Situasi Rafah: Uang, Ancaman, dan Pelecehan Warnai Kepulangan Warga Gaza
Kepulangan warga Palestina ke Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah diwarnai interogasi, penahanan, hingga tawaran uang dari Israel, memperburuk situasi Rafah yang sudah rentan.
Istanbul, 14 Februari 2026 – Proses kepulangan warga Palestina ke Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah di perbatasan Mesir dilaporkan diwarnai interogasi, penahanan, dan perlakuan merendahkan dari pihak Israel. Kesaksian warga dan laporan lembaga hak asasi manusia setempat mengungkapkan adanya tawaran uang agar warga tidak kembali atau diminta bekerja sama dengan tentara Israel.
Pembukaan kembali perlintasan Rafah sisi Palestina sejak 2 Februari, setelah ditutup sejak Mei 2024, dilakukan secara sangat terbatas dan dengan syarat yang ketat. Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat bahwa hanya 488 dari 1.800 pelaku perjalanan yang berhasil melintas secara dua arah hingga Selasa (10/2), menunjukkan kepatuhan Israel hanya sekitar 27 persen dari perjanjian yang ditetapkan.
Sebanyak 275 orang diizinkan keluar dari Gaza dan 213 orang masuk ke Gaza, sementara 26 pelaku perjalanan ditolak izinnya untuk meninggalkan Gaza menuju Mesir pada periode yang sama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai hak asasi manusia dan kebebasan bergerak warga Palestina di tengah konflik yang berkepanjangan.
Pembatasan Ketat dan Pelanggaran Hak Asasi
Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia di wilayah pendudukan pada 5 Februari melaporkan adanya pola kekerasan dan interogasi yang merendahkan. Warga yang kembali ke Gaza mengaku dibawa oleh milisi bersenjata Palestina yang didukung tentara Israel, diidentifikasi sebagai anggota milisi Abu Shabab, ke pos pemeriksaan militer Israel.
Di lokasi tersebut, sebagian dari mereka diborgol, ditutup matanya, digeledah, diancam, dan barang pribadi mereka disita. Laporan ini juga menyebutkan penolakan akses bagi orang-orang yang membutuhkan perawatan medis, termasuk ke toilet, yang menyebabkan penghinaan berat.
Beberapa warga yang hendak masuk Gaza juga mengaku ditanya kesediaan mereka menerima uang untuk kembali ke Mesir bersama keluarga dan tidak pernah kembali ke Gaza. Ada pula yang ditawari uang untuk menjadi informan bagi tentara Israel, yang menunjukkan upaya koersif untuk menghalangi kepulangan mereka.
Dukungan Israel untuk Milisi Lokal
Laporan dari lembaga penyiaran publik Israel KAN pada 5 Februari mengungkapkan bahwa otoritas Israel mengizinkan anggota milisi Abu Shabab terlibat dalam pemeriksaan warga Palestina di Rafah. Sehari kemudian, surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Israel secara diam-diam mendukung milisi bersenjata di Gaza dengan dana, senjata, dan perlindungan lapangan untuk melawan Hamas.
Milisi ini digunakan tentara Israel untuk tugas taktis terbatas, termasuk operasi pengejaran dan penangkapan serta pencarian pejuang Hamas di terowongan atau di antara puing-puing bangunan. Praktik ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang adanya langkah koersif untuk menghalangi warga Palestina menggunakan hak mereka kembali ke wilayah asal setelah dipaksa mengungsi.
Kepala kantor HAM PBB di wilayah pendudukan Palestina, Ajith Sunghay, menekankan tanggung jawab komunitas internasional untuk memastikan semua langkah terkait Gaza mematuhi hukum internasional. Ia menyatakan bahwa kemampuan warga untuk kembali dengan aman dan bermartabat ke keluarga dan sisa-sisa rumah mereka adalah hal yang paling mendasar.
Seruan Internasional dan Kesaksian Warga
Menanggapi laporan tersebut, dua organisasi HAM Israel, Adalah dan Gisha, menyerukan penghentian kebijakan yang mereka sebut sebagai penyalahgunaan dan pembatasan tidak sah terhadap warga Gaza yang ingin kembali melalui Rafah. Mereka memperingatkan bahwa langkah tersebut setara dengan pemindahan paksa.
Organisasi-organisasi ini telah mengirim surat mendesak kepada kepala pertahanan Israel Katz, Jaksa Agung Gali Baharav-Miara, dan kejaksaan militer, menuntut penghentian segera kebijakan pembatasan dan perlakuan tidak sah. Kesaksian yang dikumpulkan, termasuk dari warga lanjut usia dan anak-anak, menggambarkan interogasi keras oleh militer Israel, namun menegaskan tekad warga untuk tetap tinggal di tanah mereka.
Video yang beredar menunjukkan kesaksian warga seperti Adel Imran, yang mengatakan pria bersenjata membuka pintu bus dan memindahkan penumpang ke kendaraan militer untuk digeledah sebelum diserahkan kepada pasukan Israel. Amani Imran menambahkan bahwa barang bawaan mereka disita dan tentara Israel memanggil penumpang satu per satu untuk difoto dan diinterogasi.
Seorang perempuan lanjut usia Palestina juga bersaksi diinterogasi selama tiga jam setelah kembali dari perjalanan medis. Ia menyebut bus dikepung kendaraan militer dan penumpang dipindahkan ke wilayah kendali Israel, kemudian diserahkan kepada unit antiteror yang dipimpin Ghassan al-Deheini, komandan milisi Abu Shabab.
Data Penting Terkait Situasi Rafah
Sumber: AntaraNews