Sekolah Ramadhan Inklusif di Gorontalo Ajarkan Al Quran Isyarat kepada Komunitas Tunarungu
Puluhan tunarungu di Gorontalo antusias mengikuti Sekolah Ramadhan Inklusif, belajar Al Quran isyarat hingga fikih. Program ini mengisi kekosongan edukasi Islam bagi disabilitas tuli.
Taman Pendidikan Al Quran Tuli Gorontalo, bersama Komunitas Rangkul Asa dan Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Gorontalo, sukses menyelenggarakan Sekolah Ramadhan Inklusif. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Al Muqarrabin, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, selama bulan suci Ramadhan. Program khusus ini bertujuan memberikan edukasi agama Islam bagi disabilitas tuli di wilayah tersebut.
Sebanyak 40 peserta tunarungu, baik anak-anak maupun dewasa, antusias mengikuti berbagai materi pembelajaran. Nabila Salsabila Robot, salah satu pengajar, menjelaskan bahwa kurikulum meliputi Al Quran isyarat, fikih wudu dan shalat, Rukun Islam, serta adab harian. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk membantu peserta memahami ajaran Islam secara komprehensif.
Inisiatif ini muncul dari pengamatan bahwa program keagamaan Islam di bulan Ramadhan masih minim yang menyasar komunitas tuli. Padahal, pemahaman mereka terhadap Islam seringkali masih terbatas. Oleh karena itu, Sekolah Ramadhan Inklusif hadir sebagai solusi untuk meningkatkan literasi dan praktik keagamaan bagi disabilitas tuli di Gorontalo.
Mengisi Kekosongan Edukasi Islam bagi Tunarungu
Nabila Salsabila Robot mengungkapkan bahwa ide awal penyelenggaraan Sekolah Ramadhan Inklusif ini bermula dari keprihatinan. Banyak program keagamaan semarak selama Ramadhan, namun sedikit yang secara spesifik menyentuh kebutuhan teman-teman tuli. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam akses pendidikan agama Islam yang inklusif.
"Ini program yang kami buat khusus di bulan Ramadhan, pesertanya adalah teman-teman disabilitas tuli atau yang dikenal dengan tunarungu," ujar Nabila. Ia menambahkan bahwa pemahaman disabilitas tuli terhadap ajaran Islam seringkali masih minim. Hal ini menjadi motivasi utama bagi penyelenggara untuk berinisiatif mengadakan kegiatan ini.
Melalui inisiatif Sekolah Ramadhan Inklusif, diharapkan dapat terwujud peningkatan pemahaman Islam yang signifikan. Program ini menjadi jembatan penting untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran agama. Fokus utamanya adalah pada metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tunarungu.
Kurikulum Adaptif untuk Berbagai Usia
Sekolah Ramadhan Inklusif membagi peserta tunarungu menjadi dua kelas utama, yaitu kelas dewasa dan kelas anak-anak. Pembagian ini dilakukan untuk memastikan materi yang disampaikan relevan dan mudah dicerna oleh masing-masing kelompok usia. Peserta berasal dari berbagai wilayah di sekitar Kota Gorontalo.
Untuk peserta dewasa, pembelajaran difokuskan pada peningkatan pemahaman Islam secara lebih mendalam. Sementara itu, untuk anak-anak, materi disajikan lebih sederhana. "Jadi pembelajarannya lebih sederhana," kata Nabila, merujuk pada kurikulum untuk anak-anak yang lebih menekankan pada Al Quran isyarat dan Rukun Islam.
Program inti yang telah berjalan selama dua pekan ini mencakup tiga rangkaian utama. Pertama adalah kelas khusus dewasa, kedua kelas khusus anak-anak tuli, dan ketiga adalah rangkaian penutupan. Rangkaian penutupan akan diisi dengan bincang inklusif, yang diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta.
Harapan untuk Inklusivitas Beragama
Kegiatan Sekolah Ramadhan Inklusif ini tidak hanya sekadar memberikan pelajaran agama, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya inklusivitas. Dengan adanya program seperti ini, komunitas tunarungu merasa lebih dihargai dan diakui dalam lingkungan keagamaan. Ini menjadi langkah positif menuju masyarakat yang lebih inklusif.
Para pengajar dan penyelenggara berharap bahwa program ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Peningkatan pemahaman Islam bagi disabilitas tuli merupakan investasi jangka panjang. Hal ini akan memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Antusiasme peserta tunarungu menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendidikan agama yang aksesibel sangat tinggi. Keberhasilan Sekolah Ramadhan Inklusif di Gorontalo menjadi bukti nyata bahwa dengan pendekatan yang tepat, hambatan komunikasi dapat diatasi. Ini membuka jalan bagi lebih banyak inisiatif serupa di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews