Rendang Mpok Elly: Juara Kuliner Indonesia yang Mengobati Rindu di SEA Games Thailand
Di tengah hiruk pikuk SEA Games ke-33 di Thailand, rendang buatan Mpok Elly dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menjadi juara kuliner yang sukses mengobati kerinduan akan cita rasa Indonesia, bahkan mengalahkan kelezatan tom yum dan som tam.
Perjalanan panjang empat pewarta LKBN ANTARA untuk meliput SEA Games ke-33 di Thailand pada 20 Desember 2025 dimulai dengan tantangan kuliner yang tak terduga. Setibanya di Bandara Don Mueang setelah penerbangan dari Soekarno Hatta, rasa lapar mulai melanda, namun pencarian makanan halal yang sesuai selera lidah Indonesia tidaklah mudah. Pengalaman ini menggambarkan adaptasi yang diperlukan saat berada di negeri orang, terutama dalam hal makanan yang disajikan.
Bandara Don Mueang yang tidak terlalu besar, bahkan disebut 'seperti Halim' oleh salah satu pewarta, tidak menunjukkan banyak tanda kemeriahan pesta olahraga Asia Tenggara. Hanya ada satu pojok informasi relawan dan area foto dengan maskot serta tulisan '33rd SEA GAMES, Thailand 2025' yang menandakan adanya acara besar. Setelah perjuangan mendapatkan transportasi Grab dan menyimpan barang di apartemen sewaan, pencarian makanan kembali menjadi prioritas.
Berbagai hidangan lokal yang didominasi babi membuat para pewarta kesulitan menemukan makanan yang cocok, memaksa mereka untuk lebih bersabar. Hingga akhirnya, pilihan jatuh pada sebuah restoran yang menjajakan sayuran dan hidangan laut, namun lagi-lagi menu babi ditemukan. Dengan tekad, mereka memesan ikan goreng, cumi, telur dadar, dan som tam, berharap dapat memuaskan perut yang kosong.
Pengalaman Kuliner Thailand: Antara Som Tam, Tom Yum, dan Ayam Goreng
Hidangan pertama yang tiba adalah som tam, salad pepaya muda khas Thailand, yang tampilannya menarik dengan irisan pepaya muda, tauge 'Bangkok', kacang panjang, tomat, wortel, jeruk nipis, dan kacang tanah sangrai, disiram saus oranye kecoklatan. Rasanya yang segar, perpaduan asam, pedas, manis, dan gurih, mengingatkan pada asinan sayur Bogor, memberikan kesan pertama yang cukup baik. Keempat pewarta langsung menyerbu hidangan tersebut, menikmati tekstur renyah dari kacang tanah sangrai yang menambah kelezatan.
Setelah som tam, tumis cumi, ikan goreng asam manis, dan dua telur dadar pun disajikan, namun nasi yang tersedia hanya untuk tiga orang. Keterbatasan ini memaksa mereka untuk berbagi dan mempelajari kata 'khaaw' yang berarti nasi dalam bahasa Thailand, karena pramusaji mengatakan nasi habis. Meskipun demikian, som tam menjadi hidangan yang paling berkesan bagi salah satu pewarta, sementara hidangan lain terasa terlalu dominan asam di lidah.
Beberapa hari meliput SEA Games, lidah para pewarta mulai berkompromi dengan rasa asam dan manis yang dominan dalam masakan Thailand. Penasaran dengan klaim bahwa ayam goreng pinggir jalan di Thailand sangat enak, mereka mencoba mengujinya di bazar depan komplek Otoritas Olahraga Thailand. Bazar tersebut mirip dengan berburu takjil di Jakarta, dengan banyak pilihan makanan yang menggugah selera, termasuk beberapa gerai halal dan satu-satunya yang menjual serangga goreng.
Ayam goreng berwarna merah yang dibeli ternyata memiliki rasa yang enak, dimarinasi dengan rempah seperti ketumbar, lada, dan bawang putih, lalu dibalur maizena dan paprika bubuk. Rasanya gurih, namun tidak seistimewa ayam goreng kunyit serundeng khas Indonesia. Tambahan saus Bangkok yang pedas asam dengan sedikit manis memberikan sentuhan rasa yang lumayan. Selain itu, tom yum udang dengan kuah krim kental juga dicicipi; udangnya besar-besar dan rasanya enak, meskipun tidak spesial, dengan kenangan tom yum terenak masih dipegang oleh restoran di Semarang.
Rumah Indonesia: Oase Rasa Nusantara di Tengah Bangkok
Di setiap pesta olahraga multi-cabang di luar negeri, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) selalu berupaya menyediakan fasilitas terbaik bagi atlet, ofisial, dan media, salah satunya melalui rumah singgah. Di Olimpiade Paris 2024, fasilitas ini dikenal sebagai Rumah Garuda, sementara di Bangkok dinamakan Rumah Indonesia. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat pemulihan bagi atlet dari kerasnya kompetisi dan pengobat rindu akan suasana rumah.
Rumah Indonesia dilengkapi dengan kamar untuk tidur siang, fisioterapis untuk pemulihan fisik, dan yang terpenting, hidangan rendang serta sambal untuk mengobati kerinduan akan masakan tanah air. Keberadaan fasilitas ini sangat vital untuk menjaga semangat dan kondisi para delegasi Indonesia.
Mpok Elly, seorang staf dari KOI, menjadi sosok kunci di balik hidangan lezat yang disajikan di Rumah Indonesia. Ia telah berpengalaman mendampingi delegasi Indonesia di berbagai ajang olahraga internasional, termasuk SEA Games 2025 di Bangkok, Asian Games Hangzhou 2023, dan Olimpiade Paris 2024. Keahliannya dalam memasak masakan Nusantara menjadi anugerah bagi mereka yang jauh dari rumah.
Rendang Mpok Elly: Juara Kuliner yang Mengobati Rindu
Ketika pertama kali mengunjungi Rumah Indonesia, hidangan rendang dan dendeng balado menjadi menu pembuka yang langsung memikat. Dendengnya, meskipun daging kering bawaan dari Indonesia, disajikan dengan sambal balado segar yang cabai merahnya tidak hancur digiling. Namun, rendang Mpok Elly-lah yang paling mencuri perhatian.
Rendang tersebut tidak terlalu kering sempurna seperti rendang Padang pada umumnya, namun juga tidak terlalu basah seperti kalio, berada di tengah-tengah. Rasanya mirip rendang restoran di Bukit Tinggi, dengan bumbu yang seimbang antara gurih, pedas, asin, dan sedikit aroma gosong kelapa, menciptakan harmonisasi sempurna di lidah. Mpok Elly, yang asli Betawi, dengan rendah hati mengatakan bahwa keahliannya memasak berbagai menu Nusantara datang dari keberaniannya dalam meracik bumbu dan kebiasaan memasak sejak lama.
Mpok Elly, yang sebenarnya seorang OB di kantor KOI, diminta langsung oleh Ketua Umum KOI, Raja Sapta Oktohari, untuk ikut serta dalam pesta olahraga multicabang di luar negeri demi menyediakan masakan terbaik bagi para atlet. Ia bekerja sama dengan Mas Puji, yang juga berasal dari lantai 18 KOI, dalam menyiapkan hidangan. Mpok Elly berkreasi dengan bahan-bahan yang tersedia di lemari es, layaknya kompetisi Master Chef, dan selalu berhasil menyajikan hidangan yang lezat.
Setiap kali menyantap masakan Mpok Elly di Rumah Indonesia, para pewarta selalu menambah porsi. Pada kunjungan kedua, disajikan bebek goreng dengan tingkat keempukan setara Bebek Kaleyo, bakwan jagung, dan tahu goreng lengkap dengan sambal. Kunjungan ketiga menyajikan nasi liwet dengan rasa gurih santan, asin dari teri, dan sentuhan pedas cabai rawit merah, ditemani lauk tumisan paru goreng, tumis cumi asin, sayur asem, serta sambal bawang. Semua hidangan selalu berhasil membuat ketagihan.
Dampak Psikologis Makanan Rumahan bagi Atlet
Bukan hanya pewarta yang ketagihan, atlet seperti Basral Graito Hutomo, juara skateboard street putra SEA Games 2025 Thailand, juga sangat menikmati masakan Mpok Elly. Basral dan tim pelatnas skateboard Indonesia telah berada di luar negeri selama lebih dari sebulan, menjalani program latihan di Australia dan Jepang sebelum langsung terbang ke Thailand. Makanan rumahan seperti rendang menjadi sangat berarti bagi mereka yang jauh dari keluarga.
Pengalaman kuliner di Thailand, diakhiri dengan kelezatan rendang Mpok Elly di Rumah Indonesia, semakin mengukuhkan keyakinan bahwa rendang memang pantas disebut sebagai makanan terenak nomor satu di dunia. Makanan bukan hanya sekadar asupan gizi, tetapi juga pengobat rindu dan peningkat semangat, terutama bagi para pejuang olahraga yang mengharumkan nama bangsa.
Sumber: AntaraNews