Tim Riset UB Desak Pemerintah Perkuat Mitigasi Mikroplastik Demi Kesehatan Masyarakat
Tim peneliti dari Universitas Brawijaya (UB) mendesak pemerintah untuk serius meningkatkan upaya mitigasi mikroplastik, mengingat temuan partikel berbahaya ini dari mata air hingga pesisir pantai yang berpotensi mengancam kesehatan.
Tim Riset Penelitian Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya (UB) di Kota Malang, Jawa Timur, mendesak pemerintah agar segera meningkatkan langkah mitigasi untuk meminimalkan keberadaan mikroplastik. Peringatan ini disampaikan setelah tim menemukan partikel mikroplastik di berbagai lokasi, mulai dari sumber mata air hingga area pantai. Upaya ini menjadi krusial demi melindungi konsumen serta kelestarian lingkungan dari ancaman pencemaran.
Ketua Riset Penelitian Studi Pesisir dan Kelautan UB, Prof. Andi Kurniawan, menjelaskan bahwa langkah perlindungan konsumen harus menjadi prioritas utama. Hal ini termasuk pengecekan standar botol air kemasan dan air yang dikonsumsi masyarakat secara berkala. Penelitian yang dilakukan Prof. Andi bersama timnya berfokus pada wilayah Malang Raya hingga area muara Sungai Brantas di Kabupaten Sidoarjo.
Selain perlindungan konsumen, pemerintah juga diminta untuk mengawasi ketat kelestarian lingkungan, khususnya dari potensi masuknya bahan tercemar ke aliran sungai. Kementerian Kesehatan juga didorong untuk menstimulus penelitian lebih lanjut mengenai hubungan mikroplastik dan kesehatan. Ini adalah langkah antisipasi dini meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan baku mutu khusus.
Temuan Mikroplastik dari Hulu ke Hilir
Penelitian yang dilakukan oleh tim UB menunjukkan bahwa keberadaan mikroplastik telah menyebar luas di lingkungan. Partikel-partikel ini ditemukan mulai dari sumber mata air di pegunungan hingga mencapai area pesisir pantai. Temuan ini menjadi indikasi serius bahwa pencemaran mikroplastik sudah merata di berbagai ekosistem air.
Di wilayah Malang Raya, hasil penelitian menunjukkan kandungan partikel mikroplastik yang relatif kecil, berkisar antara 4 hingga 8 partikel per liter. Namun, jumlah ini meningkat drastis saat mencapai area pantai. Rata-rata partikel mikroplastik di pantai dapat mencapai 40 hingga 45 partikel per liter, menunjukkan akumulasi yang signifikan.
Prof. Andi Kurniawan menjelaskan bahwa mikroplastik di sumber mata air sangat mungkin terjadi karena senyawa serupa juga ditemukan dalam air hujan. Partikel berukuran nano ini dapat terperangkap di atmosfer dan kemudian turun bersamaan dengan hujan. Proses ini juga berkontribusi pada pengisian ulang air tanah di puncak gunung, sehingga rasional jika ditemukan kandungan mikroplastik di sana.
Keberadaan mikroplastik ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia dan industri. Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik akan terurai menjadi partikel-partikel kecil. Partikel-partikel ini kemudian menyebar melalui udara dan air, mencemari lingkungan secara luas.
Urgensi Mitigasi dan Dampak Kesehatan Mikroplastik
Prof. Andi Kurniawan menekankan tiga alasan utama mengapa mikroplastik harus menjadi konsentrasi mitigasi pemerintah. Pertama, sifat pencemaran mikroplastik yang lambat seringkali baru diketahui setelah dampaknya menjadi signifikan. Hal ini membuat deteksi dini dan penanganan menjadi lebih sulit.
Kedua, mikroplastik memiliki sifat terakumulasi sepanjang tahun, artinya jumlahnya terus bertambah di lingkungan. Akumulasi ini meningkatkan risiko paparan dan dampak negatif jangka panjang. Ketiga, dampak distribusinya tidak hanya terbatas pada pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi serius terhadap kesehatan masyarakat.
Mikroplastik dapat masuk ke dalam sistem tubuh manusia melalui berbagai jalur. Prof. Andi menyebutkan bahwa partikel ini bisa masuk ke sistem hormon dan sistem pembuluh darah, berpotensi menjadi plak bersama kolesterol. Selain itu, mikroplastik juga dapat masuk ke sistem pernapasan dan mencapai paru-paru, menimbulkan risiko kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami.
Oleh karena itu, upaya mitigasi yang komprehensif sangat diperlukan. Perlindungan konsumen melalui pengecekan standar produk dan pengawasan lingkungan terhadap sumber pencemaran harus diperkuat. Stimulus penelitian lebih lanjut juga penting untuk memahami secara mendalam dampak mikroplastik pada kesehatan dan menemukan solusi efektif.
Sumber: AntaraNews