Profil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono yang Menginap di Hotel saat Warganya Kebanjiran
Mengenal lebih dekat Tri Adhianto Tjahyono, Wali Kota Bekasi terpilih yang menghadapi tantangan banjir di tengah masa kepemimpinannya.
Viral di media sosial Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menginap di hotel ketika sejumlah wilayah dilanda banjir. Postingan video di media sosial itu ramai dikomentari netizen hingga menuai pro dan kontra.
Seperti diketahui, banjir menerjang hampir di seluruh wilayah Kota Bekasi. Banjir merendam permukiman warga, fasilitas publik dan akses jalan utama. Kondisi itu pun membuat aktifitas warga lumpuh.
Sehingga banyak netizen menilai tindakan Wali Kota Bekasi itu tidak memiliki empati karena memposting video saat menginap di hotel ketika warganya terendam banjir. Namun tidak sedikit juga netizen yang tidak mempersoalkan masalah tersebut.
Lantas, seperti apa sosok Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, berikut ulasannya dirangkum merdeka.com dari pelbagai sumber, Rabu (5/3).
Sosok Tri Adhianto
Tri Adhianto Tjahyono, lahir di Jakarta pada 3 Januari 1970, kini menjabat sebagai Wali Kota Bekasi setelah terpilih dalam Pilkada Serentak 2024. Dengan perolehan suara terbanyak mencapai 459.430 suara, Tri Adhianto berhasil mengalahkan dua pasangan calon lainnya.
Dia dikenal sebagai sosok yang berpengalaman dalam pemerintahan, sebelumnya menjabat sebagai Wakil Wali Kota Bekasi dan Pelaksana Tugas Wali Kota Bekasi.
Tri Adhianto memiliki latar belakang pendidikan yang solid. Ia menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Lampung, sebelum meraih gelar doktor di Universitas Pasundan pada tahun 2012. Gelar akademiknya adalah Dr. H. Tri Adhianto Tjahyono, SE, MM.
Selain karier politik, ia juga aktif sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi. Dalam perjalanan karier politiknya, Tri Adhianto telah menjabat di berbagai posisi penting, mulai dari Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi hingga Sekretaris Dinas Bina Marga dan Tata Air. Pengalamannya dalam pemerintahan dan kebijakan publik membuatnya menjadi pilihan yang tepat untuk memimpin Kota Bekasi.
Pendidikan dan Latar Belakang Keluarga
Tri Adhianto merupakan putra ketiga dari pasangan Bapak G Soeprapto dan Ibu Endang Sri Guntur Hudiani. Ia dibesarkan di Jakarta, dengan latar belakang darah Surabaya, Jawa Timur, dan Solo, Jawa Tengah.
Pendidikan menjadi salah satu fokus utama Tri Adhianto. Ia meraih gelar S1 dan S2 di Universitas Lampung pada tahun 1999 dan 2000, sebelum melanjutkan pendidikan S3 dan mendapatkan gelar doktor pada tahun 2012. Gelar akademik yang dimilikinya menjadi modal penting dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin daerah.
Karier Politik dan Pemerintahan
Tri Adhianto memulai karier politiknya dengan menjabat sebagai Kabid Teknik Lalu Lintas di Dinas Perhubungan Kota Bekasi pada tahun 2008. Ia kemudian menjabat sebagai Kasie Pengendalian dan Keselamatan Lalu Lintas sebelum menjabat sebagai Sekretaris Dinas Bina Marga dan Tata Air pada tahun 2011. Pada tahun 2013, ia diangkat sebagai Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi.
Kariernya terus berkembang hingga akhirnya terpilih menjadi Wakil Wali Kota Bekasi pada tahun 2018. Setelah menjabat sebagai Wakil, ia diangkat sebagai Pelaksana Tugas Wali Kota Bekasi pada 7 Januari 2022, sebelum terpilih secara resmi pada Pilkada 2024. Pasangan calon yang diusungnya, bersama Abdul Harris Bobihoe, didukung oleh 10 partai politik.
Klarifikasi Tri Adhianto
Tri Adhianto mengatakan tidak ada keinginan atau kesan bermewah-mewahan di saat warganya kebanjiran. Justru sebaliknya, dia menginap di hotel agar bisa melayani warga dengan cepat.
"Saya selamatkan dulu anak dan istri saya, kemudian pagi-pagi jam 6 saya juga harus sudah bergabung dengan warga, saya harus bisa memastikan bahwa pada pagi hari itu logistik harus sudah siap, karena memang sejak jam 10 malam saya berada di lapangan, jam 2 pulang dan saya hanya mengambil istri dan anak saya," ucap Tri, Rabu (5/3).
Sebelum banjir melanda, Tri sempat khawatir kediamannya di Perumahan Kemang Pratama akan terendam banjir. Karena berdasarkan pantauan, ketinggian muka air terus menunjukan peningkatan status.
"Karena pada saat jam 2 pagi itu memang ketinggian air sudah 600, dan saya perkirakan bahwa Kemang itu pasti akan tenggelam, nah kalau saya bertahan di dalam (rumah) berarti saya nggak bisa keluar," ungkapnya.
Soal lebih memilih menginap di hotel ketimbang mengungsi bersama pengungsi lainnya, Tri mengatakan kalau tindakannya itu semata-mata hanya untuk memastikan dengan cepat kondisi warga Kota Bekasi yang terdampak banjir.
"Tentu ada hal-hal yang lebih baik lagi, supaya ini saja, supaya prosesnya (kebutuhan logistik warga terdampak banjir) bisa dipastikan lebih aman, tidak ada pengin kesan bermewah-mewahan," tutupnya.