Kisah Inspiratif Betha: Stroke Tak Halangi Raih Kepercayaan Diri Lewat Kopi Seraya Dago
Betha Siarif, penyintas stroke, bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali kepercayaan dirinya melalui Kopi Seraya Dago, sebuah kafe inklusif di Bandung. Kisah inspiratif ini akan membuat Anda terharu!
Hujan yang mulai turun di Wilayah Sekeloa, Kota Bandung, mengantarkan tim ANTARA mampir di kedai Kopi Seraya Dago yang terletak di Jalan Ciheulang Baru. Di balik senyum ramah pengelolanya, Betha Siarif (48), tersimpan kisah perjuangan luar biasa seorang penyintas stroke yang kini menemukan kembali kepercayaan dirinya.
Betha, yang tiba-tiba terserang stroke pada 21 Agustus 2020, kini mengelola kafe tersebut bersama istrinya, Gracia Damaris. Kedai ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga simbol kebangkitan dan wadah untuk bersosialisasi bagi Betha.
Melalui program Kemitraan Seraya yang didukung CIMB Niaga dan Yayasan Alunjiva, Betha berhasil mengubah keterpurukan menjadi peluang. Kafe "Seraya Kuliner Dago" yang didirikan pada 15 Mei 2024 ini menjadi bukti nyata semangat pantang menyerah dan inklusivitas.
Perjuangan Melawan Stroke dan Keterpurukan
Kisah Betha Siarif dimulai pada 21 Agustus 2020 ketika ia tiba-tiba terjatuh di kantornya, lima hari sebelum ulang tahunnya yang ke-43. Betha, yang saat itu menjabat asisten manajer Purchasing bahan baku di PT Otto Pharmaceutical Industries, didiagnosis terserang stroke akibat pecah pembuluh darah di otak kirinya.
Kondisi Betha sangat kritis, bahkan sempat koma selama 10 hari dan mengalami mati rasa di tubuh bagian kanan serta kesulitan bicara. "Saat itu saya dapat kabar dari teman kerja suami, bahwa dia sakit dan terjatuh di kamar mandi dan saya langsung diminta ke RS Borromeus Bandung karena Betha sudah langsung dibawa ke sana," kenang Gracia, istrinya.
Setelah operasi darurat dan masa pemulihan, Betha harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan ingatan dan Afasia, gangguan bahasa yang membuatnya kesulitan berkomunikasi. Keluarga bahkan harus membuat papan bergambar untuk membantu Betha menyampaikan kebutuhannya sehari-hari.
Puncaknya, Betha mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Desember 2020, menambah beban Gracia sebagai tulang punggung keluarga. Mereka harus pindah ke rumah orang tua Gracia dan memindahkan anak-anaknya ke sekolah reguler demi menghemat biaya.
Titik Balik: Pelatihan dan Kemitraan Seraya
Setelah dua tahun berjuang dan kondisinya mulai stabil, Betha dan Gracia memutuskan untuk mencari peluang baru. Mereka mengikuti berbagai pelatihan, termasuk pembudidayaan tumbuhan Biofarmaka dari BBVP BLK Lembang pada awal 2023, yang memberi mereka sertifikat sebagai pembudidaya tanaman obat.
Pengalaman ini membuka mata mereka bahwa Betha, dengan keterbatasannya, masih bisa berkarya. Pencarian terus berlanjut hingga mereka bertemu dengan Yayasan Alunjiva, sebuah lembaga nirlaba yang memberdayakan kaum disabilitas.
Melalui Alunjiva, Betha dan Gracia dipertemukan dengan program Kemitraan Seraya, inisiatif kolaborasi dengan CIMB Niaga. Program ini menawarkan pelatihan kewirausahaan dan dukungan untuk membuka usaha kuliner, yang sangat sesuai dengan minat mereka.
Betha menjadi salah satu dari lima peserta terpilih dari 150 peserta se-Indonesia yang melanjutkan pelatihan intensif di Kopi Sunyi Jakarta. Di sana, ia belajar seluk-beluk pembuatan kopi dan pengelolaan bisnis, mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang wirausahawan.
Kopi Seraya Dago: Lebih dari Sekadar Kedai Kopi
Pada Mei 2024, Betha dan Gracia menerima kabar gembira bahwa mereka terpilih sebagai mitra Kemitraan Seraya. Mereka mendapatkan bantuan berupa stall booth, peralatan, bubuk minuman, serta meja dan kursi kafe sebagai modal awal.
Dengan semangat baru, mereka mendirikan "Seraya Kuliner Dago" di garasi rumah orang tua Gracia di Sekeloa pada 15 Mei 2024. Kafe ini mengusung tagline "Homey Cafe: Run by Disabilities, Welcoming Everyone", mencerminkan visi inklusif mereka.
Gracia mengakui bahwa kafe ini belum menjadi sumber pendapatan utama keluarga karena lokasinya di jalan buntu. Namun, nilai terpenting dari Kopi Seraya Dago adalah kesempatan yang diberikannya kepada Betha.
Kafe ini menjadi wadah bagi Betha untuk berhubungan dengan berbagai pihak, bersosialisasi, dan yang paling utama, mengembalikan kepercayaan dirinya. "Saya senangnya dari ini, adalah kesempatannya baik untuk Betha di mana dia sekarang lebih nerimo (menerima) hatinya atas keadaan," ujar Gracia.
Peran CIMB Niaga dalam Pemberdayaan Disabilitas
Program Kemitraan Seraya adalah bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial CIMB Niaga yang berkolaborasi dengan Yayasan Alunjiva sejak 2021. Andiko Manik, Head of Region Jabar & Jateng CIMB Niaga, menjelaskan bahwa program ini awalnya melatih disabilitas menjadi barista.
Sejak 2023, konsep program Kemitraan Seraya diperluas dengan menambahkan pelatihan literasi keuangan, strategi pemasaran, dan akses permodalan. Tujuannya adalah membantu peserta bertransformasi menjadi wirausahawan mandiri di bidang kuliner.
Hingga saat ini, Kemitraan Seraya telah berhasil melahirkan enam wirausahawan disabilitas yang memiliki stall coffee sendiri dan berpenghasilan. CIMB Niaga juga terus memberikan pendampingan dan dukungan, termasuk permodalan tambahan seperti untuk pembangunan kanopi di Kopi Seraya Dago.
"Melalui program ini, kami ingin menegaskan komitmen untuk turut serta memberi kesempatan kepada teman disabilitas menjadi wirausaha di bidang kuliner, agar mereka bisa hidup mandiri dan mencapai kesetaraan," tegas Andiko. Kisah Betha menjadi inspirasi bahwa menerima keadaan dan terus bersemangat dapat membuka peluang baru, bahkan dalam keterbatasan.
Sumber: AntaraNews