Mengapa Israel Tunda Pembukaan Perlintasan Rafah? Ternyata Ada Syarat Tak Terduga!
Israel menunda pembukaan kembali perlintasan Rafah di Jalur Gaza, menimbulkan pertanyaan besar mengenai implementasi kesepakatan gencatan senjata. Apa alasan di balik penundaan pembukaan Rafah ini?
Ketidakpastian menyelimuti rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah di Jalur Gaza bagi warga, yang semula dijadwalkan pada Kamis lalu. Israel belum menetapkan tanggal resmi untuk pembukaan perbatasan penting ini, menimbulkan spekulasi dan kekhawatiran di tengah situasi konflik yang masih berlangsung.
Badan Koordinasi Pemerintah Israel di Wilayah Palestina (COGAT), yang berada di bawah militer dan bertanggung jawab atas aliran bantuan ke Gaza, menyatakan akan mengumumkan tanggal pembukaan kemudian. Pengumuman ini akan dilakukan setelah seluruh persiapan selesai dilakukan, bekerja sama dengan pihak Mesir.
Penundaan ini terjadi meskipun perlintasan Rafah sebelumnya dijadwalkan dibuka kembali pada Rabu sebagai bagian dari tahap pertama pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Kesepakatan tersebut mulai berlaku pada Jumat pekan lalu, memberikan harapan bagi warga di wilayah tersebut.
Ketidakpastian Jadwal Pembukaan Perlintasan Rafah
Rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah, satu-satunya jalur penghubung Gaza dengan dunia luar yang tidak berada di bawah kendali Tel Aviv, kini masih menggantung. Awalnya, perlintasan ini diharapkan dapat beroperasi kembali pada Rabu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Namun, COGAT, lembaga Israel yang mengelola urusan sipil di wilayah Palestina, belum memberikan kepastian mengenai jadwal tersebut. Mereka menegaskan bahwa tanggal resmi akan diumumkan setelah semua persiapan teknis dan administratif selesai dikoordinasikan dengan otoritas Mesir.
Sejak Mei 2024, militer Israel menutup akses keluar-masuk warga Palestina melalui perlintasan Rafah. Penutupan ini telah berlangsung sejak sebelum perang dimulai pada Oktober 2023, memperburuk kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Bantuan Kemanusiaan dan Klaim Israel
Di tengah ketidakpastian pembukaan perlintasan Rafah untuk warga, COGAT secara tegas menyatakan bahwa bantuan kemanusiaan tidak akan disalurkan melalui jalur tersebut. "hal tersebut tidak disepakati pada tahap mana pun," kata COGAT dalam pernyataannya.
Badan tersebut juga mengeklaim bahwa bantuan kemanusiaan "tetap disalurkan ke Jalur Gaza melalui perbatasan Kerem Shalom dan sejumlah pos lintas lainnya setelah menjalani pemeriksaan keamanan oleh Israel." Klaim ini muncul di tengah laporan bahwa Gaza sangat membutuhkan pasokan vital.
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan kapasitas jalur alternatif dalam menyalurkan bantuan yang memadai. Kondisi di Jalur Gaza semakin memprihatinkan setelah berbulan-bulan konflik, dengan kebutuhan mendesak akan makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal.
Syarat Tak Terduga: Jenazah Sandera dan Kesepakatan Gencatan Senjata
Laporan media Israel mengungkap alasan utama di balik penundaan pembukaan perlintasan Rafah. Tel Aviv menolak membuka kembali perlintasan tersebut hingga seluruh jenazah sandera Israel yang ditahan Hamas berhasil dikembalikan.
Hamas sendiri telah membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah 10 lainnya sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Sebagai imbalannya, hampir 2.000 tahanan Palestina telah dibebaskan, menunjukkan kompleksitas negosiasi yang sedang berlangsung.
Kelompok perjuangan Palestina itu, pada Rabu, menyatakan bahwa mereka "berupaya keras" mencari sisa jenazah para sandera lainnya. Upaya ini menjadi krusial untuk memenuhi syarat Israel dan membuka jalan bagi pembukaan penuh perlintasan Rafah.
Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas dicapai pekan lalu berdasarkan rencana yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tahap pertama mencakup pertukaran sandera Israel dengan tahanan Palestina, sementara tahap berikutnya melibatkan rekonstruksi Gaza serta pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa keterlibatan Hamas.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan hampir 68.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Konflik berkepanjangan ini juga telah membuat wilayah tersebut nyaris tidak layak huni, dengan kerusakan infrastruktur yang masif dan krisis kemanusiaan yang mendalam.
Sumber: AntaraNews