Pemkot Surabaya Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Program BWSE Jilid V
Pemerintah Kota Surabaya bersama Tim Penggerak (TP) PKK Surabaya kembali menggalakkan upaya Pencegahan Stunting Surabaya melalui program Gebyar Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) Eliminasi Masalah Stunting Jilid V yang menyasar balita pra-stunting.
Pemerintah Kota Surabaya dan Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya secara aktif memperkuat upaya Pencegahan Stunting Surabaya. Langkah ini diwujudkan melalui kelanjutan program Gebyar Bersama Wujudkan Surabaya Emas (BWSE) Eliminasi Masalah Stunting Jilid V. Program ini merupakan komitmen berkelanjutan Pemkot Surabaya dalam mengatasi permasalahan gizi anak di wilayahnya.
Ketua TP PKK Surabaya, Rini Indriyani, menyatakan bahwa program yang telah memasuki tahun kelima ini menargetkan 499 balita kategori pra-stunting di seluruh kota. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring dan luring, melibatkan peserta dari 31 kecamatan dan 63 puskesmas. Partisipasi luas ini menunjukkan keseriusan dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan intervensi.
BWSE Jilid V dirancang sebagai program kolaboratif yang melibatkan berbagai perangkat daerah di lingkungan Pemkot Surabaya. Tujuan utamanya adalah memberikan intervensi dini dan edukasi komprehensif untuk mencegah balita pra-stunting berkembang menjadi stunting. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang signifikan dalam peningkatan kesehatan dan gizi anak di Surabaya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pencegahan Stunting
Program BWSE merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan sejumlah perangkat daerah penting di lingkup Pemerintah Kota Surabaya. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) menjadi salah satu pilar utama dalam program ini. Selain itu, Dinas Kesehatan juga turut berperan aktif dalam aspek medis dan pemantauan kesehatan balita.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) bertanggung jawab memastikan ketersediaan dan kualitas asupan gizi yang diberikan kepada peserta. Sementara itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) mendukung program ini dalam hal diseminasi informasi dan komunikasi publik. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan pendekatan holistik Pemkot Surabaya dalam mengatasi masalah stunting.
Menurut Rini Indriyani, sinergi antar dinas ini telah berjalan selama lima tahun, membuktikan efektivitas pendekatan terpadu. Keterlibatan berbagai pihak ini memastikan bahwa program BWSE dapat menjangkau lebih banyak balita dan memberikan dukungan yang komprehensif. Pendekatan ini menjadi kunci keberhasilan dalam upaya Pencegahan Stunting Surabaya.
Fokus Intervensi pada Balita Pra-Stunting di Surabaya
Sasaran utama program BWSE Jilid V adalah anak-anak yang tergolong dalam kategori pra-stunting. Kategori ini mencakup balita yang belum mengalami stunting, namun memiliki risiko tinggi untuk mengalaminya jika tidak mendapatkan intervensi sejak dini. Identifikasi dini balita pra-stunting menjadi krusial untuk mencegah kondisi gizi buruk yang lebih parah.
Intervensi yang tepat pada fase pra-stunting sangat penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan optimal anak. Program ini berupaya memutus rantai risiko stunting dengan memberikan dukungan nutrisi dan edukasi. Dengan menargetkan kelompok berisiko tinggi, Pemkot Surabaya berharap dapat secara efektif menurunkan angka stunting di kota tersebut.
Total 499 balita pra-stunting menjadi fokus pendampingan dalam program ini, tersebar di berbagai kecamatan dan puskesmas. Pemilihan target ini didasarkan pada data dan identifikasi balita yang memerlukan perhatian khusus. Upaya ini merupakan bagian integral dari strategi Pencegahan Stunting Surabaya yang lebih luas.
Pendampingan Komprehensif dan Edukasi Gizi
Melalui program BWSE, para peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama dua bulan. Pendampingan ini mencakup pemberian asupan nutrisi berupa telur, susu, dan ayam sebagai sumber protein esensial. Bagi balita yang memiliki alergi terhadap telur, asupan protein akan diganti dengan alternatif lain seperti ikan atau daging, memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi.
Selain pemberian makanan tambahan, BWSE juga menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua. Edukasi ini mencakup cara pengolahan makanan bergizi yang tepat serta pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak. Pengetahuan orang tua sangat vital dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bergizi bagi balita.
Setiap balita peserta program akan didampingi oleh Tim Pendamping Keluarga yang terdiri dari tiga elemen penting. Tim ini melibatkan tenaga kesehatan, kader PKK, dan Kader Surabaya Hebat (KSH). Kehadiran tiga pendamping per anak ini memastikan dukungan yang holistik dan personal, mencakup aspek kesehatan, gizi, dan pengasuhan dalam upaya Pencegahan Stunting Surabaya.
Sumber: AntaraNews