Polda Sulawesi Tengah Beri Pendampingan Trauma Healing Pascagempa di Sigi
Polda Sulawesi Tengah sigap memberikan pendampingan trauma healing pascagempa di Sigi untuk memulihkan kondisi psikologis anak-anak dan masyarakat terdampak bencana.
Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah telah mengambil langkah proaktif dengan memberikan pendampingan "trauma healing" bagi anak-anak di Desa Kamarora B, Kabupaten Sigi. Inisiatif ini bertujuan untuk memulihkan kondisi psikologis mereka secara menyeluruh pascabencana gempa bumi yang melanda wilayah tersebut. Kegiatan penting ini dilaksanakan pada hari Minggu, 21 Juni, sebagai wujud nyata dukungan kepada masyarakat terdampak.
Kompol Akhmad Kunaefi Muarif, selaku Kepala Bagian Psikologi Biro SDM Polda Sulawesi Tengah, menegaskan bahwa kehadiran personel kepolisian merupakan bentuk dukungan moral dan psikologis yang vital. Dukungan ini diharapkan mampu membangkitkan semangat warga, khususnya anak-anak, agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan rasa aman serta penuh harapan. Program ini menjadi bagian krusial dalam upaya pemulihan pascabencana yang komprehensif.
Pendampingan psikososial ini dianggap sebagai elemen penting dalam proses pemulihan pascabencana, sejajar dengan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Perhatian serius terhadap kondisi mental dan emosional masyarakat memiliki bobot yang sama pentingnya untuk keberlanjutan hidup. Program "trauma healing" ini dirancang khusus untuk mengurangi tingkat ketegangan serta kecemasan yang masih dirasakan oleh warga.
Mengatasi Trauma dan Kecemasan Akibat Gempa Susulan
Pendampingan psikologis ini memiliki tujuan utama untuk secara signifikan mengurangi ketegangan dan kecemasan yang dialami masyarakat akibat gempa bumi. Terlebih, gempa susulan yang masih terus terjadi menimbulkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan warga. Observasi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk masih mengalami trauma dan merasa ragu untuk kembali menempati rumah mereka yang rusak.
Kondisi psikologis yang rentan ini dipengaruhi kuat oleh frekuensi gempa-gempa susulan yang berkelanjutan, menciptakan suasana cemas yang persisten di tengah masyarakat. Kompol Akhmad Kunaefi Muarif menyoroti bahwa perhatian terhadap aspek ini sangat krusial. Kehadiran tim psikologi bersama personel kepolisian di lokasi terdampak bencana mendapat sambutan positif dari warga.
Respons hangat ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa aman dan optimisme di kalangan korban bencana di Sigi. Diharapkan, kegiatan ini dapat membantu mereka bangkit dari keterpurukan dan kembali menjalani kehidupan secara normal setelah bencana gempa. Pendekatan holistik ini menekankan bahwa pemulihan mental adalah kunci keberlanjutan hidup pascabencana.
Dukungan Komprehensif dan Bantuan Kemanusiaan Polda Sulteng
Selain fokus pada dukungan psikologis, tim Polda Sulawesi Tengah juga secara aktif menyalurkan berbagai bentuk bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang terdampak. Bantuan ini diserahkan secara simbolis sebagai wujud kepedulian dan solidaritas dari pihak kepolisian. Selanjutnya, pembagian paket khusus juga diberikan kepada anak-anak yang berpartisipasi dalam kegiatan "trauma healing" tersebut.
Melalui serangkaian kegiatan ini, Polda Sulawesi Tengah menunjukkan komitmennya yang kuat dalam membantu proses pemulihan menyeluruh pascabencana. Diharapkan, upaya ini akan mempercepat proses pemulihan psikologis masyarakat, khususnya anak-anak yang rentan terhadap dampak trauma. Warga diharapkan dapat menghadapi situasi sulit ini dengan ketenangan dan harapan baru untuk masa depan.
Respons positif dari warga terhadap kehadiran aparat kepolisian dan tim psikologi mengindikasikan kebutuhan mendesak akan dukungan semacam ini. Mereka merasa lebih terlindungi dan didukung untuk melewati masa-masa sulit pascabencana. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata kepedulian institusi terhadap kesejahteraan korban bencana di wilayah Sigi.
Sumber: AntaraNews