Pasien Masih Koma, Dokter RSMH Palembang Suruh Keluarga Bawa Pulang
Kejadian itu dialami pasien inisial AH (49). Keluarga bingung sekaligus menyesalkan sikap rumah sakit.
Pelayanan Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang dikeluhkan keluarga pasien.
Pasalnya, pasien masih dalam keadaan koma malah disuruh dokter dibawa pulang. Kejadian itu dialami pasien inisial AH (49). Keluarga bingung sekaligus menyesalkan sikap rumah sakit.
Anak pasien, TT (22), mengaku menyesalkan keputusan tersebut di saat ayahnya, AH (49), dalam keadaan tak sadar dan perlu perawatan medis.
"Kami disuruh dokter bawa pulang ayah kami, padahal kondisinya masih koma," ungkap TT, Kamis (16/4/2026).
TT bercerita, ayahnya mengalami sakit kepala hebat pada Februari 2026 dan dibawa ke RS Charitas Myria Palembang. Dokter mendiagnosa ayahnya mengidap hipertensi dan cukup membaik setelah mendapat perawatan.
Kemudian, pada 19 Maret 2026, kesehatan ayahnya kembali memburuk. AH pun harus kembali masuk rumah sakit.
Ia mengalami penurunan kesadaran. Usai di CT Scan, terungkap pasien diagnosa terjadi penumpukan cairan di otak dan pembengkakan pembuluh darah di otak.
"Setelah empat hari dirawat, ayah saya dirujuk ke RSMH karena perlu penanganan lebih lanjut," kata TT.
Di RSMH, pasien langsung dirawat di ICU. Diagnosa dokter pun sama dengan hasil pemeriksaan di rumah sakit sebelumnya.
Kemudian pasien dipindahkan ke ruang paliatif dengan kondisi masih koma dan kadar hemoglabin (Hb) hanya di angka 4. Di saat itulah, dokter meminta keluarga membawanya pulang dan dirawat di rumah.
"Dokter bilang tidak bisa bantu lagi, kami tidak mengerti maksudnya," kata TT.
"Kami keberatan karena ayah saya masih koma. Kalau sudah membaik tidak ada masalah, ini sebaliknya, tidak mungkin dibawa pulang dengan kondisi seperti ini," kata TT.
Penjelasan Lengkap RSMH Palembang
Humas RSMH Palembang Suhaimi menjelaskan, pasien inisial AH ditetapkan dalam perawatan paliatif.
Secara awam, paliatif adalah perawatan khusus untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius (seperti kanker stadium lanjut, gagal jantung, atau penyakit terminal) serta keluarganya.
"Fokus utamanya bukan lagi menyembuhkan penyakitnya, melainkan meringankan gejala (nyeri/sesak), serta memberi dukungan emosional dan spiritual agar pasien nyaman," kata Suhaimi.
Berdasarkan pemantauan saat ini, kata Suhaimi, kondisi tanda-tanda vital pasien masih dalam keadaan stabil sehingga memungkinkan untuk dipulangkan dalam waktu dekat.
Rencana pemulangan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan perawatan lanjutan di rumah.
"Pihak rumah sakit memastikan bahwa seluruh kebutuhan pasien, termasuk penyediaan peralatan medis yang diperlukan, dapat terpenuhi sebelum pasien kembali ke lingkungan keluarga," kata Suhaimi.
Sebagai bagian dari pelayanan komprehensif, tim medis telah memberikan edukasi kepada keluarga pasien mengenai kondisi terkini pasien serta tata cara perawatan yang perlu dilakukan di rumah.
Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman keluarga dalam mendukung kualitas hidup pasien selama masa perawatan paliatif.
Selain itu, rumah sakit telah menyelenggarakan family meeting yang melibatkan keluarga pasien guna membahas rencana perawatan selanjutnya.
Dalam pertemuan tersebut, disampaikan berbagai hal penting yang perlu dipersiapkan sehingga keluarga dapat memberikan perawatan yang optimal, aman, dan berkesinambungan bagi pasien di rumah.
Suhaimi menjelaskan, kondisi pasien paliatif disarankan dirawat di rumah karena lingkungan rumah memberikan kenyamanan emosional dan rasa aman yang lebih besar dibandingkan fasilitas kesehatan.
Dukungan keluarga yang dekat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, mengurangi stres, serta memberikan ketenangan di masa akhir kehidupan.
Perawatan di rumah juga memungkinkan pendekatan yang lebih personal sesuai kebutuhan pasien, termasuk manajemen nyeri dan dukungan spiritual. Selain itu, biaya perawatan bisa lebih terjangkau dibandingkan rawat inap jangka panjang.
"Dengan perawatan yang tepat dari tenaga kesehatan dan keluarga, pasien dapat menjalani sisa waktu hidupnya dengan lebih bermartabat, nyaman, dan penuh kasih sayang," pungkas Suhaimi.