Masih Ingat Viral Guru Seberangi Jembatan Gantung Rusak? Kini Mereka Malah Minta Maaf
Menurut dia, mereka hanya inisiatif mendokumentasikan momen dramatis tersebut,
Viral guru sekolah dasar di Kabupaten Merangin upload perjalanan mereka melalui jembatan gantung penghubung antara Desa Simpang Limbur dan Desa Limbur yang rusak, alih alih diperbaiki malah pembuat konten disuruh minta maaf ke publik.
Salah seorang dalam video Guru SDN 117 di Desa Limbur, Kabupaten Merangin, Jambi bernama Risma mengatakan saat melintasi jembatan rusak mengaku tidak berniat menyudutkan pihak manapun atas aksinya tersebut.
Menurut dia, mereka hanya inisiatif mendokumentasikan momen dramatis tersebut, sebagai kenangan atas pengalaman baru mereka, yang mendidik di daerah pedalaman.
Lanjutnya, dalam video itu viral, kata Risma, itu di luar dugaannya. Tak pernah sedikitpun Risma berpikir bahwa video itu menyudutkan pihak lain.
"Niat saya murni hanya untuk menjalankan tugas, saya dan teman-teman tidak pernah berpikir menyudutkan pihak manapun," kata Risma, saat dikonfirmasi, pada Jumat (23/5).
Selain itu untuk permintaan maaf dalam video yang viral di publik tersebut, kata Risma, tidak perlu untuk melakukan permintaan maaf, karena dirinya tidak bersalah.
"Niat kami itu, ya jujur, hanya ingin mengantarkan kertas ujian anak-anak, biar anak-anak bisa ujian tepat waktu cuman itu," jelasnya.
Direspons Bupati Merangin M Syukur
Risma kemudian merespons pernyataan sejumlah pihak, termasuk Bupati Merangin M Syukur yang menyebut adanya jalur alternatif lain, menuju ke gedung madrasah, tempat sementara para siswa ujian.
"Itu kondisi jalur alternatif itu dalam kondisi rusak, dan berlumpur. Wah, kalau bapak mau tahu gimana jalan alternatifnya, bapak datang saja kesini, lihat sendiri, layak atau tidak dilewati," jelasnya.
Kondisinya, kata Risma, dalam kondisi musim hujan, jalan itu akan berlumpur, genangan air bisa mencapai 1 meter pada lubang bekas jalur roda mobil yang melintas.
"Kalau lewat sana, bisa-bisa kami tidak sampai di madrasah, lokasi anak-anak kami ujian," ujarnya.
Kemudian, terkait dengan video klarifikasi yang diunggah oleh Bupati Merangin M Syukur melalui media sosial instagram pribadinya (@sykur_algoodry), Risma menyebut ada orang yang mengaku dari media mendatangi dirinya, dan meminta untuk divideokan membuat pernyataan.
"Aduh, enggak tahu saya siapa, yang pasti bilangnya dari media. Jujur, sudah terlalu banyak media, saya gak tau lagi siapa," tuturnya.
Terpisah, Bupati Merangin M Syukur mengatakan bahwa untuk jembatan gantung di Desa Limbur sudah diperbaiki.
"Itu sudah selesai diperbaiki dan sudah bisa dilalui oleh masyarakat," katanya, saat dikonfirmasi pada Jumat (23/5).
Dalam hal tersebut, Bupati Merangin, menceritakan awal mula viral nya jembatan itu. Kata dia, kemungkinan guru itu, datang lebih awal sebelum tukang yang bekerja memperbaiki jembatan tiba di lokasi.
Syukur menjelaskan, bahwa guru yang ada dalam video tersebut tidak tinggal di desa itu, sehingga tidak membaca pengumuman, bahwa jembatan sementara tidak bisa dilalui.
Sehingga, guru itu, kata Syukur memaksa diri untuk melintasi jembatan. Pada momen melintas inilah, kegiatan guru itu didokumentasikan dalam sebuah video, dan menjadi viral.
"Mungkin tukangnya terlambat datang, nah ibu gurunya mungkin buru-buru, mau menyeberang.Kemudian langsung didokumentasikan, menurut dia kan untuk pribadinya dia, tapi diupload ke media sosial, sehingga muncul berbagai spekulasi,"jelasnya.
Menurut dia, anggaran perbaikan jembatan itu sudah disediakan sebesar Rp200 juta, yang berasal dari Dana Desa, dan ditargetkan rampung dalam 10 hari.
Lanjutnya, kata Syukur, sebenarnya ada akses lain, selain dari jembatan itu ada jalur alternatif lain, yang bisa dilalui menggunakan mobil.
"Tetapi memang itu jalannya masih baru, belum terawat. Ada juga jembatan alternatif, bisa diakses mobil, dan memang sedikit memutar, tetapi tidak jauh,"jelasnya.
Tidak hanya itu, di bawah jembatan gantung itu, juga disediakan perahu penyeberangan. Tetapi, pada peristiwa itu, pemiliknya belum datang.
Syukur sedikit mempertanyakan para guru itu, mengapa tidak bersabar menunggu tukang atau pemilik perahu tiba, justru memaksakan diri melewati jalur yang mengancam nyawa.
"Kalau masalah mengejar ujian siswa, sebenarnya ujian ini offline, bukan online, dalam hal inikan bisa aja ditunda misalnya jam berapa, nunggu perahu datang," tuturnya.