Jakarta, 13 Februari – Keluarga kopilot pesawat Smart Air, Capt. Baskoro Adi Anggoro, yang gugur ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat mendarat di Bandara Korowai, Papua, menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka menyoroti lemahnya aspek pengamanan di bandara tersebut, yang dinilai menjadi salah satu faktor penyebab tragedi.
Paman korban, Doni (56), menegaskan bahwa insiden tragis ini harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah. Evaluasi komprehensif terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan, khususnya di wilayah rawan, menjadi sebuah keharusan yang tak bisa ditunda lagi.
Keluarga berharap pemerintah tidak menganggap remeh kejadian ini dan segera mengambil langkah konkret. Perbaikan sistem keamanan penerbangan secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, sangat dibutuhkan untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Advertisement
Advertisement
Doni, paman almarhum, mengungkapkan bahwa orang tua Baskoro sempat merasa ragu dan khawatir sebelum keberangkatan menjalankan tugas. Kekhawatiran ini muncul karena Bandara Korowai dikenal memiliki tingkat keamanan yang terbatas dan sering menjadi sasaran kelompok bersenjata.
Meskipun demikian, Baskoro meyakinkan orang tuanya bahwa kondisi aman, mungkin untuk meredakan kekhawatiran mereka. Almarhum sendiri baru lima hari menjalani penugasan di Papua, suatu wilayah yang jarang ia terbangi selama lima tahun kariernya sebagai pilot.
Penugasan ke Papua ini juga disebut datang secara mendadak, bahkan setelah Baskoro baru saja menjalani perawatan medis. Keluarga pertama kali menerima kabar insiden dari kerabat yang merupakan senior Baskoro dan berada dalam penerbangan yang sama, awalnya berharap adanya pertolongan sebelum akhirnya mendapat kabar duka.
Advertisement
Advertisement
Keluarga menilai insiden yang menimpa Baskoro menunjukkan masih lemahnya sistem pengamanan penerbangan sipil di wilayah tertentu, khususnya di Papua. Doni menegaskan bahwa pengamanan bandara dan jalur penerbangan seharusnya menjadi tanggung jawab negara, terutama jika menyangkut keselamatan awak pesawat dan penumpang.
“Bandara itu mestinya dijaga. Kalau tidak ada pengamanan, ini bandara apa? Penerbangan sipil harusnya dilindungi,” tegas Doni. Ia berharap pemerintah tidak menganggap peristiwa itu sebagai kejadian biasa, melainkan sebagai pengingat untuk memperbaiki sistem keamanan penerbangan secara menyeluruh.
Meskipun pihak maskapai Smart Aviation telah menemui keluarga untuk menyampaikan belasungkawa, keluarga mengaku belum mendapatkan penjelasan rinci. Mereka menginginkan penjelasan resmi mengenai aspek pengamanan dan evaluasi prosedur keselamatan dari pihak perusahaan maupun pemerintah, serta memastikan perbaikan sistem keamanan di wilayah rawan.
Advertisement
Advertisement
Di mata keluarga, Baskoro Adi Anggoro dikenal sebagai sosok yang humoris dan memiliki semangat tinggi dalam mengejar cita-citanya sebagai pilot. Sejak muda, almarhum memang bercita-cita mengabdikan diri di dunia penerbangan.
“Dari dulu, dia memang mau jadi pilot. Orangnya juga ceria, suka bercanda,” kenang Doni. Semangat dan keceriaannya akan selalu menjadi kenangan manis bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.
Advertisement
Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman kopilot pesawat Smart Air Capt. Baskoro Adi Anggoro yang tewas ditembak KKB. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Jumat pukul 15.26 WIB.
Isak tangis keluarga, kerabat, dan rekan sejawat pecah mengiringi kepergian almarhum. Upacara diawali dengan ibadah singkat, di mana seluruh hadirin diajak untuk menguatkan iman dan menyerahkan kepergian almarhum kepada Tuhan.
Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas kehidupan almarhum sekaligus permohonan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Sejumlah lagu rohani dikumandangkan, mengiringi suasana haru, dan keluarga terlihat saling berpelukan.
Advertisement
Tangis semakin pecah ketika peti jenazah perlahan diangkat dan dimasukkan ke liang lahat. Setelah itu, keluarga secara bergantian menaburkan bunga dan tanah sebagai tanda perpisahan terakhir. “Kesayangan mamah, Baskoro Adi Anggoro, kita berpisah di sini, kita bertemu nanti di surga, I love you,” kata Ibu Baskoro, Triyana, diikuti ucapan perpisahan dari ayah dan neneknya.
Sumber: AntaraNews