Puluhan Hewan Ternak di Gunungkidul Mati Diduga Terjangkit Antraks
Wibawanti menjelaskan, pihaknya telah mengambil sampel laboratorium dari hewan-hewan ternak yang menunjukkan ciri-ciri gejala Antraks.
Kasus kematian hewan ternak diduga akibat Antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DIY. Dalam rentang Februari hingga Maret 2025, sebanyak 20 ekor hewan ternak dilaporkan mati akibat gejala yang mengarah pada penyakit mematikan tersebut.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengungkapkan, kematian hewan-hewan ternak tersebut terjadi di dua wilayah, yakni Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo, dan Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop.
"Ada sekitar 20-an (hewan ternak mati karena Antraks) di dua tempat ya. Kurun waktu dua bulan yakni Februari-Maret 2025," kata Wibawanti kepada wartawan, Kamis (10/4).
Wibawanti menjelaskan, pihaknya telah mengambil sampel laboratorium dari hewan-hewan ternak yang menunjukkan ciri-ciri gejala Antraks untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Upaya Pencegahan
Namun, upaya pengendalian penyebaran penyakit ini menemui hambatan di lapangan. Banyak warga yang menyembelih hewan ternak yang mati mendadak dan langsung menjual dagingnya, sebelum sempat dilakukan pemeriksaan kesehatan.
"Kami mengalami kesulitan untuk mencegah perluasan penularan kasus," ujarnya.
Sebagai langkah penanggulangan, DPKH telah memberikan pengobatan antibiotik kepada hewan yang terindikasi terjangkit. Dinas juga akan melakukan vaksinasi massal di wilayah-wilayah terdampak.
"Rencananya akan melakukan vaksinasi di zona merah dan zona kuning. Minggu depan rencananya," tutup Wibawanti.