Ahli Gizi Ungkap Cara Menyimpan Makanan yang Tepat, Cegah Rusaknya Nutrisi
Dr. Rita Ramayulis, ahli gizi terkemuka, membagikan tips penting cara menyimpan makanan agar nutrisi tetap terjaga, hindari pemanasan berulang yang merusak zat gizi.
Ahli gizi terkemuka, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, membagikan panduan penting mengenai cara menyimpan makanan yang benar. Ia menekankan bahwa proses penyimpanan sebaiknya dilakukan sejak awal memasak, bukan dari sisa makanan yang sudah matang. Tujuannya adalah untuk menjaga kandungan nutrisi dalam hidangan tetap optimal dan mencegah kerusakan zat gizi.
Menurut Rita, kebiasaan menyimpan makanan sisa lalu memanaskannya kembali tidak terlalu baik bagi kualitas gizi. Tips ini disampaikan kepada ANTARA di Jakarta pada Kamis (22/1), menyoroti praktik sehari-hari yang seringkali luput dari perhatian banyak orang. Ia merupakan Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) Periode 2019-2024.
Pendekatan ini bertujuan untuk meminimalkan paparan panas berulang yang dapat memicu degradasi nutrisi. Dengan memahami teknik penyimpanan yang tepat, masyarakat dapat memastikan makanan yang dikonsumsi tetap sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Ini menjadi kunci penting dalam menjaga asupan gizi keluarga sehari-hari.
Teknik Menyimpan Makanan Sejak Awal Proses
Dr. Rita Ramayulis menjelaskan bahwa kunci utama dalam cara menyimpan makanan adalah dengan memisahkannya sejak awal proses memasak. Ini berarti, sebelum makanan matang sepenuhnya, sebagian sudah disisihkan untuk disimpan. Pendekatan ini jauh lebih baik dibandingkan menyimpan makanan sisa yang sudah dipanaskan berulang kali.
Sebagai contoh, untuk hidangan seperti rendang, disarankan untuk menyisihkan sebagian saat prosesnya mencapai tahap kalio atau gulai. Kalio adalah rendang setengah jadi yang masih memiliki banyak kuah. Bagian kalio inilah yang dapat dibekukan, sementara sisanya dilanjutkan hingga menjadi rendang matang yang siap santap.
Ketika rendang matang habis, kalio beku tersebut bisa dikeluarkan dan dimasak kembali menjadi rendang. Dengan demikian, proses pemasakan rendang yang panjang hanya terjadi satu kali untuk setiap porsi yang akan dikonsumsi. Ini efektif mencegah kerusakan zat gizi akibat pemanasan berulang yang intensif.
Untuk opor, Rita menyarankan agar disisihkan saat baru mencapai satu kali titik didih. Opor yang disimpan pada tahap ini masih aman untuk dipanaskan ulang dan disajikan. Teknik ini memastikan bahwa makanan yang akan disimpan tidak mengalami proses pemanasan berlebihan sebelum dikonsumsi.
Perhatikan Pemanasan Ulang dan Jenis Makanan
Selain cara menyimpan makanan, Dr. Rita juga menyoroti pentingnya memperhatikan makanan yang dimasak lama jika ingin dipanaskan ulang. Rendang, misalnya, melalui proses pemasakan yang sangat panjang dengan santan dan paparan suhu tinggi. Proses awal yang intens ini membuat pemanasan ulang berisiko tinggi.
Meskipun santan dikenal stabil untuk dipanaskan berulang kali karena kandungan lemak MCT-nya, konteks pemasakan rendang berbeda. Pemasakan awal yang sudah sangat lama dan intensif dapat memicu kerusakan zat gizi. Pemanasan ulang hanya akan memperparah degradasi nutrisi dan berpotensi membentuk senyawa kimia yang kurang baik.
Namun, tidak semua hidangan bersantan memiliki risiko yang sama. Rita membandingkan rendang dengan sayur lodeh yang dimasak dengan santan. Sayur lodeh yang hanya dipanaskan sebentar atau satu kali titik didih masih aman untuk dipanaskan ulang. Ini menunjukkan bahwa durasi dan intensitas pemasakan awal sangat berpengaruh.
Oleh karena itu, penting untuk membedakan jenis masakan dan cara memasaknya saat memutuskan untuk menyimpan dan memanaskan ulang. Memisahkan porsi yang akan disimpan sejak awal adalah strategi terbaik untuk menjaga kualitas gizi, terutama untuk hidangan yang memerlukan waktu masak panjang.
Sumber: AntaraNews