PT Phapros Tbk, perusahaan farmasi terkemuka, telah mengambil langkah proaktif dalam menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku obat. Situasi geopolitik global yang dinamis serta penguatan nilai dolar AS terhadap Rupiah menjadi pemicu utama fluktuasi harga ini. Ferdinand Troedu, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan SDM PT Phapros, mengungkapkan bahwa dampak ini tidak hanya dirasakan oleh industri farmasi, tetapi juga sektor industri lainnya secara luas.
Perusahaan mengakui adanya dampak signifikan terhadap operasional mereka, mengingat mayoritas bahan baku yang digunakan masih berasal dari impor. Bahan baku impor ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu langsung dan tidak langsung, yang keduanya sama-sama mengalami peningkatan harga. Oleh karena itu, Phapros telah merancang serangkaian strategi untuk memitigasi risiko dan menjaga keberlangsungan produksi obat-obatan esensial.
Langkah-langkah strategis ini meliputi renegosiasi dengan pemasok, pencarian sumber alternatif, hingga efisiensi proses produksi. Selain itu, dukungan kebijakan dari Kementerian Kesehatan juga turut menjadi faktor penting dalam membantu industri farmasi nasional beradaptasi. Upaya ini menunjukkan komitmen Phapros dalam memastikan ketersediaan obat bagi masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Advertisement
Advertisement
Langkah Adaptif Phapros Hadapi Tantangan Bahan Baku Impor
Dalam upaya mengatasi kenaikan harga bahan baku impor, PT Phapros Tbk menerapkan beberapa strategi kunci yang berfokus pada sisi pasokan dan produksi. Salah satu pendekatan utama adalah melakukan renegosiasi atau reprofiling dengan pemasok bahan baku. Renegosiasi ini dapat ditempuh melalui skema kontrak jangka panjang atau dengan meningkatkan volume kontrak, yang diharapkan dapat memberikan stabilitas harga dan pasokan.
Selain renegosiasi, Phapros juga aktif mencari alternatif sumber pemasok lain untuk bahan baku obat. Pencarian pemasok baru ini bertujuan untuk menciptakan lebih banyak pilihan, sehingga perusahaan memiliki daya tawar yang lebih baik dalam mendapatkan harga yang kompetitif. Diversifikasi pemasok juga mengurangi ketergantungan pada satu sumber, meminimalkan risiko gangguan pasokan.
Aspek efisiensi produksi juga menjadi perhatian utama Phapros. Ferdinand Troedu menjelaskan bahwa efisiensi ini bukan berarti pengurangan produksi, melainkan optimalisasi proses untuk menekan biaya-biaya operasional. Dengan proses produksi yang lebih efisien, Phapros dapat menjaga harga jual produk tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas atau kuantitas produksi.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Kebijakan Pemerintah dan Penguatan TKDN
Industri farmasi nasional mendapatkan dukungan signifikan dari pemerintah, khususnya melalui kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ida Rahmi Kurniasih, Direktur Produksi PT Phapros, mengungkapkan bahwa Kemenkes telah memberikan ruang bagi industri untuk menyesuaikan harga. "Kementerian Kesehatan menyampaikan kenaikan harga obat 10-20 persen masih bisa diterima," ujarnya, menandakan tingkat penerimaan pemerintah terhadap penyesuaian harga di tengah situasi global.
Selain itu, pemerintah juga mendorong maksimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Phapros telah mengambil langkah konkret dalam hal ini, seperti mengganti bahan baku garam atau NaCl yang sebelumnya diimpor dengan produk lokal. "Untuk Phapros, semua produk yang menggunakan NaCl sudah ganti ke lokal," tambah Ida Rahmi Kurniasih, menunjukkan komitmen perusahaan terhadap peningkatan TKDN.
Penguatan TKDN tidak hanya membantu mengurangi dampak fluktuasi mata uang asing, tetapi juga mendukung produsen bahan baku dalam negeri. Inisiatif ini selaras dengan upaya pemerintah untuk membangun kemandirian industri farmasi nasional. Dengan demikian, Phapros tidak hanya beradaptasi dengan tantangan global, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekosistem industri farmasi domestik.
Advertisement
Advertisement
Phapros dalam Ekosistem Industri Farmasi Nasional
PT Phapros Tbk menempati posisi penting dalam ekosistem industri farmasi nasional. Perusahaan ini merupakan bagian integral dari Kimia Farma Group, di mana 56,7 persen saham Phapros dimiliki secara langsung oleh Kimia Farma. Status ini menjadikan Kimia Farma sebagai pemegang saham mayoritas Phapros, menegaskan posisinya sebagai perusahaan pelat merah.
Sebagai anggota Kimia Farma Group, Phapros juga terintegrasi dalam holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh Bio Farma. Keterlibatan dalam holding ini memperkuat sinergi antarperusahaan farmasi milik negara, memungkinkan kolaborasi yang lebih erat dalam penelitian, pengembangan, produksi, dan distribusi obat-obatan. Struktur ini mendukung upaya kolektif untuk memastikan ketersediaan dan aksesibilitas obat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Keterlibatan Phapros dalam ekosistem BUMN farmasi juga mencerminkan komitmen terhadap ketahanan kesehatan nasional. Dengan dukungan dari holding dan kebijakan pemerintah, Phapros terus berupaya menjaga stabilitas pasokan obat dan berinovasi dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk fluktuasi harga bahan baku global.
Advertisement
Sumber: AntaraNews