Ramai-Ramai Siswa Didampingi Orangtua Datangi SMAN 72 Pasca Ledakan, Ambil Peralatan Tertinggal
Para siswa sudah mulai berdatangan ke SMAN 72 sekitar pukul 14.30 Wib. Ada dari mereka yang terlihat didampingi oleh orangtuanya.
Sejumlah siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara mendatangi sekolahnya pasca ledakan yang terjadi pada Jumat (7/11) kemarin siang. Diketahui, kejadian itu menyebabkan puluhan orang mengalami luka-luka.
Pantauan merdeka.com, para siswa sudah mulai berdatangan ke SMAN 72 sekitar pukul 14.30 Wib. Ada dari mereka yang terlihat didampingi oleh orangtuanya.
Kedatangan mereka ke sekolah untuk mengambil peralatan pribadi sekolah yang masih tertinggal, seperti tas dan lain sebagainya.
"Kami kesini dalam rangka mengambil peralatan sekolah yang ketinggalan (saat insiden ledakan) kemarin, karena kemarin belum sempat mengambil peralatan sekolah seperti tas, buku, handphone, ada laptop juga. Jadi saat ini wali kelas menginfokan bahwa peralatan sekolah bisa diambil hari ini," kata Widya salah satu orangtua siswa usai mendampingi anaknya mengambil peralatan sekolah, Jakarta, Sabtu (8/11).
"Menurut informasi di grup yang mengambil hanya siswa saja didampingi wali kelas masing-masing," sambungnya.
Ada Informasi Darurat di SMAN 72
Berdasarkan informasi yang dapat dari guru sekolah, para orangtua diminta untuk menjemput anaknya masing-masing pasca kejadian ledakan itu terjadi.
"Dari guru belum ada informasi bagaimana kejadian sebenarnya, cuma begitu kejadian orangtua menginformasikan ke grup bagi orangtua tolong dijemput anak-anaknya karena di sekolah ada 'darurat', koordinator kelas 'darurat'," jelasnya.
"Saya langsung sebagai orangtua langsung saya spontan menjemput anak saya bagaimana kabarnya, Puji Tuhan anak saya sehat," tambahnya.
Anaknya Masih Trauma Pasca Ledakan SMAN 72
Dalam kesempatan itu, ia mengaku, jika putrinya masih mengalami trauma pasca ledakan yang terjadi di tempatnya menuntut ilmu.
"Putri kita hari ini masih ada trauma ya seperti tadi saya dampingi, dia ketakutan karena posisi kelasnya sama Masjid itu satu tembok 'saya takut, takutnya seram' (menyampaikan pernyataan putrinya). Saya bilang, enggak lah dek enggak ada korbannya sehat semoga yang korban sehat sehat semuanya. Saya sebagai orangtua mensupport agar tidak trauma," paparnya.
"(Kegiatan belajar mengajar daring apa luring) Belum ada informasi dari wali kelas selanjutnya belajarnya bagaimana kita belum ada informasi. (Libur) Juga belum ada informasi," pungkasnya.