Suasana Haru Selimuti Pemakaman Kopilot Smart Air Tewas di Papua
Kopilot Smart Air, Kapten Baskoro Adi Anggoro, dimakamkan di Jakarta Timur setelah tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata di Papua, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat.
Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Kopilot Smart Air, Kapten Baskoro Adi Anggoro, pada Jumat sore di Jakarta Timur. Anggoro gugur setelah ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) usai mendarat di Lapangan Terbang Korowai, Papua. Keluarga, kerabat, dan rekan kerja tak kuasa menahan tangis saat jenazah almarhum dikebumikan.
Isak tangis semakin pecah ketika peti jenazah Kapten Anggoro dibawa dari rumah duka menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Duren Sawit. Prosesi pemakaman yang berlangsung sekitar pukul 15.26 WIB itu berlangsung khidmat di bawah langit yang mendung. Kepergian mendiang meninggalkan luka mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
Upacara pemakaman diawali dengan kebaktian singkat di gereja, mengundang para pelayat untuk menguatkan iman dan menyerahkan kepergian Anggoro kepada Tuhan. Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas hidupnya dan untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang berduka. Lagu-lagu pujian menggema di area pemakaman, mengiringi pelukan erat kerabat yang berusaha menahan air mata, mengenang kebaikan dan dedikasi almarhum.
Kronologi Penembakan Kopilot Smart Air
Insiden tragis yang merenggut nyawa Kapten Baskoro Adi Anggoro terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, sekitar pukul 11.00 WIT. Saat itu, pesawat Smart Air dengan nomor registrasi PK-SNR yang dipiloti Egon dan kopilot Anggoro baru saja mendarat di Lapangan Terbang Korowai. Pesawat tersebut sebelumnya terbang dari Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, dan membawa sejumlah penumpang.
Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Faizal Rahmadani, menjelaskan bahwa pesawat tersebut langsung mendapat serangan tembakan dari kelompok kriminal bersenjata sesaat setelah mendarat. Tembakan tersebut mengenai Kapten Anggoro, yang menyebabkan luka fatal. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan KKB di wilayah Papua, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan penerbangan di daerah terpencil.
Penembakan ini menjadi sorotan serius terkait keamanan penerbangan perintis di wilayah Papua. Insiden serupa bukan kali pertama terjadi, menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh pilot dan kopilot yang bertugas di daerah rawan konflik. Pihak berwenang terus berupaya untuk meningkatkan keamanan dan menindak tegas kelompok-kelompok bersenjata yang mengganggu stabilitas di Papua.
Duka Mendalam Keluarga dan Rekan Kerja
Saat peti jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat, tangisan duka semakin menjadi. Pemimpin kebaktian memanjatkan doa terakhir, memohon agar almarhum Anggoro diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan. Satu per satu kerabat kemudian menaburkan bunga dan tanah di atas makam sebagai tanda perpisahan terakhir.
Ibunda almarhum, Triyana, dengan suara bergetar menyampaikan pesan terakhir. “Baskoro Adi Anggoro kesayanganku, kita berpisah di sini dan akan bertemu lagi di surga. Aku mencintaimu,” ucapnya penuh haru. Ayah almarhum, Isbranto, juga berbisik lembut, “Selamat jalan, sayangku.”
Nenek Kapten Anggoro tak kuasa menahan kesedihan. “Selamat jalan, cucuku. Tersenyumlah di sana. Nenek tidak bisa menciummu,” katanya dengan suara bergetar. Ungkapan duka cita dari keluarga ini menggambarkan betapa besar kehilangan yang mereka rasakan atas kepergian Kapten Baskoro Adi Anggoro yang mendadak dan tragis.
Sumber: AntaraNews