Tragis, Bocah SD di Muratara jadi Korban Bully Siswa SMP hingga Dilarikan ke RS
Kasus perundungan itu viral setelah videonya viral di media sosial.
Kasus perundungan yang melibatkan anak di bawah umur kembali terjadi di Sumatra Selatan. Kali ini dialami seorang bocah SD inisial RS (11) yang dikeroyok sejumlah siswa SMP.
Kasus perundungan itu viral setelah videonya viral di media sosial. Belakangan diketahui peristiwa itu terjadi di sekitar lingkungan sekolah di Desa Sungai Lanang, Rawas Ulu, Musi Rawas Utara (Muratara), Selasa (2/6).
Dalam video berdurasi sekitar satu menit itu, korban dikeroyok beberapa pelaku yang merupakan teman main. Salah seorang pelaku memiting leher korban dan pelaku lain memukuli dan menendangi korban berkali-kali.
Pukulan dan tendangan pelaku nyaris semuanya mengenai kepala korban. Korban tak bisa melawan sedikit pun ketika menjadi bulan-bulanan para pelaku.
Seseorang mendekat untuk melerai. Namun korban kembali mendapat serangan dari pelaku lain.
Korban menangis sejadinya karena merasakan sakit. Para pelaku memilih menghindar sambil memaki korban. Saat perundungan terjadi, perekam video melarang anak-anak lain untuk melerai. Alhasil mereka hanya menyaksikan korban dipukuli dan ditendang oleh para pelaku.
"Korban adalah siswa SD dan para pelaku dikabarkan siswa SMP. Kejadiannya di lingkungan sekolah, tapi bukan jam belajar," ungkap Kapolsek Rawas Ulu Iptu Hari Soeharto, Jumat (12/6).
Keluarga Belum Buat Laporan
Hari mengatakan, keluarga belum membuat laporan resmi ke kepolisian karena masih fokus dalam perawatan korban. Sebab usai kejadian korban mengeluhkan sakit kepala hebat dan di bagian telinga.
"Kemarin korban dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan CT scan karena sering mengeluhkan sakit kepala dan telinga berdengung," kata Hari.
Hari mengatakan, pihaknya akan memproses kasus ini jika keluarga resmi membuat laporan. Namun pemerintah desa setempat masih berusaha memfasilitasi masing-masing keluarga untuk mediasi tetapi belum ada kesepakatan karena keluarga korban menolaknya.
"Kami sudah komunikasi dengan keluarga korban, mereka masih fokus mengobati korban, belum ada rencana lain," tutup Hari.