PHDI Bali Serukan Pawongan Jaga Harmoni Nyepi Idul Fitri Berdekatan
Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali mengimbau umat Hindu dan Muslim mengedepankan konsep Pawongan Tri Hita Karana untuk menjaga Harmoni Nyepi Idul Fitri yang berdekatan pada tahun 2026, mengajak refleksi spiritual bersama.
Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali mengambil langkah proaktif menjelang perayaan dua hari besar keagamaan yang berdekatan. Organisasi ini mengusung konsep Pawongan dari ajaran Tri Hita Karana untuk menjaga Harmoni Nyepi Idul Fitri pada tahun 2026. Pendekatan ini bertujuan menciptakan suasana khidmat dan damai di tengah masyarakat Bali yang majemuk.
Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, menegaskan pentingnya hubungan harmonis antar-sesama manusia dalam menyikapi momen istimewa ini. Ia mengimbau seluruh umat Hindu dan Muslim di Bali untuk mengedepankan sikap tapa brata serta toleransi. Kenak menyatakan bahwa pertemuan Hari Suci Nyepi pada 19 Maret 2026 dan Idul Fitri pada 21 Maret 2026 bukanlah masalah, melainkan sebuah anugerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Kenak di Denpasar, Sabtu (21/2). PHDI Bali melihat momen ini sebagai penguat aspek Tri Hita Karana lainnya, yakni Palemahan (hubungan harmonis dengan lingkungan) dan Parhyangan (hubungan harmonis dengan Tuhan). Ini menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga kerukunan antarumat beragama di Pulau Dewata.
Pentingnya Pawongan dan Toleransi Antarumat Beragama
PHDI Bali secara khusus meminta umat Hindu untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian dengan teguh dan penuh kesadaran. Pelaksanaan ini adalah inti dari Hari Suci Nyepi, di mana umat berfokus pada introspeksi diri. Di sisi lain, koordinasi erat telah terjalin dengan umat Muslim melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat.
Melalui koordinasi tersebut, pelaksanaan ibadah bagi umat Muslim, seperti Shalat Tarawih atau Shalat Id, akan disesuaikan dengan situasi lokal di Bali. Penyesuaian ini dilakukan tanpa mengurangi esensi ibadah itu sendiri, menunjukkan fleksibilitas dan saling pengertian. Ini adalah wujud nyata dari semangat toleransi beragama yang telah lama tumbuh di Bali.
Dalam menjaga Pawongan, peran pecalang dan tokoh masyarakat diakui sangat penting. Mereka bertindak sebagai penjaga hubungan antar-manusia, memastikan keamanan dan kenyamanan semua pihak tetap terjaga dalam semangat menyama braya atau bersaudara.
PHDI Bali meyakini tidak ada alasan bagi kedua umat beragama ini untuk tidak harmonis dalam menyikapi hari raya yang berdekatan. Kedua hari besar tersebut mengajarkan nilai-nilai spiritual yang serupa. Ini menggarisbawahi bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terciptanya kerukunan.
Kesamaan Spiritualitas Nyepi dan Idul Fitri
I Nyoman Kenak menjelaskan bahwa Hari Suci Nyepi mengajarkan umat Hindu untuk mengheningkan diri atau mulat sarira, sebuah proses introspeksi mendalam. Sementara itu, bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri mengajarkan kemenangan melawan hawa nafsu. Kedua perayaan ini, menurut Kenak, memiliki muatan spiritual yang sama, yaitu penyucian jiwa dan pengendalian diri.
Pada saat Nyepi, seluruh masyarakat di Bali turut menghormati tradisi dengan mengistirahatkan bumi, tanpa aktivitas di luar rumah. Momentum ini menjadi waktu berharga bagi semua pihak untuk merefleksikan cara menjaga alam Bali agar tetap lestari. Tanggung jawab pelestarian lingkungan ini merupakan tanggung jawab bersama seluruh pemeluk agama yang ada di Bali.
PHDI Bali juga menekankan bahwa harmoni di Pulau Dewata dapat terjaga karena masyarakatnya mampu menyeimbangkan ketiga unsur Tri Hita Karana. Keseimbangan ini mencakup hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan lingkungan (Palemahan).
Penting untuk diingat bahwa isu-isu viral atau hoaks mengenai perbedaan penanggalan tidak boleh merusak hubungan Pawongan yang telah dibangun berabad-abad. PHDI Bali mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi informasi yang tidak benar. Kebersamaan dalam menjaga Harmoni Nyepi Idul Fitri adalah kunci utama.
Sumber: AntaraNews