Pramono Ingin Pasar Jakarta Setara Tsukiji hingga Chatuchak Biar Dikunjungi Wisatawan
Menurut Pramono, pasar tidak lagi boleh hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi semata, tetapi harus berevolusi menjadi ruang sosial.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menargetkan pasar-pasar di ibu kota naik kelas menjadi destinasi kelas dunia yang mampu bersaing dengan pasar ikonik internasional seperti Tsukiji Market di Tokyo, Jepang hingga Chatuchak Plaza di Bangkok, Thailand.
Menurut Pramono, pasar tidak lagi boleh hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi semata, tetapi harus berevolusi menjadi ruang sosial, budaya, sekaligus destinasi wisata perkotaan.
"Kita semua berpikir bahwa pasar itu harus berevolusi, tidak boleh hanya sekadar menjadi tempat untuk transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi tempat untuk sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (23/2).
Ia menyampaikan, kota-kota besar di dunia menunjukkan bahwa pasar tradisional dapat menjadi magnet wisata sekaligus ruang interaksi masyarakat lintas kalangan. Ia mencontohkan bagaimana wisatawan yang berkunjung ke Tokyo hampir selalu menyempatkan diri datang ke Tsukiji Market.
"Saya yakin saudara-saudara sekalian di ruangan ini yang pernah pergi ke Tokyo pasti nyari Tsukiji Market karena itu bagian hal yang di sana kita bisa berinteraksi, di sana kita bisa melakukan banyak hal, minum kopi, dan sebagainya," ujarnya.
Pasar Jakarta Tidak Kalah
Selain Tokyo, Pramono juga menyinggung soal keberhasilan Nishiki Market di Kyoto, Jepang, serta pasar modern dunia seperti Markthal di Belanda yang mampu menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus ruang publik yang nyaman bagi warga maupun wisatawan.
Ia menilai kualitas pasar di wilayah DKI Jakarta sebenarnya tidak kalah jika dibandingkan dengan pasar internasional tersebut. Namun, persoalan utama terletak pada pengelolaan dan integrasi kawasan yang belum memenuhi standar global.
"Di Jakarta ini sebenarnya banyak market yang tidak kalah dengan hal tersebut. Termasuk tidak kalah dengan Chatuchak Plaza yang ada di Bangkok maupun Markthal yang ada di Rotterdam dan sebagainya, enggak kalah. Problemnya adalah belum terintegrasi dan dikelola secara baik secara internasional," kata Pramono.
Sebagai contoh, Pramono menyebut kawasan Pasar Santa dan Glodok yang memiliki daya tarik yang dinilai mampu bersaing dengan pasar terkenal dunia.
"Padahal secara kualitas, apa yang kita lihat di Pasar Santa misalnya, atau Pecinan Glodok, enggak kalah," ucapnya.
Kunjungi Glodok
Ia mengaku sengaja mengunjungi kawasan Glodok sendirian menjelang perayaan Imlek untuk melihat langsung aktivitas pasar dan interaksi masyarakat di lapangan.
"Karena mau Imlek, kemarin saya sengaja melihat Glodok secara sendiri, saya enggak mau bawa staf, luar biasa. Bahkan lebih dari Tsukiji Market maupun lebih dari Nishiki Market yang ada di Kyoto," kata Pramono.
Oleh sebab itu, ia berharap pasar Jakarta ke depan akan mampu mencapai pengakuan secara internasional, ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan tokoh dunia.
"Tapi suatu hari saya berharap ada Gubernur Tokyo kemudian makan di situ, ada menterinya, ada parlemennya. Artinya apa? Dia sudah pada level itu," tandasnya.