Kabupaten Agam, Sumatera Barat, baru-baru ini dilanda bencana banjir bandang atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai galodo. Peristiwa yang terjadi pada akhir November 2025 ini secara signifikan memporak-porandakan Kecamatan Malalak dan Palembayan, menyebabkan kerugian besar termasuk korban jiwa dan hilangnya tempat tinggal warga.
Aktivitas ekonomi di daerah terdampak sempat terhenti total, bahkan banyak warga yang masih enggan memulai kembali usahanya. Namun, di tengah kondisi sulit ini, seorang ibu dua anak bernama Syafniwar menunjukkan semangat juang yang luar biasa.
Ia memberanikan diri untuk kembali membuka warung kulinernya, termasuk menjajakan Kopi Tungkuik, minuman khas Nagari Malalak yang telah menjadi buruan wisatawan. Kisah Syafniwar menjadi inspirasi tentang ketahanan dan harapan di tengah upaya pemulihan pasca-bencana yang sedang berlangsung.
Advertisement
Advertisement
Ketahanan Usaha di Tengah Badai Bencana
Warung milik Syafniwar, yang terletak di Jalan Lintas Malalak-Bukittinggi, turut menjadi korban keganasan galodo. Rumah sekaligus tempat usahanya tertimbun material longsor, memaksanya mengungsi demi keselamatan jiwa.
Selama beberapa pekan, Syafniwar dan warga setempat terisolasi akibat putusnya akses jalan dari Padang Pariaman maupun ke Bukittinggi. Kondisi ini melumpuhkan perekonomian, membuat warga hanya bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.
Seiring dengan upaya pemulihan infrastruktur jalan yang digencarkan oleh pemerintah, khususnya pembangunan jembatan bailey oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di kilometer 74, mobilitas warga dan aktivitas ekonomi mulai bergerak.
Advertisement
Syafniwar melihat momentum ini sebagai peluang untuk bangkit dan kembali memulai usahanya setelah sempat terhenti. Semangatnya untuk berdagang tidak patah meskipun trauma bencana masih menyelimuti.
Advertisement
Keunikan Kopi Tungkuik yang Melegenda
Selain menyajikan masakan Padang, Syafniwar terkenal dengan Kopi Tungkuik, sebuah minuman khas Malalak yang menjadi daya tarik tersendiri. Kopi ini hanya dapat ditemukan di Kecamatan Malalak dan satu gerai di pusat kuliner Upiak Banun, Kabupaten Padang Pariaman, yang dipasok langsung dari usaha Syafniwar.
Kopi Tungkuik memiliki cara penyajian yang sangat unik, yaitu diminum dengan gelas terbalik. Berbeda dengan kopi pada umumnya, penikmat Kopi Tungkuik harus meniup sisi lingkaran gelas menggunakan sedotan agar kopi keluar dari celah bibir gelas.
Ide penyajian yang out of the box ini berasal dari Syafniwar sendiri, yang percaya bahwa keunikan dapat menarik perhatian konsumen. Ia mengklaim sebagai orang pertama yang memperkenalkan Kopi Tungkuik sejak tahun 2017, sebelum kemudian diikuti oleh pedagang lain di sekitar Jalan Lintas Malalak.
Advertisement
Kopi robusta ini memiliki cita rasa khas yang diperkaya dengan campuran beras ketan hitam, memberikan pengalaman minum kopi yang berbeda dan tak terlupakan bagi para penikmatnya.
Advertisement
Dampak Bencana dan Harapan Pemulihan
Sebelum bencana galodo melanda, usaha Kopi Tungkuik Syafniwar sangat sukses, mampu menghabiskan hingga 500 kilogram kopi per bulan. Dari jumlah tersebut, satu kilogram kopi dapat menghasilkan sekitar 65 gelas, dengan harga jual Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per gelas, tergantung varian rasa.
Warungnya telah dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat Sumatera Barat, wisatawan dari provinsi tetangga, hingga publik figur seperti Ucok Baba.
Namun, pasca-bencana, omzet usaha Kopi Tungkuik milik Syafniwar mengalami penurunan drastis. Meskipun demikian, ia tetap optimis bahwa usahanya akan kembali bangkit seiring dengan percepatan perbaikan jalan dan pembangunan jembatan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Advertisement
Syafniwar percaya bahwa keberadaan warungnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga banyak orang yang mengharapkan warung-warung tetap buka di lokasi terdampak bencana. Hal ini sangat membantu para pekerja yang sedang membangun jembatan darurat dan memperbaiki jalan, yang sangat bergantung pada pedagang lokal untuk kebutuhan sehari-hari.
Advertisement
Kesetiaan Pelanggan dan Promosi Lokal
Kualitas dan keunikan Kopi Tungkuik telah menciptakan basis pelanggan setia. Farhan, seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran asal Bukittinggi, mengaku telah menjadi pelanggan sejak SMA. Setiap libur semester, ia menyempatkan diri untuk menikmati Kopi Tungkuik buatan Syafniwar, jauh-jauh dari Bukittinggi.
Menurut Farhan, cita rasa khas dan cara minumnya yang unik membuat Kopi Tungkuik layak mendapatkan nilai 9 dari 10. Ia bahkan sering merekomendasikan minuman ini kepada teman-teman kuliahnya di Bandung sebagai pengalaman wajib jika berkunjung ke Sumatera Barat.
Penikmat kopi lainnya, Fandi dari Kota Padang, juga mengungkapkan kekagumannya setelah pertama kali mencicipi Kopi Tungkuik saat meliput daerah bencana. Ia membenarkan bahwa rasanya sangat khas dan cara minumnya unik.
Advertisement
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sendiri sedang menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen di jalur Malalak menuju Bukittinggi. Proses ini membutuhkan kajian mendalam karena lokasi yang curam, terjal, serta melintasi hutan lindung dan konservasi.
Sumber: AntaraNews