Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian mengakui bahwa sejumlah wilayah di Aceh masih terisolir menyusul bencana hidrometeorologi yang melanda. Berdasarkan tinjauan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian selama dua hari kemarin di Aceh, terdapat beberapa lokasi yang akses jalannya terputus akibat jembatan roboh dan banjir bandang.
"Setidaknya ada sekitar 30 jembatan besar yang roboh sehingga memutus akses," kata Tito dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (1/12).
Tito merinci, wilayah terdampak tersebut antara lain Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, Lhokseumawe, Aceh Utara, Lhoksukon, hingga Bireuen. Termasuk beberapa titik lain seperti Bandar Meriah dan kawasan Gayo juga terkendala akses darat.
"Bahkan jalur jembatan nasional dari Bireuen menuju Pidie Jaya yang menghubungkan Medan–Banda Aceh juga ikut putus Jadi otomatis terkunci daerah itu," jelas Tito.
Meski terioslir, Tito memastikan suplai logistik tetap dimungkinkan melalui jalur udara karena terdapat bandara di Takengon dan Lhokseumawe.
"Basarnas bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah telah bekerja keras menyalurkan bantuan. Dropping logistik dilakukan langsung dari Halim Perdanakusuma maupun dari Medan sesuai instruksi Presiden," tegas eks Kapolri ini.
Advertisement
Ketersediaan Beras di Aceh
Sementara itu, mengenai ketersediaan beras di Aceh, Tito menilai stok masih mencukupi. Hanya saja, sejumlah kebutuhan lain mulai menipis seperti telur, cabai, kecap, gula, pakaian dalam, popok bayi, susu, juga BBM.
"Semua bergerak langsung dikendalikan oleh Bapak Menko PMK, Pak Pratikno, dan BNPB, TNI, Polri, semua bergerak (membantu)," dia menandasi.
Sebagai informasi, data di Provinsi Aceh, hingga Minggu (30/11) sore, tercatat 96 jiwa meninggal dunia dan 75 jiwa hilang. Mereka tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Selain itu, Jumlah pengungsi mencapai 62.000 KK di 11 kabupaten/kota.
Diketahui, sejumlah jalur utama masih terputus total, termasuk perbatasan Sumut, Aceh Tamiang, jembatan Meureudu di perbatasan Pidie Jaya–Bireuen, serta jalan nasional di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Akses Subulussalam Aceh Selatan masih tergenang tanpa jalur alternatif.