Kepuasan Akademisi Program Riset Ditjen Risbang Kemdiktisaintek Capai 85,8 Persen
Survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan akademisi program riset yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kemdiktisaintek mencapai 85,8 persen, menandakan relevansi dan dampak positif.
Jakarta, 02 Januari 2026 – Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengumumkan hasil survei evaluasi program riset dan pengembangan tahun 2025. Survei ini mencatat tingkat kepuasan akademisi yang tinggi, mencapai 85,8 persen terhadap implementasi program-program tersebut. Angka ini dirilis di Jakarta pada Jumat, 2 Januari 2026, sebagai bagian dari Laporan Survei Evaluasi Program Ditjen Risbang 2025.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menyatakan bahwa survei tersebut juga menangkap persepsi positif mengenai relevansi dan dampak dari program-program yang dijalankan. Hasil ini menunjukkan bahwa inisiatif Ditjen Risbang telah diterima dengan baik oleh komunitas akademik.
Sebanyak 87,1 persen responden menyatakan bahwa program-program tersebut selaras dengan kebutuhan riset dan pengembangan institusi pendidikan tinggi. Sementara itu, 88,1 persen responden lainnya menilai program-program ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas riset, termasuk pengembangan talenta, luaran, jaringan, dan dampaknya secara keseluruhan.
Relevansi dan Dampak Program Riset yang Signifikan
Fauzan Adziman menegaskan bahwa temuan survei ini menggarisbawahi persepsi positif terhadap program Ditjen Risbang Kemdiktisaintek. Mayoritas responden, yaitu 87,1 persen, menganggap program-program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan riset dan pengembangan di lingkungan perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa arah kebijakan dan implementasi program telah sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan para pemangku kepentingan akademik.
Selain relevansi, dampak program riset juga mendapat penilaian yang sangat baik. Sebanyak 88,1 persen responden menyatakan bahwa program-program ini mendukung peningkatan kualitas riset secara menyeluruh. Peningkatan kualitas ini mencakup aspek pengembangan talenta peneliti, peningkatan kualitas luaran riset, perluasan jaringan kolaborasi, serta dampak positif yang dihasilkan bagi masyarakat dan institusi.
Fauzan menambahkan, “Temuan ini juga menunjukkan persepsi positif terhadap program-program Direktorat Jenderal, dengan 87,1 persen responden menyatakan bahwa program-program tersebut relevan dengan kebutuhan riset dan pengembangan institusi pendidikan tinggi, sementara 88,1 persen mengatakan bahwa program-program tersebut mendukung peningkatan kualitas riset, termasuk pengembangan talenta, luaran, jaringan, dan dampaknya.”
Partisipasi Luas dari Berbagai Institusi dan Wilayah
Survei evaluasi program ini melibatkan partisipasi yang luas dari 5.942 responden, terdiri dari dosen, peneliti, dan manajer riset dan pengembangan di berbagai institusi pendidikan tinggi. Keragaman responden ini memberikan gambaran komprehensif mengenai pandangan komunitas akademik terhadap program Ditjen Risbang.
Sebagian besar responden, yaitu 5.353 orang atau 90,0 persen, berasal dari institusi pendidikan tinggi akademik, sedangkan 589 responden atau 9,9 persen berasal dari institusi pendidikan vokasi. Secara institusional, universitas swasta mendominasi responden dengan 86 persen, diikuti oleh perguruan tinggi negeri berbadan hukum, perguruan tinggi negeri sebagai badan layanan umum, dan perguruan tinggi negeri dengan skema satuan kerja.
Distribusi responden secara regional juga cukup merata, dengan porsi terbesar berasal dari Jawa sebesar 39,50 persen. Wilayah lain yang turut berpartisipasi signifikan adalah Bali dan Nusa Tenggara (21,37 persen), Sumatra (19,08 persen), Sulawesi-Maluku-Papua (17,20 persen), dan Kalimantan (2,84 persen). Data ini menunjukkan jangkauan program yang luas di seluruh Indonesia.
Efektivitas Implementasi dan Kualitas Komunikasi Program
Hasil survei menunjukkan bahwa 85,7 persen responden menganggap implementasi program Ditjen Risbang Kemdiktisaintek efektif. Selain itu, 80,5 persen responden menyatakan bahwa durasi program sudah memadai, mencerminkan perencanaan yang cukup baik dalam pelaksanaan kegiatan riset.
Dalam hal dampak, 87,7 persen responden menyatakan bahwa luaran program memberikan manfaat nyata bagi dosen, mahasiswa, institusi pendidikan tinggi, dan masyarakat luas. Hal ini mengindikasikan bahwa program-program riset tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan tetapi juga pada kontribusi praktis.
Tingkat pemahaman terhadap program-program Ditjen Risbang juga cukup tinggi, mencapai 86,1 persen. Informasi yang disampaikan melalui saluran resmi dianggap jelas dan memadai oleh 87,9 persen responden, sementara jangkauan program dinilai optimal oleh 86,5 persen. Pedoman teknis mudah diakses oleh 87,7 persen, dan arah kebijakan riset dan pengembangan tersampaikan dengan jelas serta mudah dipahami oleh 85,9 persen responden.
Catatan Perbaikan untuk Program Riset yang Lebih Adaptif
Meskipun mencapai berbagai keberhasilan, survei ini juga mengidentifikasi beberapa area yang memerlukan penguatan lebih lanjut. Catatan perbaikan tersebut meliputi penyesuaian durasi program, penguatan saluran komunikasi, dan percepatan waktu respons. Selain itu, peningkatan perencanaan dan waktu pelaksanaan sosialisasi program juga menjadi perhatian.
Survei ini juga menyoroti adanya kesenjangan antara tingkat kebutuhan dan partisipasi dalam beberapa program strategis, khususnya dalam kolaborasi riset, hilirisasi, dan pengembangan talenta. Hal ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih proaktif untuk mendorong keterlibatan akademisi dalam area-area krusial tersebut.
Fauzan Adziman menyatakan, “Ke depannya, Ditjen Risbang akan terus menyempurnakan perencanaan, memperkuat layanan dan jangkauan, serta memastikan bahwa program riset dan pengembangan menjadi lebih adaptif, inklusif, dan memberikan dampak nyata bagi institusi pendidikan tinggi, masyarakat, dan pembangunan nasional.” Komitmen ini diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas dan relevansi program riset di Indonesia.
Sumber: AntaraNews