Pemkab Pamekasan Ajukan Usulan Perbaikan 187 Sekolah Rusak ke Kemendikdasmen
Pemerintah Kabupaten Pamekasan mengajukan usulan perbaikan 187 sekolah rusak berbagai tingkatan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk tahun anggaran 2026, demi meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan di wilayah tersebu
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Jawa Timur, telah mengajukan usulan perbaikan terhadap 187 sekolah yang mengalami kerusakan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Usulan ini diajukan untuk direalisasikan pada tahun anggaran 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya serius Pemkab Pamekasan dalam meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan di seluruh wilayahnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, menjelaskan bahwa sekolah-sekolah yang diusulkan perbaikannya mencakup berbagai jenjang. Mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan menjadi prioritas dalam rencana perbaikan ini. Kondisi kerusakan yang bervariasi menjadi dasar utama pengajuan proposal tersebut.
Pengajuan perbaikan ini merupakan respons terhadap kondisi fasilitas pendidikan yang mendesak untuk segera ditangani. Sebanyak 187 sekolah ini tersebar di seluruh Pamekasan, menunjukkan skala permasalahan yang cukup luas. Diharapkan dengan adanya perbaikan ini, proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih optimal dan aman bagi para siswa.
Rincian Kondisi dan Jenis Kerusakan Sekolah di Pamekasan
Basri Yulianto memerinci lebih lanjut mengenai jumlah sekolah yang diusulkan perbaikannya. Untuk jenjang TK dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), terdapat 55 sekolah yang membutuhkan perbaikan. Sementara itu, Sekolah Dasar (SD) menjadi jenjang dengan jumlah usulan terbanyak, yaitu mencapai 103 sekolah. Adapun untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebanyak 29 sekolah juga masuk dalam daftar usulan perbaikan.
Jenis kerusakan yang dialami oleh 187 sekolah tersebut bervariasi, mulai dari rusak ringan, sedang, hingga rusak berat. Kerusakan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor usia bangunan yang sudah tua, tetapi juga oleh berbagai bencana alam. Beberapa penyebab kerusakan signifikan antara lain kebakaran, angin kencang, dan puting beliung yang melanda beberapa wilayah di Pamekasan.
Sebagai contoh, Basri menyebutkan SDN Jungcangcang 3 Pamekasan sebagai salah satu sekolah yang rusak karena faktor usia. Bangunan gedung sekolah tersebut sudah sangat tua dan sebagian strukturnya bahkan sudah ambruk, mengancam keselamatan siswa dan guru. Kondisi serupa juga terjadi di lembaga pendidikan lain yang memerlukan perhatian segera.
Dampak Kerusakan dan Upaya Pembelajaran Alternatif
Bencana alam telah memberikan dampak serius pada beberapa fasilitas pendidikan. Salah satu kasus yang menonjol adalah SDN Palengaan Laok 6, yang mengalami kerusakan parah akibat angin kencang. Tiga ruang kelas di sekolah ini rusak berat, sehingga tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Akibat kerusakan tersebut, para siswa SDN Palengaan Laok 6 terpaksa harus belajar di rumah-rumah warga. Situasi ini tentu saja mengganggu efektivitas pembelajaran dan kenyamanan siswa. Kondisi darurat semacam ini menunjukkan urgensi dari usulan perbaikan yang diajukan oleh Pemkab Pamekasan kepada Kemendikdasmen.
Perbaikan infrastruktur sekolah menjadi krusial untuk memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen, diharapkan ratusan sekolah di Pamekasan dapat segera direvitalisasi. Hal ini akan memungkinkan para siswa untuk kembali belajar di fasilitas yang layak dan mendukung pencapaian pendidikan yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews