Inovasi BTN Loan Factory: Percepat Pemrosesan Kredit, Jaga Kualitas Portofolio
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) melalui BTN Loan Factory berhasil memangkas waktu pemrosesan kredit secara signifikan, dari 10-14 hari menjadi 4-7 hari, sekaligus memperkuat kualitas portofolio kredit.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan efisiensi layanan perbankan. Inovasi terbaru mereka, BTN Loan Factory, telah membawa perubahan signifikan dalam proses pengajuan kredit. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat layanan kepada nasabah.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengungkapkan bahwa operasional BTN Loan Factory mampu memangkas waktu pemrosesan kredit. Sebelumnya membutuhkan 10-14 hari, kini proses tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 4-7 hari saja. Percepatan ini merupakan bagian dari transformasi menyeluruh.
Selain kecepatan, sistem ini juga berhasil meningkatkan tingkat straight-through processing hingga hampir 70 persen. Sementara itu, tingkat rework atau pemrosesan ulang berhasil ditekan di bawah 15 persen. Ini menunjukkan peningkatan efisiensi dan akurasi yang substansial.
BTN Loan Factory Tingkatkan Efisiensi Pemrosesan Kredit
BTN Loan Factory menjadi tulang punggung dalam upaya perseroan untuk memperbaiki proses bisnis dari hulu hingga hilir. Tujuannya adalah agar pertumbuhan kredit yang dicapai menjadi lebih sehat, aman, dan berkelanjutan. Inisiatif ini mencerminkan fokus BTN pada kualitas layanan.
Peningkatan signifikan pada kecepatan pemrosesan kredit menjadi bukti nyata keberhasilan BTN Loan Factory. Dari rata-rata 10-14 hari, kini nasabah dapat menikmati keputusan kredit dalam waktu 4-7 hari. Efisiensi ini tentu berdampak positif pada pengalaman nasabah.
Tidak hanya mempercepat, BTN Loan Factory juga mengoptimalkan alur kerja internal. Tingkat straight-through processing yang mencapai hampir 70 persen menandakan sebagian besar aplikasi kredit dapat diproses tanpa intervensi manual tambahan. Ini mengurangi potensi kesalahan dan mempercepat penyelesaian.
Penekanan tingkat rework hingga di bawah 15 persen menunjukkan bahwa proses yang diterapkan lebih akurat dan minim kesalahan. Hal ini berkontribusi pada efisiensi operasional dan mengurangi biaya yang timbul dari pengulangan pekerjaan.
Pendekatan Cluster Collection untuk Pengelolaan Pembiayaan Lebih Fokus
Selain inovasi pada akuisisi kredit baru, BTN juga memperkuat pengelolaan pembiayaan melalui pendekatan cluster collection. Model ini dirancang untuk penanganan kredit berbasis segmentasi risiko yang lebih terperinci. Pendekatan ini mempertimbangkan karakteristik debitur secara mendalam.
Pendekatan cluster collection memungkinkan BTN untuk mengelola portofolio kredit secara lebih efektif. Ini mencakup pemantauan, restrukturisasi, dan penagihan yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing segmen. Tujuannya adalah untuk meningkatkan tingkat pemulihan kredit.
Dengan model penanganan kredit berbasis segmentasi risiko, proses monitoring dapat dilakukan secara lebih fokus. Restrukturisasi dan penagihan juga menjadi lebih cepat dan efektif. Ini membantu BTN dalam menjaga kualitas aset dan meminimalkan potensi kerugian.
Pendekatan ini juga mempertimbangkan perilaku pembayaran debitur, memungkinkan strategi yang lebih personal dan tepat sasaran. Ini merupakan bagian dari komitmen BTN untuk memastikan fungsi intermediasi berjalan secara sehat dan berkelanjutan.
Komitmen BTN dalam Pembiayaan Perumahan dan Pengelolaan Risiko
Sebagai bank dengan mandat utama dalam memperluas pembiayaan perumahan nasional, BTN berupaya mendukung akses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi masyarakat. Komitmen ini tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian yang tinggi. Manajemen risiko yang kuat menjadi prioritas utama.
Setiyo Wibowo menyatakan bahwa perbaikan kinerja ini merupakan hasil dari transformasi menyeluruh. Transformasi tersebut mencakup proses akuisisi kredit baru maupun pengelolaan portofolio eksisting. Penguatan pengelolaan kredit adalah upaya perseroan untuk menjaga kesehatan fungsi intermediasi.
Perseroan menargetkan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) dapat terus membaik. Targetnya adalah menjaga NPL di bawah 2,5 persen pada akhir tahun ini. Ini akan dicapai melalui penguatan kualitas kredit baru dan optimalisasi early warning system.
Strategi penagihan dan penyelesaian kredit yang semakin berbasis risiko juga akan diterapkan. Setiyo optimis transformasi proses kredit melalui factory loan ini akan memperkuat daya tahan bisnis BTN. Hal ini sekaligus mengukuhkan posisi BTN sebagai pemimpin pasar pembiayaan perumahan nasional.
Sumber: AntaraNews