Pramono Anung: Kedamaian Dunia Berawal dari Individu, Bukan Sekadar Forum Internasional
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pentingnya Kedamaian Dunia yang berakar dari sikap individu, bukan hanya forum besar. Simak pesannya yang disampaikan di Monas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa Kedamaian Dunia tidak selalu lahir dari forum besar internasional, melainkan berawal dari diri setiap individu. Pernyataan ini disampaikannya saat menghadiri Malam Renungan Suci untuk Kedamaian Dunia di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Sabtu (18/4) malam.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Gema Sadhana ini mengusung tema "A Sacred Night for World Peace and Global Harmony", menjadi wadah refleksi dan doa yang mendalam. Pramono Anung mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai ruang kebersamaan lintas iman yang memperkuat nilai kemanusiaan di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Menurut Pramono, kedamaian sejati muncul dari sikap saling menghormati, menerima perbedaan, dan komitmen untuk hidup berdampingan dalam keberagaman. Pesan ini disampaikan di tengah tantangan global, menekankan bahwa setiap individu memiliki peran krusial dalam menciptakan harmoni.
Fondasi Kedamaian dari Nilai Luhur Individu
Pramono Anung menyoroti bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kekerasan, melainkan pada kasih, empati, dan welas asih yang tulus. Ia mengutip ajaran Hindu tentang nilai luhur Ahimsa, sebuah prinsip untuk tidak menyakiti, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan.
Selain itu, konsep Tri Hita Karana juga ditekankan, yang mengajarkan keseimbangan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Harmoni akan terwujud secara optimal ketika ketiga relasi tersebut terjaga dengan baik, menciptakan fondasi Kedamaian Dunia yang kokoh dan berkelanjutan.
Melalui acara ini, Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa negara ini adalah rumah bagi nilai toleransi, kebersamaan, dan perdamaian yang patut dicontoh. Dari Jakarta, sebuah pesan penting dikirimkan bahwa kedamaian adalah tanggung jawab kolektif yang harus terus dipelihara dan diperjuangkan bersama.
Jakarta sebagai Teladan Harmoni Global
Sebagai kota global yang dinamis, Jakarta memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi teladan dalam merawat harmoni di tengah keberagaman masyarakatnya. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen penuh untuk terus memperkuat persatuan di antara warganya.
Pemprov DKI Jakarta juga akan terus mendukung berbagai kegiatan lintas agama dan budaya yang mempromosikan toleransi dan saling pengertian. Hal ini sejalan dengan visi Jakarta untuk menjadi kota yang inklusif dan damai bagi seluruh lapisan masyarakatnya.
Kolaborasi erat antara pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan tokoh spiritual menjadi kunci utama dalam membangun kehidupan yang damai dan berkeadaban. Sinergi ini memastikan bahwa upaya menciptakan Kedamaian Dunia dapat berjalan secara efektif dan memberikan dampak positif yang luas.
Menginternalisasi Nilai Kedamaian dalam Kehidupan Sehari-hari
Pramono Anung mengajak seluruh masyarakat agar tidak berhenti pada seremoni atau acara formal semata dalam merayakan kedamaian. Ia berharap nilai-nilai kedamaian dapat menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari setiap individu, di setiap aspek kehidupan.
Masyarakat diharapkan dapat terus menebarkan kemanusiaan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan kedamaian dari lingkungan terkecil, seperti keluarga dan komunitas. Ini adalah langkah konkret dan fundamental untuk mewujudkan Kedamaian Dunia yang lebih luas dan berkelanjutan di masa depan.
Malam Renungan Suci ini turut dihadiri oleh Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia, Sashikala Premawardhane, serta Ketua Umum Gema Sadhana, Kobalen. Kehadiran para pejabat dan tokoh internasional ini menunjukkan dukungan global terhadap inisiatif perdamaian tersebut.
Sumber: AntaraNews