BRI Peduli Gelar Program Cegah Stunting Itu Penting di Berbagai Wilayah
Sejak pertama kali dijalankan pada 2022, program BRI Peduli Cegah Stunting Itu Penting telah menjangkau 7.783 penerima manfaat.
Gizi pada anak balita masih menjadi isu krusial dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Stunting tidak hanya ditandai dengan terhambatnya pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung program pemerintah untuk mencegah dan menurunkan prevalensi stunting, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli secara konsisten menggelar program bertajuk "Cegah Stunting Itu Penting" di berbagai wilayah di Indonesia.
Program tersebut dilaksanakan di sejumlah daerah, di antaranya Puskesmas Cilincing, Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara, serta Puskesmas Pangalengan, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pelaksanaan kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 25 Januari.
Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa program BRI Peduli Cegah Stunting Itu Penting merupakan wujud dukungan nyata BRI terhadap upaya pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka stunting, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 2, yaitu Tanpa Kelaparan.
Program ini mencakup pemberian paket nutrisi bergizi bagi anak stunting, paket makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, serta penyediaan antropometri kit guna mendukung pengukuran tumbuh kembang anak secara akurat di posyandu dan puskesmas. Setiap paket antropometri kit terdiri dari timbangan digital, timbangan bayi, infantometer, stadiometer, dan tensimeter digital.
Selain bantuan fisik, BRI Peduli juga memperkuat program melalui edukasi gizi dan pola asuh kepada orang tua, ibu hamil, serta remaja putri sebagai upaya pencegahan sejak dini. Pendekatan ini menunjukkan bahwa program tidak hanya berfokus pada penanganan, tetapi juga pada penguatan fondasi pencegahan stunting secara berkelanjutan.
"Melalui pelaksanaan kegiatan ini, pencegahan stunting tidak hanya diposisikan sebagai isu kesehatan semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas," ujar Dhanny.
Ia menambahkan, program ini diharapkan dapat memperkuat peran serta masyarakat dalam mendukung penurunan stunting secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak-anak sebagai aset penting pembangunan di masa depan.
Sejak pertama kali dijalankan pada 2022, program BRI Peduli Cegah Stunting Itu Penting telah menjangkau 7.783 penerima manfaat yang terdiri dari orang tua, balita, ibu hamil, dan remaja putri. Program ini juga telah menyalurkan 130 paket antropometri dan dilaksanakan di 49 posyandu dan puskesmas yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Jakarta, Padang, Yogyakarta, Denpasar, Malang, Makassar, Banjarmasin, dan Manado.
Berbagai program digelar BRI
Di Puskesmas Cilincing, misalnya, program ini menyasar balita dan ibu hamil di wilayah yang masih memiliki prevalensi stunting kategori medium. Tercatat terdapat 55 anak berisiko stunting dalam tahap pemulihan serta 150 anak berisiko stunting yang masih berada dalam tahap penyuluhan.
Melalui program Cegah Stunting Itu Penting, BRI Peduli melaksanakan berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi pencegahan stunting, pemberian Paket Makanan Tambahan (PMT), pemeriksaan kesehatan gratis, hingga penyaluran antropometri kit.
Bentuk kolaborasi multipihak
Ahli Gizi Puskesmas Kecamatan Cilincing, Masliani Novaria, menyampaikan bahwa program dari BRI Peduli merupakan bentuk kolaborasi multipihak dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
"Terima kasih kepada BRI Peduli atas dukungan dalam program Cegah Stunting Itu Penting di Kecamatan Cilincing dengan berbagai manfaat yang diberikan. Harapannya, BRI terus mendukung intervensi pencegahan stunting di Indonesia, karena upaya ini tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja, melainkan memerlukan kolaborasi berbagai pihak," ujarnya.