Sejarawan Ungkap Peran Vital Lima Tokoh Perempuan Kaltim dalam Membangun Peradaban
Sejarawan Publik Kaltim, Muhammad Sarip, membedah rekam jejak lima tokoh perempuan Kaltim yang memiliki kontribusi besar dalam peradaban dan kesadaran berbangsa. Kisah inspiratif mereka patut dikenang dan menjadi bagian penting sejarah lokal.
Seorang sejarawan publik dari Kalimantan Timur (Kaltim), Muhammad Sarip, baru-baru ini menyoroti peran krusial lima tokoh perempuan yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan peradaban di provinsi tersebut. Sarip mengungkapkan bahwa kelima sosok ini memiliki jejak rekam yang tak bisa dilupakan dalam sejarah Kaltim.
Tokoh-tokoh perempuan ini membuktikan kapasitas kepemimpinan, keberanian, dan andil yang luar biasa di berbagai bidang pada masanya masing-masing. Studi ini menekankan pentingnya mengakui peran perempuan dalam membentuk identitas dan kemajuan wilayah.
Penelitian Sarip ini bertujuan untuk mengangkat kembali kisah-kisah inspiratif para perempuan Kaltim yang seringkali terlupakan, sekaligus menggarisbawahi kontribusi mereka dalam menumbuhkan kesadaran berbangsa. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya narasi sejarah lokal dan nasional.
Pelopor Pendidikan dan Pengobar Nasionalisme
Di antara para srikandi Kaltim yang diulas, Aminah Syukur menonjol sebagai pelopor pendidikan bagi kaum perempuan pribumi. Pada tahun 1928, ia bersama suaminya mendirikan Meisje School, sebuah lembaga pendidikan khusus yang bertujuan membebaskan murid perempuan dari marginalisasi pendidikan di era kolonial.
Langkah berani Aminah Syukur ini membuka jalan bagi akses pendidikan yang lebih luas bagi perempuan, menjadi fondasi penting bagi kemajuan sosial. Inisiatifnya menunjukkan visi jauh ke depan dalam upaya mencerdaskan bangsa.
Pada era pergerakan kemerdekaan, semangat nasionalisme dikobarkan oleh Salbiah, seorang srikandi pengurus Rukun Pemuda Indonesia. Ia dengan gagah berani menyemarakkan semangat kebangsaan dalam Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan pada tahun 1948 di Barabai.
Peran Salbiah sangat vital dalam menyatukan pemuda dan membangkitkan kesadaran kolektif akan pentingnya kemerdekaan. Kontribusinya menjadi bukti nyata bahwa perempuan turut aktif dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Perintis Politik dan Dermawan Pendidikan
Dekade 1950-an menjadi saksi bisu kiprah Djumantan Hasyim, yang berhasil menembus dominasi birokrasi dan mencatatkan namanya sebagai legislator perempuan pertama di DPRD Kalimantan Timur. Kehadirannya menandai era baru partisipasi politik perempuan di tingkat daerah.
Djumantan Hasyim dikenal sebagai sosok yang tegas dan cakap dalam memimpin, terbukti dari kemampuannya menyelesaikan konflik saat terjadi kemelut dualisme kepemimpinan daerah. Ketegasannya menjadi teladan kepemimpinan yang efektif.
Kontribusi tak kalah penting datang dari Nyonya Lo Beng Long, atau yang dikenal sebagai Dorinawati Samalo, seorang perempuan dari etnis Tionghoa. Dengan keikhlasan, ia menghibahkan kediamannya pada tahun 1962.
Hibah ini menjadi cikal bakal berdirinya institusi pendidikan tinggi kebanggaan Kaltim, Universitas Mulawarman. Kedermawanan Dorinawati Samalo menunjukkan kepeduliannya terhadap kemajuan pendidikan dan masa depan generasi muda di Kalimantan Timur.
Pejuang Pertahanan Bangsa
Peran perempuan dalam pertahanan negara juga diukir oleh Fatimah Moeis, seorang organisator ulung yang didaulat menjadi Komandan Korps Sukarelawati Kaltim. Penunjukan ini terjadi pada tahun 1963.
Fatimah Moeis mengambil peran ini setelah mengikuti pelatihan kemiliteran, sebagai respons terhadap ancaman konfrontasi Dwikora yang dihadapi Indonesia kala itu. Keberaniannya mencerminkan semangat patriotisme yang tinggi.
Kiprahnya sebagai Komandan Korps Sukarelawati menunjukkan bahwa perempuan juga siap sedia membela negara dalam situasi genting. Dedikasinya menjadi inspirasi bagi banyak perempuan untuk berkontribusi dalam berbagai sektor, termasuk pertahanan.
Detail rekam jejak perjuangan kelima sosok perempuan ini diabadikan dalam buku karya Muhammad Sarip bersama Alisya Anastasya, berjudul "Perempuan di Kalimantan Timur: Sejarah yang Terlupakan, Mitos Kartini, dan Realitas Gender". Buku ini menjadi sumber penting untuk memahami lebih dalam kontribusi mereka.
Sumber: AntaraNews