Lawatan Prabowo ke Luar Negeri Dinilai Langkah Strategis Perkuat Posisi Indonesia
Gerindra membela lawatan Presiden Prabowo ke Eropa. Kunjungan ke Prancis, Austria, dan Hungaria disebut bagian strategi diplomasi dan investasi.
DPP Partai Gerindra membantah anggapan bahwa rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke sejumlah negara Eropa merupakan pemborosan anggaran negara.
Partai berlambang Garuda itu menilai lawatan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global.
Juru Bicara DPP Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Sugiat Santoso, mengatakan kunjungan Presiden ke luar negeri diarahkan untuk memperkuat kerja sama ekonomi, investasi, hingga pertahanan nasional.
"Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup," kata Sugiat kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, pendekatan politik luar negeri yang dijalankan Prabowo mengedepankan diplomasi proaktif atau diplomasi ofensif. Strategi tersebut dilakukan dengan mengambil inisiatif membangun kerja sama dan memperjuangkan kepentingan nasional sebelum dipengaruhi kepentingan negara lain.
"Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur," ujarnya.
Tiga Negara Eropa Dinilai Punya Peran Strategis
Sugiat menjelaskan kunjungan Presiden Prabowo pada akhir Mei 2026 mencakup Prancis, Austria, dan Hungaria. Ketiga negara tersebut dinilai memiliki posisi penting bagi kepentingan Indonesia.
Prancis disebut sebagai salah satu kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat yang memiliki hubungan strategis dalam bidang pertahanan.
"Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron," katanya.
Sementara Austria dinilai memiliki kekuatan di sektor manufaktur presisi, termasuk industri mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, serta makanan dan minuman.
Adapun Hungaria dipandang sebagai salah satu pusat pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Eropa. Negara tersebut menjadi lokasi investasi sejumlah perusahaan besar seperti Samsung SDI dan CATL.
Datang Bukan Meminta Bantuan
Menurut Sugiat, posisi Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia menjadi modal penting dalam membangun kerja sama dengan negara-negara Eropa yang tengah mengembangkan industri kendaraan listrik.
"Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia," ujarnya.
Ia menilai langkah cepat pemerintah diperlukan mengingat perubahan teknologi baterai kendaraan listrik yang berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap nikel di masa depan.
Selain investasi hilirisasi, Sugiat menyebut kunjungan ke Prancis juga berkaitan dengan upaya memperkuat kerja sama pertahanan dan akses terhadap teknologi militer.
Menurut dia, manfaat yang diperoleh Indonesia dari kerja sama strategis tersebut jauh lebih besar dibandingkan biaya operasional perjalanan kenegaraan.
"Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat," katanya.
"Pak Prabowo sedang mempraktikkan hedging (keseimbangan geopolitik) tingkat tinggi agar Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun," sambungnya.
Sugiat menegaskan kunjungan Presiden ke luar negeri tidak hanya bersifat seremonial, melainkan bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di sektor ekonomi, industri strategis, dan pertahanan.
"Indonesia sedang dipimpin oleh seorang Patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri. Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis," kata Sugiat.