Tolak Eksploitasi Alam, Gema Bangsa Ingatkan Pentingnya Keadilan Ekologis
Komitmen tersebut tertuang dalam Resolusi Gema Bangsa yang diposisikan sebagai kompas moral dan politik.
Partai Gema Bangsa menegaskan komitmennya menolak eksploitasi alam dan mendorong keadilan ekologis sebagai pijakan ideologis menyongsong Tahun 2026. Komitmen tersebut tertuang dalam Resolusi Gema Bangsa yang diposisikan sebagai kompas moral dan politik bagi seluruh elemen partai dalam mengonsolidasikan kekuatan menuju deklarasi resmi dan agenda strategis ke depan.
Ketua Umum Partai Gema Bangsa Ahmad Rofiq mengatakan, resolusi tersebut bukan sekadar dokumen politik, melainkan panggilan moral untuk mengembalikan politik pada tujuan dasarnya, yakni menjaga kehidupan.
"Resolusi ini bukan sekadar pernyataan politik. Ia adalah panggilan moral. Sebuah ajakan untuk kembali pada akar, sekaligus melompat ke masa depan dengan cara yang lebih bijaksana," ujar Rofiq dalam keterangannya, Jumat (26/12) di Jakarta.
Jantung Kehidupan Bangsa
Dalam resolusinya, Gema Bangsa memandang desa bukan sebagai wilayah pinggiran, melainkan jantung kehidupan bangsa. Desa dinilai masih menyimpan relasi yang relatif utuh antara manusia dan alam, sekaligus menjadi pusat produksi pangan, pelestarian budaya, dan kemandirian sosial. Perspektif tersebut kemudian diterjemahkan dalam paradigma desentralisasi yang menempatkan aspirasi lokal sebagai episentrum pergerakan partai.
Rofiq menegaskan, Gema Bangsa menjunjung tinggi demokrasi internal dengan menempatkan kedaulatan gagasan yang berakar dari daerah. Mekanisme pengambilan keputusan dilakukan dari bawah, dengan memberikan otonomi strategis kepada setiap struktur wilayah agar mampu mengelola organisasi sesuai karakteristik sosiokultural setempat.
"Bagi kami, desentralisasi bukan sekadar pilihan manajerial, melainkan penghormatan fundamental terhadap pluralitas identitas Indonesia," ujarnya.
Menempatkan Diskursus
Lebih lanjut, Gema Bangsa menempatkan diskursus “Indonesia Hijau” sebagai doktrin strategis perjuangan politik menuju 2026. Partai ini menegaskan komitmen menjaga integritas ekosistem dan secara tegas menolak segala bentuk eksploitasi alam yang mengabaikan keselamatan rakyat. Melalui paradigma pembangunan berkeadilan ekologis, kelestarian lingkungan dipandang sebagai fondasi mutlak kesejahteraan jangka panjang.
“Bagi kami, kedaulatan bangsa dan keadilan sosial hanya dapat dicapai di atas bumi yang sehat dan terjaga,” tegas Rofiq. Ia menambahkan, politik hijau bukanlah sikap anti-pertumbuhan, melainkan upaya menempatkan pertumbuhan dalam kerangka keseimbangan antara kemajuan ekonomi, perlindungan lingkungan, penguatan komunitas lokal, dan distribusi keadilan.
Resolusi Indonesia Hijau, lanjut Rofiq, menjadi pilihan strategis di tengah kondisi alam yang kian tidak menentu. Upaya tersebut sekaligus dimaksudkan untuk mengembalikan politik ke fungsinya yang paling mendasar, yakni menjaga kehidupan lintas generasi. Dalam perspektif Gema Bangsa, hijau menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa.
Resolusi tersebut disusun di atas fondasi 12 prinsip kemandirian Gema Bangsa yang saling terkait, mulai dari kemandirian pangan, energi, ekonomi rakyat, desa, budaya, hingga teknologi. Rofiq mencontohkan, kemandirian pangan tidak berhenti pada swasembada beras, melainkan menuntut keberanian menghidupkan kembali keragaman pangan lokal, melindungi petani kecil, serta menata sistem distribusi yang adil.
Menekankan Pentingnya Keterlibatan Generasi Muda
Selain itu, Gema Bangsa menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam agenda masa depan. Menurut Rofiq, anak muda adalah kelompok yang paling terdampak krisis lingkungan, namun kerap terpinggirkan dari ruang pengambilan keputusan. Karena itu, Gema Bangsa memandang generasi muda sebagai subjek perubahan, bukan sekadar objek mobilisasi politik.
“Hijau yang diimpikan bukan nostalgia romantik, melainkan visi realistis tentang masa depan yang layak diwariskan,” ujarnya. Gema Bangsa juga menempatkan generasi muda sebagai fondasi kepemimpinan dengan menekankan pentingnya kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial dalam menjalankan kekuasaan.
Di sisi lain, Gema Bangsa meneguhkan posisinya sebagai garda terdepan dalam mendorong tata kelola pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi. Integritas, transparansi, dan akuntabilitas dipandang sebagai imperatif moral yang harus diinternalisasi melalui pengembangan kader yang beretika dan berani bersikap jujur.
"Korupsi adalah anomali pembangunan yang secara sistemik menghambat kemajuan dan kemandirian bangsa," kata Rofiq.
Adapun deklarasi Partai Gema Bangsa dijadwalkan berlangsung pada 17 Januari 2026 dan diproyeksikan menjadi tonggak formal perjuangan politik partai. Menjelang deklarasi tersebut, fokus utama diarahkan pada penguatan infrastruktur organisasi serta integrasi visi, misi, dan platform strategis di seluruh jenjang kepengurusan.
"Mandiri di Negeri Sendiri. Gema Bangsa untuk Indonesia," katanya.