Hadapi Cuaca Ekstrem, Polda dan Forkopimda Jatim Petakan Daerah Rawan Bencana
Menurut Irjen Pol Nanang, Polda Jatim menurunkan sekitar 1.400 personel gabungan dari berbagai instansi.
Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur menggelar Apel Gelar Pasukan Kesiapan Tanggap Darurat Bencana di Lapangan Mapolda Jatim, Rabu (5/11). Kegiatan ini diikuti oleh unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, serta sejumlah instansi pemerintah daerah sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi bencana di Jawa Timur.
Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, apel ini merupakan bentuk kesiapan bersama seluruh elemen dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
"Hari ini kita melaksanakan apel kesiapan tanggap darurat bencana secara serentak di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan agar benar-benar siap membantu masyarakat terdampak," ujarnya.
Menurut Irjen Pol Nanang, Polda Jatim menurunkan sekitar 1.400 personel gabungan dari berbagai instansi. Sementara di jajaran Polres dan Polresta se-Jawa Timur, sekitar 6.000 personel juga melaksanakan kegiatan serupa.
"Kami berkolaborasi dengan pemerintah daerah, TNI, BNPB, dan berbagai pihak terkait agar respons terhadap bencana bisa cepat dan tepat, karena ini menyangkut keselamatan jiwa masyarakat," tegasnya.
Dalam apel tersebut, Kapolda Jatim juga membacakan amanat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang menekankan pentingnya sinergi nasional dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim global.
2.606 Bencana di Indonesia Hingga 19 Oktober 2025
Berdasarkan data BNPB hingga 19 Oktober 2025, tercatat 2.606 bencana terjadi di Indonesia, terdiri dari 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan dan lahan, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, dan 4 erupsi gunung berapi. Akibatnya, 361 orang meninggal dunia, 37 orang hilang, dan lebih dari 5,2 juta orang mengungsi.
Dalam amanat tersebut juga disebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga negara dengan potensi bencana tertinggi di dunia berdasarkan World Risk Index 2025. Oleh karena itu, kecepatan dan ketepatan respons menjadi faktor kunci dalam penanganan bencana.
Kapolda Jatim menambahkan delapan penekanan penting bagi seluruh personel di lapangan, di antaranya deteksi dini, pemetaan wilayah rawan bencana, penyampaian imbauan kamtibmas, kesiapan sarana dan logistik, pelaksanaan simulasi tanggap darurat, kecepatan evakuasi dan distribusi bantuan, serta koordinasi lintas sektor.
"Kita diberi amanah untuk melindungi rakyat dari segala bahaya, termasuk bencana. Negara harus selalu hadir untuk memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat," ujarnya.