Sejarah Panjang Bahasa Aceh yang kini Terancam Punah
Status bahasa Aceh yang berada di ambang kepunahan dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya karena tidak terjadinya transmisi.
Peneliti Bahasa, Sosial, dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Iskandar Syahputera menyebut bahasa Aceh berada dalam status definitely endangered atau terancam punah secara pasti.
“Dari skala tingkat keterancaman bahasa 5-0 dari (UNESCO), maka saat ini status vitalitas bahasa Aceh berada pada level 3,” kata Iskandar di Banda Aceh. Demikian dikutip dari Antara, Rabu (26/2).
Iskandar mengatakan hal tersebut terungkap dalam penelitiannya berjudul “Tentang Vitalitas Bahasa Aceh Kaitannya dengan Perencanaan dan Kebijakan Bahasa Daerah” pada 2024.
Dia menjelaskan, status bahasa Aceh yang berada di ambang kepunahan dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya karena tidak terjadinya transmisi atau perpindahan bahasa lokal ke generasi selanjutnya.
“Banyak kita lihat saat ini ibunya orang Aceh, dan bapaknya orang Aceh, tetapi di rumah tidak lagi menggunakan bahasa Aceh atau bahasa ibunya,” katanya.
Menurut Iskandar, hal tersebut mengakibatkan generasi muda ke depannya tidak lagi bisa berbicara dalam bahasa ibunya dan lebih jauh membuat jumlah penutur bahasa Aceh mengalami penurunan.
“Lambat laun hal ini akan membuat sebuah bahasa menuju kepada kepunahan,” katanya.
Bagaimana Asal Usul Bahasa Aceh?
Bahasa Aceh, bahasa yang kaya akan sejarah dan budaya, kini tengah menghadapi tantangan serius. Bahasa yang dulunya berperan penting dalam perdagangan dan kerajaan-kerajaan di Aceh, kini terancam punah akibat pengaruh globalisasi dan dominasi bahasa Indonesia serta Inggris.
Perkembangan bahasa ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari asal-usulnya yang masih diperdebatkan hingga pengaruh peradaban dan kerajaan yang pernah berdiri di Aceh.Beberapa teori menyebutkan asal-usul Bahasa Aceh berkaitan dengan bahasa Champa di Vietnam, ditandai kemiripan kosakata.
Teori lain mengaitkannya dengan suku Mantir (Mantee) yang dikaitkan dengan Mantera di Malaka, bagian dari rumpun bangsa Mon-Khmer. Namun, secara linguistik, Bahasa Aceh diklasifikasikan sebagai bagian dari rumpun bahasa Chamic, cabang rumpun bahasa Melayu-Polinesia, dan selanjutnya rumpun bahasa Austronesia.
Bahasa-bahasa terdekat kekerabatannya adalah Cham, Roglai, Jarai, Rade, dan beberapa bahasa Chamic lainnya. Bahasa Melayu dan Minangkabau juga berkerabat dengan Bahasa Aceh.
Perkembangan ini terjadi selama ratusan tahun, dan membentuk kekayaan Bahasa Aceh hingga saat ini.Pengaruh budaya dan peradaban juga turut mewarnai sejarah Bahasa Aceh. Sebelum masuknya Islam, pengaruh Hindu-Buddha terlihat dari penggunaan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta yang dimodifikasi.
Kedatangan Islam membawa perubahan besar, termasuk adopsi aksara Jawi (Arab Melayu) yang digunakan secara luas dalam penulisan kitab dan karya sastra Aceh. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh, seperti Pasai dan Aceh Darussalam, berperan penting dalam perkembangan bahasa dan aksara ini.
Bahasa Melayu, sebagai bahasa perdagangan dan penyebaran agama Islam, juga memberikan pengaruh signifikan terhadap Bahasa Aceh, terlihat dalam banyak naskah sejarah Aceh seperti Bustanussalatin.
Pengaruh Peradaban dan Kerajaan terhadap Bahasa Aceh
Perkembangan Bahasa Aceh erat kaitannya dengan kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Aceh. Kerajaan Samudera Pasai, misalnya, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Aceh, telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan Bahasa Aceh.
Penggunaan bahasa Melayu dalam administrasi kerajaan dan perdagangan internasional turut memperkaya kosakata Bahasa Aceh. Kemudian, Kerajaan Aceh Darussalam, dengan kekuasaannya yang luas, juga memainkan peran penting dalam menyebarkan dan mengembangkan Bahasa Aceh.
Bahasa ini digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, perdagangan, hingga kesusastraan.Pengaruh Islam juga sangat terasa dalam perkembangan Bahasa Aceh.
Banyak kosakata Bahasa Aceh yang berasal dari bahasa Arab, yang masuk melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam. Penggunaan aksara Jawi juga menjadi bukti nyata pengaruh Islam terhadap Bahasa Aceh.
Aksara Jawi digunakan secara luas dalam penulisan kitab-kitab agama, karya sastra, dan dokumen-dokumen penting lainnya. Pengaruh ini membentuk karakteristik unik Bahasa Aceh yang berbeda dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya.
Meskipun Bahasa Melayu memiliki pengaruh yang signifikan, usaha menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah pada tahun 1931 oleh pemerintah Hindia Belanda mendapat penolakan dari cendekiawan Aceh.
Mereka lebih menginginkan penggunaan Bahasa Melayu untuk pengembangan ekonomi dan hubungan internasional, menunjukkan kesadaran akan pentingnya bahasa dalam konteks yang lebih luas.
Perkembangan dan Tantangan Modern Bahasa Aceh
Perkembangan Bahasa Aceh erat kaitannya dengan kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Aceh. Kerajaan Samudera Pasai, misalnya, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Aceh, telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan Bahasa Aceh.
Penggunaan bahasa Melayu dalam administrasi kerajaan dan perdagangan internasional turut memperkaya kosakata Bahasa Aceh. Kemudian, Kerajaan Aceh Darussalam, dengan kekuasaannya yang luas, juga memainkan peran penting dalam menyebarkan dan mengembangkan Bahasa Aceh.
Bahasa ini digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, perdagangan, hingga kesusastraan.Pengaruh Islam juga sangat terasa dalam perkembangan Bahasa Aceh.
Banyak kosakata Bahasa Aceh yang berasal dari bahasa Arab, yang masuk melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama Islam. Penggunaan aksara Jawi juga menjadi bukti nyata pengaruh Islam terhadap Bahasa Aceh.
Aksara Jawi digunakan secara luas dalam penulisan kitab-kitab agama, karya sastra, dan dokumen-dokumen penting lainnya. Pengaruh ini membentuk karakteristik unik Bahasa Aceh yang berbeda dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya.
Meskipun Bahasa Melayu memiliki pengaruh yang signifikan, usaha menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah pada tahun 1931 oleh pemerintah Hindia Belanda mendapat penolakan dari cendekiawan Aceh.
Mereka lebih menginginkan penggunaan Bahasa Melayu untuk pengembangan ekonomi dan hubungan internasional, menunjukkan kesadaran akan pentingnya bahasa dalam konteks yang lebih luas.