Kyai Zaitun Rasmin Ajak Umat Tak Diam Melihat Masjid Al-Aqsha 'Terluka'
Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Kyai Zaitun Rasmin, menyerukan umat Islam untuk tidak berdiam diri melihat penutupan Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam, yang dianggap sebagai kedukaan besar.
KH Muhammad Zaitun Rasmin, Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, mengajak seluruh umat Islam untuk tidak berdiam diri menyaksikan penutupan Masjid Al-Aqsha. Penutupan kiblat pertama umat Islam selama lebih dari sebulan ini disebutnya sebagai 'luka' yang mendalam bagi seluruh Muslim di dunia. Seruan ini disampaikan Ustad Zaitun dalam Tabligh Akbar Nasional Wahdah Islamiyah yang berlangsung di Masjid Islamic Center Dato' Tiro, Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kyai Zaitun menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar berita biasa, melainkan sebuah kedukaan besar yang harus disikapi serius oleh umat Islam. Ia menyayangkan sikap diamnya sebagian besar umat Islam di tengah penderitaan saudara-saudara di Gaza yang terus terhimpit blokade zionis. Ketidakpedulian ini menjadi tantangan terbesar, padahal kabar penindasan tersebut sudah terang-benderang sejak bulan Ramadan lalu.
Sebagai Ketua MUI Bidang Ukhuwah, Kyai Zaitun juga menyoroti kurangnya gerakan dari umat Islam, mulai dari Maroko hingga Merauke, kecuali sebagian kecil yang mendapatkan rahmat Allah. Ia menekankan bahwa penutupan Masjid Al-Aqsha adalah sebuah kesedihan dan kedukaan yang besar bagi umat, dan Wahdah Islamiyah telah menyuarakan hal ini sejak awal.
Seruan Persatuan Umat dan Keprihatinan Global
Berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi di Palestina, Kyai Zaitun menarik benang merah ke arah situasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas. Ia mengingatkan agar semangat membela kemanusiaan tidak boleh dicoreng oleh tindakan yang justru merugikan sesama Muslim. Persatuan umat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global ini.
Kyai Zaitun menyoroti ketegangan yang terjadi antara Iran dan negara-negara Teluk, seraya berpesan agar energi perjuangan difokuskan sepenuhnya untuk melawan penjajah. Menurutnya, jika Iran fokus menyerang penjajah, maka simpati dari umat akan sangat besar kepada mereka. Ini menunjukkan pentingnya mengarahkan kekuatan pada tujuan yang benar dan mempersatukan umat.
Pentingnya Ketakwaan dan Keadilan dalam Berpikir
Ketajaman dalam melihat masalah global, menurut Kyai Zaitun, memerlukan kacamata ketakwaan, bukan sekadar hawa nafsu atau semangat yang meledak-ledak. Ia mengajak umat untuk bersikap objektif dan adil dalam menilai setiap situasi. Hal ini termasuk dalam menyikapi perbedaan mazhab seperti Syiah, di mana menjaga akidah adalah fundamental, namun tidak boleh menghilangkan rasa adil.
Kyai Zaitun menekankan pentingnya meluruskan pandangan dan bersikap adil, bahkan terhadap orang kafir sekalipun. Alquran sendiri memberikan petunjuk tentang hubungan kaum beriman dengan Romawi dan juga Persia, mengajarkan prinsip keadilan universal. Keadilan dalam berpikir ini harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui konstitusi perdamaian dunia.
Dukungan Wahdah Islamiyah untuk Pasukan Perdamaian dan Jihad Diri
Wahdah Islamiyah secara tegas mendukung penuh jika pemerintah mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. Kyai Zaitun menyatakan bahwa melaksanakan konstitusi perdamaian dunia dengan mendukung pengiriman pasukan ke Gaza adalah wajib. Baginya, ini juga merupakan bagian dari jihad bagi seorang Muslim, dan mereka yang bertugas akan merasa bangga atas persembahan tersebut.
Namun, perjuangan besar itu harus dimulai dari hal-hal kecil di dalam diri setiap individu. Kyai Zaitun mengajak umat untuk menghidupkan nilai-nilai Islam melalui ketakwaan yang nyata, berbagi dengan sesama di masa sulit, menahan amarah, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti. Ini adalah bentuk jihad pribadi yang fundamental untuk mencapai perdamaian yang lebih besar.
Sumber: AntaraNews