Panglima Kokam: Pasukan Kokam Tidak Tahu Cara Berbuat Jahat, Tak Datangi Pabrik Minta THR
Kader Pemuda Muhammadiyah yang tergabung dalam Kokam sebagai Sudirman Muda.
Panglima Tinggi Komando Kesiagsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Dzulfikar Ahmad Tawalla menyebut, kader Pemuda Muhammadiyah yang tergabung dalam Kokam sebagai Sudirman Muda. Panglima Besar yang menghantarkan kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajahan.
Pasukan Kokam juga Perisai NKRI karena ia lahir ditengah-tengah pergolakan ideologi Bangsa Indonesia. Kokam terus tumbuh dari para patriot-patriot bangsa terdahulu yang pendidikan dasarnya dilaksanakan melalui barak-barak TNI. Berikut pengukuhan dan pembaretan dilakukan di kantor-kantor kepolisian.
"Adalah Almarhum Jenderal (Pol) Sucipto Judodiharjo, Kapolri kala Itu, sosok yang begitu berperan dalam Pembekalan Kokam diawal," terang Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu dalam Apel Akbar KOKAM di Stadion Tridadi Sleman, Yogyakarta, Minggu (20/7).
Apel Akbar Kokam dihadiri jajaran pimpinan PP Muhammadiyah. Antara lain Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy.
Sejumlah petinggi Polri juga hadir seperti Irwasum Polri Komjen Dedi Prasetyo hingga Kapolda DIY Irjen Anggoro Sukartono.
Kader Muhammadiyah Tak Berkata Bohong
Dzulfikar mengungkapkan, pendidikan dasar terdahulu membuat Kokam tumbuh menjadi penjaga moralitas Bangsa. Tidak heran jika sebagian besar kader Kokam kerap Reaktif ketika menemukan bibit perusak moralitas. Dari perjudian hingga minuman keras.
"Pasukan Kokam ini adalah kader-kader unggul Muhammadiyah. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang dalam istilah Prof Haedar Laa yakunu khoo-inatan walaa syarron walaa mungkaron, orang-orang yang tidak tahu cara berkhianat, tidak tahu cara berbuat jahat dan tidak tahu berkata bohong," tegas Ketum Dzulfikar.
"Maka karena itulah tidak ada rumus mereka datangi pabrik-pabrik untuk minta THR, tidak ada jurus gertakan Akamsi (Anak Kampung Sini) demi mengejar setoran, dimana hal-hal tersebut bisa menghambat jalannya investasi di negara kita ini," tambahnya.
Disebutkan pula mengenai sejarah Pasukan Bhayangkara yang merupakan pasukan elit dari Patih Gajah Mada. Simbol kekuatan dan sejarah panjang Kerajaan Majapahit, yang salah satu ajaran dari Catur Prasetya adalah Doktrin Satya Haprabu ataukesetiaan kepada pemimpin dan negara.
Doktrin yang kemudian dimaknai Kokam menjadi tiga hal penting. Pertama Setya Ing Wacana (Setia Pada Perkataan), kedua Setya Ing Laku (Setia pada Perbuatan) dan ketiga Setya Ing Negoro (Setia Kepada Negara).
Dalam falsafah Bugis-Makassar disebut Siri Na Pacce, A’bulo Sibatang Accera Sitongka. Sebagai prinsip kesetiakawanan & solidaritas sosial. Maka tidaklah berlebihan jika Kokam menggunakan istilah Presiden Prabowo bahwa mereka adalah leader bukan follower.
"Bukan pula orang-orang apatis, mereka adalah pasukan yang responsif dan adaptif. Sehingga kapanpun, dimanapun persyarikatan & Negara membutuhkanMeraka siap siaga,” jelas Dzulfikar.
Kapolri Puji Kokam
Di tempat yang sama, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam amanat sebagai inspektur apel memuji militansi kader Kokam. Ia menyinggung bagaimana panitia apel sempat bersilaturahmi dan menyampaikan beberapa alternatif waktu kegiatan salah satunya adalah apakah diselenggarakan pagi, siang atau sore.
"Jadi kalau pagi sejuk ke panas, kalau siang panas ke panas, kalau sore panas ke sejuk. Namun karena saya ingin tahu militansi dari kader-kader Kokam saya memilih yang paling ekstrem, panas ke panas," ujar Sigit.
"Saya lihat semua militan dan penuh semangat," tambahnya.