Mengenal Husein Mutahar, Ajudan Soekarno yang Jadi Sosok Penting di Balik Sejarah Pemilihan Paskibraka
Siapa sangka di balik megahnya upacara 17 Agustus, ada sosok jenius yang menggagas pemilihan Paskibraka.
Setiap tahun, upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia selalu diwarnai dengan penampilan memukau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 RI di Halaman Istana Merdeka Jakarta pada 17 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto akan mengukuhkan 76 anggota Paskibraka pada Rabu 13 Agustus 2025.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, 76 anggota Paskibraka akan dikukuhkan sebelum gladi bersih upacara HUT ke-80 RI pada Kamis 14 Agustus 2025. Adapun anggota Paskibraka, pasukan upacara, hingga para pengisi acara HUT ke-80 RI telah melakukan gladi kotor di Istana Merdeka.
"Sebelum, sebelum Gladi (dikukuhkan). Rencana tanggal 13 (Agustus)," kata Prasetyo usai meninjau gladi kotor persiapan upacara HUT ke-80 RI di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (12/8).
Di balik kemegahan dan disiplin para pemuda-pemudi pilihan ini, terdapat gagasan brilian dari seorang tokoh bangsa bernama Husein Mutahar.
Dia adalah sosok yang pertama kali menginisiasi pembentukan Paskibraka, sebuah tradisi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan kemerdekaan.
Husein Mutahar, yang akrab disapa Bapak Paskibraka Indonesia, memiliki peran sentral dalam sejarah panjang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.
Gagasan Paskibraka
Gagasan awal pembentukan pasukan pengibar bendera ini muncul pada tahun 1946 di Yogyakarta, saat ibu kota negara masih berada di sana. Ide ini lahir dari kebutuhan untuk mengibarkan bendera pusaka dengan cara yang istimewa dan bermakna.
Sejak gagasan pertamanya, Husein Mutahar terus mengembangkan konsep Paskibraka hingga membentuk formasi yang dikenal luas saat ini, yaitu 17-8-45. Peran beliau tidak hanya sebatas penggagas, tetapi juga perancang seragam dan pembina semangat kebangsaan bagi para anggotanya.
Gagasan dan Evolusi Paskibraka di Tangan Mutahar
Gagasan awal Paskibraka muncul pada tahun 1946, saat peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI yang pertama di Yogyakarta. Presiden Soekarno memerintahkan ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka. Saat itulah, terlintas di benak Mutahar bahwa pengibaran bendera pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, sebagai simbol generasi penerus perjuangan bangsa.
Meski idealnya melibatkan pemuda dari seluruh Indonesia, situasi kala itu tidak memungkinkan. Oleh karena itu, Mutahar hanya melibatkan lima orang pemuda (tiga putra dan dua putri) yang kebetulan berada di Yogyakarta dan berasal dari berbagai daerah. Kelima pemuda ini melambangkan Pancasila, sebuah filosofi yang menjadi dasar negara Indonesia. Konsep pemilihan Paskibraka ini kemudian menjadi cikal bakal tradisi penting yang kita kenal sekarang.
Setelah sempat tidak menangani pengibaran bendera pusaka dari tahun 1950 hingga 1966, Husein Mutahar dipanggil kembali oleh Presiden Soeharto pada tahun 1967. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946, beliau kemudian mengembangkan formasi pengibaran menjadi tiga kelompok: Pasukan 17 (pengiring/pemandu), Pasukan 8 (pembawa bendera/inti), dan Pasukan 45 (pengawal). Jumlah ini merepresentasikan tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Pada masa ini, pemilihan anggota Paskibraka diprioritaskan dari pemuda anggota Pandu/Pramuka di Jakarta.
Selain formasi, Husein Mutahar juga mendesain sendiri seragam petugas Paskibraka yang terinspirasi dari pakaian khas Presiden Soekarno. Kontribusi Mutahar dalam membina semangat dan dedikasi para pemuda yang terlibat dalam Paskibraka sangat besar. Beliau berhasil menjadikan Paskibraka lebih dari sekadar upacara, melainkan sebagai wadah untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, disiplin, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, beliau layak disebut sebagai Bapak Paskibraka Indonesia.
Husein Mutahar Dikenal Komponis, Diplomat, dan Tokoh Bangsa
Husein Mutahar, dengan nama asli Habib Muhammad bin Husein al-Mutahar, lahir di Semarang pada tanggal 5 Agustus 1916. Beliau wafat pada 19 Juni 2004 di usia 87 tahun dan dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, sesuai dengan wasiatnya untuk dimakamkan bersama rakyat biasa. Perjalanan pendidikan Mutahar dimulai dari Europeesche Lagere School (ELS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Semarang, sebelum melanjutkan ke Algemene Middlebare di Yogyakarta dengan peminatan bahasa Melayu.
Sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1946-1947, Mutahar memilih untuk mengabdikan diri dalam gerakan revolusi nasional. Kiprahnya di pemerintahan dimulai sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI di Yogyakarta pada tahun 1945, kemudian menjadi ajudan Presiden Soekarno pada tahun 1946. Beliau juga pernah menjabat sebagai pegawai tinggi di Sekretariat Negara Yogyakarta, Duta Besar RI untuk Vatikan (1969-1973), serta Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri pada tahun 1974.
Serangkaian pengabdiannya kepada negara diganjar dengan berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera Pertama pada 16 Februari 1961 dan Bintang Gerilya pada 22 September 1949. Di luar perannya dalam Paskibraka, Husein Mutahar juga dikenal sebagai komponis lagu-lagu nasional dan kepanduan yang produktif. Karya-karyanya yang abadi meliputi "Hymne Syukur", "Mars Hari Merdeka", "Dari Sabang Sampai Merauke", dan "Himne Pramuka". Lagu "Dirgahayu Indonesiaku" bahkan menjadi lagu resmi ulang tahun ke-50 Kemerdekaan Indonesia, menunjukkan kekayaan kontribusi beliau di berbagai bidang.