Korlantas Polri Optimalkan Teknologi untuk Kelancaran Operasi Ketupat 2026
Korlantas Polri mengandalkan infrastruktur teknologi canggih seperti ETLE, drone, dan body cam untuk memantau serta mengelola arus lalu lintas selama Operasi Ketupat 2026, menjamin kelancaran perjalanan masyarakat.
Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri telah mengimplementasikan infrastruktur teknologi mutakhir dalam pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan kelancaran dan keamanan arus lalu lintas selama periode mudik dan balik Lebaran. Operasi ini berlangsung selama 13 hari, dimulai dari tanggal 13 Maret hingga 25 Maret 2026.
Kepala Korlantas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi ini bertujuan memantau kondisi lalu lintas secara real-time. Berbagai perangkat seperti Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), drone, dan body cam akan digunakan. Teknologi ini akan menempel pada personel untuk melayani masyarakat di berbagai jalur.
Penggunaan teknologi canggih ini mencakup pemantauan di jalan tol, jalur arteri, hingga area pelabuhan. Dengan demikian, Korlantas Polri berupaya memberikan pelayanan optimal serta respons cepat terhadap dinamika lalu lintas. Ini merupakan bagian dari strategi pengamanan dan pelayanan selama Operasi Ketupat 2026.
Pemantauan Lalu Lintas Terintegrasi di Command Center
Pusat kendali dan pemantauan utama Operasi Ketupat 2026 berlokasi di Command Center KM 29 Cikarang, Bekasi. Dari titik ini, seluruh kondisi lalu lintas dapat dipantau secara komprehensif. Kakorlantas Agus Suryonugroho menjelaskan bahwa Command Center ini menjadi kunci dalam pengambilan keputusan manajemen rekayasa lalu lintas.
Apabila terjadi lonjakan arus kendaraan, terutama di jalan tol, tim di Command Center dapat memantau secara langsung. Sebagai contoh, jika terjadi peningkatan arus di KM 47, radar penghitung lalu lintas akan mendeteksi. Apabila terhitung 5.500 kendaraan per jam secara berturut-turut, rekayasa lalu lintas contraflow akan segera dieksekusi.
Penerapan rekayasa lalu lintas ini tidak didasarkan pada prediksi semata, melainkan pada kondisi riil di lapangan. Pemantauan Korlantas Polri melalui Command Center memastikan keputusan diambil berdasarkan data aktual. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan penanganan kemacetan.
Peran Drone dan Body Cam dalam Pelayanan dan Penindakan
Selain sistem pemantauan terpusat, Korlantas Polri juga memanfaatkan teknologi Drone Patroli Presisi. Drone ini memiliki kemampuan untuk memantau arus lalu lintas dari udara. Drone juga dapat digunakan untuk menindak pelanggar aturan lalu lintas.
Personel Korlantas yang bertugas di lapangan juga akan dilengkapi dengan 30 unit body cam. Perangkat ini akan digunakan untuk patroli dan interaksi langsung dengan masyarakat. Body cam membantu personel dalam memberikan imbauan serta pelayanan.
Contoh pelayanan yang diberikan adalah mengimbau masyarakat yang berhenti di bahu jalan tol untuk melanjutkan perjalanan. Personel tidak hanya membangunkan, tetapi juga memberikan makanan atau camilan sebagai bentuk pelayanan humanis. Ini menunjukkan komitmen Korlantas Polri dalam melayani masyarakat.
Skala Operasi dan Posko Pelayanan Korlantas Polri
Operasi Ketupat 2026 akan berlangsung selama 13 hari, mulai tanggal 13 Maret hingga 25 Maret 2026. Operasi ini melibatkan total 161.243 personel gabungan dari berbagai instansi. Pengerahan personel ini menunjukkan skala besar dari operasi tersebut.
Polri telah menyiapkan 2.746 pos di seluruh wilayah operasi. Pos-pos ini terdiri dari 1.624 pos pengamanan, 779 pos pelayanan, dan 343 pos terpadu. Seluruh pos berfungsi sebagai pusat informasi dan pelayanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan.
Pengamanan juga akan difokuskan pada 185.607 objek vital. Objek-objek ini meliputi masjid, lokasi salat Idul Fitri, objek wisata, pusat perbelanjaan, terminal, pelabuhan, stasiun kereta api, dan bandara. Fokus ini untuk menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Sumber: AntaraNews