Tahukah Anda, PPOK Diperkirakan Serang 4,8 Juta Orang di Indonesia? Pemkot Kediri Komitmen Tekan Kasus PPOK
Pemerintah Kota Kediri serius menekan kasus PPOK dan asma dengan memperkuat layanan puskesmas. Langkah ini penting mengingat PPOK diperkirakan menyerang jutaan warga.
Pemerintah Kota Kediri menunjukkan komitmen kuat dalam upaya menekan angka kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan asma. Langkah ini diambil melalui optimalisasi layanan kesehatan di tingkat puskesmas.
Komitmen ini disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, Fahmi Adi Priyantoro, di Kediri pada Selasa (04/11). Inisiatif ini bertujuan memastikan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) mampu memberikan pelayanan prima.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana menjadi fokus utama. Tujuannya adalah untuk menangani penyakit pernapasan yang semakin kompleks, termasuk PPOK yang prevalensinya tinggi.
Peningkatan Kapasitas Tenaga Medis di Puskesmas
Dinas Kesehatan Kota Kediri menyelenggarakan kegiatan On The Job Training (OJT) Pengendalian PPOK dan asma. Pelatihan ini diikuti oleh 40 tenaga medis dari berbagai puskesmas se-Kota Kediri. Mereka terdiri dari dokter, perawat, dan petugas puskesmas.
Fahmi Adi Priyantoro menjelaskan bahwa OJT ini merupakan upaya konkret. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas petugas puskesmas. Mereka akan mendapatkan ilmu dari narasumber ahli di bidangnya.
“Kegiatan OJT ini terkait penanganan PPOK dan asma merupakan upaya meningkatkan kapasitas petugas puskesmas agar mendapatkan ilmu dari narasumber yang ahli di bidangnya," kata dia.
Narasumber yang dihadirkan meliputi dr Nur Prasetyo Nugroho yang membahas pencegahan PPOK. Ada juga dr Caesar Ensang Timuda yang fokus pada pendekatan praktis kesehatan paru dan asma dewasa. Sementara itu, dr Renyta Ika Damayanti memberikan materi tentang pengendalian asma pada anak.
Fokus pada Promotif, Preventif, dan Kebijakan Baru
Puskesmas diharapkan tidak hanya mengobati, tetapi juga fokus pada upaya promotif dan preventif. Ini meliputi edukasi kepada masyarakat terkait PPOK dan asma. Pencegahan menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus.
Fahmi menyoroti kebijakan terbaru terkait 144 diagnosa penyakit. Penyakit-penyakit tersebut, termasuk PPOK, kini harus ditangani di FKTP terlebih dahulu. Hal ini menuntut puskesmas untuk menyiapkan sarana prasarana dan SDM yang kompeten.
“Ditambah lagi dengan kebijakan terbaru terkait 144 diagnosa yakni penyakit-penyakit tersebut harus ditangani di FKTP terlebih dahulu, di antaranya PPOK. Berarti puskesmas harus menyiapkan sarana prasarana dan SDM yang kompeten,” kata dia.
Penyakit saluran pernapasan yang kerap ditangani di puskesmas sangat beragam. Contohnya adalah tuberkulosis (TB), asma, penyakit paru-paru kronis, dan bronkopneumonia. Diagnosis yang akurat untuk penyakit-penyakit ini membutuhkan ketelitian dan keahlian khusus.
Bahaya Rokok dan Program Pencegahan PPOK
Data dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) pada 2023 sangat mengkhawatirkan. Diperkirakan jumlah penderita PPOK di Indonesia mencapai 4,8 juta jiwa. Prevalensi ini menunjukkan angka 5,6 persen dari total populasi.
Selain peningkatan SDM, Dinas Kesehatan Kota Kediri juga gencar melakukan program pencegahan. Salah satunya adalah upaya berhenti merokok (UBM). Program ini penting karena PPOK lebih banyak disebabkan oleh asap rokok.
“PPOK lebih banyak disebabkan karena asap rokok karena kandungan zat-zat berbahaya bagi kesehatan, tidak hanya perokok aktif tapi perokok pasif lebih berpotensi terkena PPOK,” ujarnya.
Asap rokok mengandung zat-zat berbahaya yang merusak kesehatan paru-paru. Tidak hanya perokok aktif, perokok pasif juga berpotensi tinggi terkena PPOK. Sosialisasi untuk mengatasi kecanduan nikotin dan gejala putus nikotin terus digalakkan.
Fahmi berharap kegiatan OJT ini dapat memberikan dampak positif. Para peserta diharapkan dapat menyerap ilmu sebaik mungkin. Pengetahuan yang diperoleh harus diaplikasikan di puskesmas masing-masing untuk pelayanan optimal.
Sumber: AntaraNews