Sejarah Kesultanan Palembang, Trah Sultan Mahmud Badaruddin IV yang Murka ke Willie Salim
Dari kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam hingga kemarahan Sultan terhadap kasus rendang 200 kg yang hilang, sebuah kisah sejarah dan misteri yang menarik.
Kesultanan Palembang kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena peperangan atau perebutan kekuasaan, melainkan karena konten hilangnya rendang 200 kg yang melibatkan Willie Salim.
Kesultanan Palembang memilih sejarah panjang yang gemilang di masa lalu. Kesultanan Melayu Islam ini, berpusat di Palembang, Sumatera Selatan, berdiri sekitar tahun 1659, diproklamirkan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman. Namun, sejarahnya jauh lebih panjang, terbentang sejak abad ke-15, dipengaruhi kerajaan-kerajaan besar seperti Demak dan Banten. Bahkan, ada yang menyebut Ki Gede Ing Suro sebagai pemimpin awal kerajaan di Palembang pada awal abad ke-17.
Kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam tidak lepas dari lokasi strategisnya sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan kekayaan Bangka Belitung yang kaya akan timah. Namun, perjalanan panjangnya juga diwarnai konflik, terutama perlawanan sengit terhadap penjajah Inggris dan Belanda. Salah satu tokoh kunci yang memimpin perlawanan ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II (1804-1812, 1813, 1818-1821), yang dikenal karena kepemimpinannya yang kuat dan gigih.
Meskipun akhirnya ditaklukkan dan dihapuskan oleh Belanda pada 7 Oktober 1823 di bawah pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin II, legasi Kesultanan Palembang tetap hidup. Pada tahun 2006, Kesultanan Palembang 'bangkit kembali' sebagai simbol adat, menunjukkan kelanjutan identitas dan kebudayaan Palembang hingga saat ini. Kasus hilangnya rendang 200 kg, yang membuat Sultan Palembang murka, kini menjadi bagian baru dari cerita panjang Kesultanan Palembang.
Dari Rempah hingga Timah
Letak geografis Kesultanan Palembang yang strategis menjadi kunci kejayaannya. Sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, Palembang menarik perhatian pedagang dari berbagai penjuru dunia. Kekuasaan Kesultanan atas Bangka Belitung, yang kaya akan timah, semakin menambah kekuatan ekonomi kerajaan ini. Timah menjadi komoditas penting yang diperdagangkan secara luas, meningkatkan kekayaan dan pengaruh Kesultanan Palembang di kancah internasional.
Kemakmuran ekonomi Kesultanan Palembang juga terlihat dari perkembangan infrastruktur dan arsitektur. Benteng Kuto Besak, sebagai benteng pertahanan, dan Masjid Agung Palembang, sebagai pusat keagamaan, merupakan bukti nyata dari kejayaan ekonomi dan budaya Kesultanan. Rumah Limas, dengan arsitektur tradisionalnya yang unik, juga menjadi warisan berharga dari masa keemasan Kesultanan Palembang.
Namun, kejayaan ekonomi ini juga menjadi magnet bagi kekuatan kolonial. Inggris dan Belanda, terutama, berusaha menguasai kekayaan rempah-rempah dan timah di wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang, mengakibatkan konflik dan perlawanan yang panjang.
Perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II
Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah satu sultan yang paling dikenal karena kepemimpinannya yang kuat dan perlawanannya terhadap penjajah. Beliau memimpin perlawanan yang gigih melawan penjajah Inggris dan Belanda, menunjukkan semangat juang rakyat Palembang yang tinggi. Perlawanan ini, meskipun pada akhirnya gagal menghentikan penjajahan, tetap menjadi simbol ketahanan dan keberanian rakyat Palembang.
Kisah perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II dan rakyat Palembang menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Semangat juang dan perlawanan terhadap penjajah menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas bangsa Indonesia. Perlawanan ini juga menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa.
Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II bukan hanya sekadar perlawanan fisik, tetapi juga perjuangan untuk mempertahankan budaya dan identitas Kesultanan Palembang. Beliau berhasil mempertahankan beberapa aspek budaya Palembang, yang hingga kini masih dapat dinikmati dan dipelajari.
Kemarahan Sultan ke Willie Salim
Reaksi keras muncul dari Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Raden Muhammad Fauwaz Diradja usai viralnya video 200 kilogram rendang hilang dalam konten masak besar Willie Salim. Sang konten kreator kini diharamkan menginjakkan kaki di Palembang.
SMB IV mengutuk tindakan Willie Salim yang dianggap melecehkan masyarakat Palembang. Kota tertua di Nusantara itu kini menjadi sorotan netizen akibat insiden tersebut.
"Kami tidak akan tinggal diam. Video ini telah menimbulkan stereotip buruk terhadap masyarakat Palembang, padahal kejadian di Benteng Kuto Besak (BKB) tidak mencerminkan budaya kami yang sesungguhnya," ujar SMB IV, Senin (24/3).
Sultan menegaskan bahwa budaya semon (malu) yang menjadi ciri khas wong Palembang telah dinodai oleh konten Willie Salim yang dinilai tidak bertanggung jawab. Menurutnya, video tersebut bertentangan dengan tradisi makan masyarakat Palembang yang menjunjung tinggi tata krama serta penghormatan terhadap tamu.
"Dalam budaya kami, tamu adalah raja yang harus dilayani dengan hormat, bukan dijadikan bahan ejekan," tegas SMB IV.