Lagu '17 Agustus' Ternyata Diciptakan oleh Sosok Keturunan Arab, Diminta Langsung oleh Bung Karno
Husein Mutahar, seorang tokoh keturunan Arab, memiliki kontribusi yang signifikan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Lagu "Hari Merdeka" yang selalu dinyanyikan setiap tanggal 17 Agustus bukan sekadar lagu biasa. Di balik lirik yang penuh semangat, terdapat kisah perjuangan seorang tokoh yang kurang dikenal oleh masyarakat, yaitu Husein Mutahar, sang pencipta lagu tersebut. Selain sebagai seorang komponis, Husein juga merupakan pahlawan yang berhasil menyelamatkan bendera pusaka dari cengkeraman penjajah. Menariknya, pencipta lagu patriotik ini berasal dari keluarga keturunan Arab yang sangat mengedepankan semangat nasionalisme. Ia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi bendera merah putih, serta menjadi tokoh kunci dalam pembentukan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Perjalanan hidup Husein Mutahar hingga mampu menciptakan lagu yang menjadi simbol kemerdekaan Indonesia sangatlah menarik untuk disimak. Siapakah sebenarnya Husein Mutahar dan apa kontribusinya yang signifikan dalam sejarah bangsa ini?
Komponis pejuang
Lagu "Hari Merdeka" diciptakan oleh Husein Mutahar, seorang komponis, pejuang, dan tokoh keprotokolan Indonesia. Karya ini lahir pada tahun 1946, setahun setelah Soekarno dan Hatta mengumandangkan kemerdekaan Indonesia. Lagu ini merupakan ungkapan penghormatan terhadap perjuangan kemerdekaan dan juga berfungsi untuk membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan masyarakat. Menurut informasi yang dirilis oleh ltnnujabar, Mutahar memiliki kepekaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kebangsaan, yang tercermin dalam karyanya.
Lirik lagu "Hari Merdeka" yang terkenal, "17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita," diciptakan untuk menanamkan ingatan kolektif bangsa Indonesia mengenai momen proklamasi yang sakral. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika lagu ini dengan cepat menjadi salah satu lagu wajib nasional. Keunikan dari lagu ini terletak pada melodi yang sederhana dan mudah diingat, sehingga dapat dinyanyikan oleh berbagai kalangan. Selain itu, "Hari Merdeka" sering dijadikan sebagai lagu pengiring dalam upacara bendera di seluruh Indonesia, dan posisinya setara dengan lagu kebangsaan dalam membentuk identitas nasional pascakemerdekaan.
Nasionalismenya tidak perlu diragukan
Nama lengkapnya adalah Sayyid Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Mutahar. Gelar "Sayyid" yang disandangnya menunjukkan bahwa ia berasal dari keturunan Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks budaya populer, gelar ini sering dipahami sama dengan "Habib". Meskipun ia memiliki darah Arab, sejak usia muda Mutahar terlibat aktif dalam organisasi pemuda yang berorientasi nasionalis. Ia pernah menjabat sebagai ketua cabang Persatuan Arab Indonesia (PAI) di Semarang, sebuah organisasi yang didirikan oleh A.R. Baswedan dengan tujuan untuk mendorong asimilasi dan semangat nasionalisme di kalangan keturunan Arab.
Keterlibatan Mutahar dalam PAI, serta aktivitasnya di bidang musik dan teater, sangat berpengaruh dalam membentuk identitasnya sebagai seorang seniman yang sekaligus memiliki jiwa nasionalis yang kuat. Ia tidak hanya berperan dalam dunia seni, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat rasa persatuan di antara komunitasnya. Dengan demikian, Mutahar menjadi sosok yang tidak hanya dikenal karena bakat seninya, tetapi juga karena dedikasinya terhadap bangsa dan negara.
Menjadi pahlawan yang berani melawan penjajah dan menjaga bendera pusaka
Selain dikenal sebagai seorang komponis, Mutahar juga merupakan seorang pejuang yang gigih. Ia bergabung dengan BKR Laut dan ikut serta dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Berkat keahliannya dalam mengemudikan mobil, Mutahar menjadi dikenal oleh Bung Karno dan diangkat sebagai ajudan. Saat Belanda menyerang Yogyakarta pada tahun 1948 dalam Agresi Militer II, Bung Karno melakukan koordinasi sebelum merencanakan pengibaran bendera pusaka Merah Putih menjelang peringatan HUT Kemerdekaan yang pertama di Yogyakarta. Dari situ, Mutahar mengusulkan gagasan untuk membentuk pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) yang awalnya terdiri dari sepuluh pemuda.
Inisiatif tersebut kemudian menjadi fondasi bagi pembentukan pasukan pengibar bendera yang saat ini dikenal sebagai Paskibra. Dengan semangat juang yang tinggi, Mutahar tidak hanya berkontribusi dalam bidang seni, tetapi juga dalam perjuangan kemerdekaan. Ia menunjukkan bahwa dedikasi dan kreativitas dapat berjalan beriringan dalam membangun bangsa. Melalui langkah-langkah yang diambilnya, Mutahar telah meninggalkan warisan yang berharga bagi generasi mendatang, menginspirasi banyak orang untuk berjuang demi cita-cita bangsa.
Diciptakan dalam kondisi darurat
Menurut informasi dari trunojoyo.ac.id, lagu "Hari Merdeka" diciptakan pada bulan Agustus 1946, tepat setahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, negara kita masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk belum diakuinya status kemerdekaan di kancah internasional serta seringnya terjadi gangguan militer dari pihak Belanda. Dalam situasi yang sulit ini, Soekarno menginginkan Mutahar untuk menciptakan sebuah lagu yang bukan hanya untuk seremonial, tetapi juga dapat menjadi sumber semangat bagi rakyat Indonesia.
Mutahar pun mengerjakan lagu tersebut dengan penuh ketekunan meskipun tidak memiliki akses ke studio rekaman yang memadai, serta tanpa dukungan orkestra lengkap. Ia menggunakan alat musik yang tersedia di keraton Yogyakarta untuk menyelesaikan karya ini. Tak disangka, lagu yang dihasilkan ternyata mendapat apresiasi tinggi dari Soekarno dan kini dikenal sebagai salah satu karya monumental bangsa. Semangat yang terkandung dalam lagu ini masih terasa hingga saat ini, sering dinyanyikan dalam berbagai upacara dan parade di seluruh Indonesia, serta menjadi lagu pengiring dalam berbagai lomba kemerdekaan.