Gubernur Koster Akan Temui Desa yang Tak Gelar Bulan Bahasa Bali 2026
Gubernur Bali Wayan Koster berencana menemui kepala desa/kelurahan yang tidak melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali 2026, menegaskan komitmen Pemprov Bali dalam pelestarian bahasa, aksara, dan sastra daerah.
Gubernur Bali Wayan Koster akan mengambil langkah proaktif dengan menemui langsung kepala desa atau lurah yang tidak menyelenggarakan peringatan Bulan Bahasa Bali 2026. Langkah ini diambil menyusul laporan mengenai sejumlah wilayah yang absen dalam kegiatan pelestarian budaya penting tersebut. Koster menekankan pentingnya partisipasi semua pihak dalam menjaga warisan budaya Bali.
Koster menyatakan bahwa ia telah menerima laporan detail tentang masih adanya 45 desa/kelurahan serta beberapa desa adat dan lembaga pendidikan yang belum menggelar acara Bulan Bahasa Bali. Pertemuan ini bertujuan untuk memahami alasan di balik ketidakikutsertaan mereka dan mencari solusi. Sejak pertama kali digagas pada 2019, Bulan Bahasa Bali telah menjadi agenda rutin Pemprov Bali.
Inisiatif Gubernur Koster ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemprov Bali untuk memastikan pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali tetap lestari di tengah masyarakat. Partisipasi aktif dari seluruh elemen, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dianggap krusial untuk regenerasi dan keberlanjutan budaya Bali.
Komitmen Gubernur Koster dalam Pelestarian Bahasa Bali
Gubernur Wayan Koster menegaskan kembali komitmennya terhadap pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali melalui inisiatif Bulan Bahasa Bali. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas laporan mengenai sejumlah desa/kelurahan yang belum berpartisipasi dalam perayaan Bulan Bahasa Bali 2026. Koster ingin berdialog langsung dengan para pemimpin wilayah tersebut untuk memahami kendala yang dihadapi.
"Saya dapat laporan ada desa/kelurahan yang belum melaksanakan Bulan Bahasa Bali, Pak Kadis PMD tolong catat nanti saya undang jangan lah dibilang panggil, ini untuk diajak ngobrol kenapa mereka tidak menyelenggarakan,” ujar Koster di Denpasar. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan persuasif Gubernur dalam mendorong partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.
Partisipasi dalam Bulan Bahasa Bali dianggap sebagai wahana penting untuk regenerasi, terutama bagi generasi muda. Koster menyoroti bagaimana kegiatan seperti menyurat lontar dengan aksara Bali kini tidak hanya dilakukan oleh orang tua, tetapi juga menarik minat anak-anak dan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.
Tantangan Partisipasi di Tingkat Desa dan Lembaga Pendidikan
Data dari Dinas Kebudayaan Bali menunjukkan bahwa dari 716 desa/kelurahan se-Bali, sebanyak 671 desa/kelurahan telah melaksanakan kegiatan Bulan Bahasa Bali, namun masih ada 45 desa/kelurahan yang belum berpartisipasi. Wilayah yang belum melaksanakan tersebar di Badung (sembilan), Jembrana (tujuh), Bangli (11), Buleleng (11), Gianyar (enam), dan Klungkung (satu).
Selain desa/kelurahan, 12 dari 1.500 desa adat juga dilaporkan tidak menggelar Bulan Bahasa Bali. Gubernur Koster memaklumi kondisi desa adat ini, dengan beberapa di antaranya menghadapi masalah sehingga tidak mendapatkan bantuan APBD. Ia telah meminta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Adat (Kadis PMA) untuk segera menyelesaikan masalah tersebut agar desa adat dapat berpartisipasi di tahun berikutnya.
Ketegasan juga ditunjukkan terhadap lembaga pendidikan. Ditemukan masih ada tiga SMA/SMK yang tidak menggelar Bulan Bahasa Bali, padahal seluruh 16 SLB di Bali telah sukses menyelenggarakan kegiatan. Ini menunjukkan disparitas partisipasi di antara jenjang pendidikan yang berbeda dalam mendukung program Bulan Bahasa Bali.
Ragam Kegiatan dan Antusiasme Peserta Bulan Bahasa Bali
Meskipun ada tantangan partisipasi, Bulan Bahasa Bali 2026 secara keseluruhan mencatat keberhasilan dengan berbagai kegiatan yang menarik. Kepala Dinas Kebudayaan Bali Ida Bagus Alit Suryana melaporkan bahwa Pemprov Bali telah melaksanakan 12 kegiatan utama sepanjang Februari 2026. Kegiatan ini meliputi sesolahan (pertunjukan pembukaan) dan utsawa (festival) nyurat aksara Bali di berbagai sarana yang diikuti 200 siswa SD, SMP, SMA/SMK, dan praktisi.
Antusiasme terlihat dari 17 lomba atau wimbakara yang diikuti oleh 1.168 peserta, tidak hanya dari Bali tetapi juga dari luar pulau seperti Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan Sulawesi. Selain itu, ada dua widyatula (seminar) yang membahas lontar dengan 958 peserta, kriyaloka (lokakarya) diikuti 516 peserta, dan diskusi sastra diikuti 183 peserta.
Berbagai inisiatif lain juga turut memeriahkan Bulan Bahasa Bali, seperti sasolahan (panggung apresiasi sastra Bali) berisi pertunjukan oleh 12 sanggar, ruang belajar ramah anak oleh 525 siswa SD, reka aksara (pameran pemajuan bahasa Bali) dengan 1.429 pengunjung. Kegiatan ini juga mencakup utsawa atau festival mengetik aksara Bali dengan keyboard aksara diikuti 150 siswa SMA/SMK, konservasi 1.500 lontar, dan penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama.
Sumber: AntaraNews