untuk memitigasi potensi kerentanan serangan siber terhadap situs-situs pemerintah. Upaya kolektif ini penting untuk membangun pertahanan siber nasional yang kokoh dan terkoordinasi.
Sumber: AntaraNews