Pekan Budaya Gianyar Hidupkan Kembali Seni Baleganjur Gianyar yang Khas
Pemerintah Kabupaten Gianyar mewadahi kreativitas seniman lokal melalui Pekan Budaya, bertujuan melestarikan dan menghidupkan seni Baleganjur Gianyar yang menjadi identitas budaya dan persiapan menuju Pesta Kesenian Bali.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar, Bali, secara aktif mewadahi kreativitas seniman lokal. Inisiatif ini bertujuan untuk menghidupkan kembali seni baleganjur, khususnya dalam mengiringi tari barong atau bebarongan, melalui penyelenggaraan Pekan Budaya Gianyar.
Kegiatan ini merupakan upaya nyata Pemkab Gianyar dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang hidup di desa adat. Tujuannya adalah untuk memastikan estetika baleganjur bebarongan tetap lestari sebagai bagian penting dari kearifan lokal di masing-masing kecamatan.
Seniman lokal menyambut baik pelaksanaan Pekan Budaya Gianyar ini, melihatnya sebagai ruang penting bagi mereka untuk berkreasi. Harapan besar muncul agar parade baleganjur bebarongan dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang, sekaligus menjadi langkah awal persiapan menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).
Baleganjur Bebarongan: Identitas Budaya Gianyar yang Dinamis
Seni baleganjur bebarongan memiliki irama yang dinamis dan telah menjadi salah satu identitas masyarakat Gianyar. Kesenian ini selalu hadir dalam setiap kegiatan keagamaan, menunjukkan keterikatan erat dengan tradisi dan spiritualitas masyarakat setempat.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menekankan pentingnya menjaga kelestarian estetika baleganjur bebarongan. Menurutnya, kesenian ini adalah bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal yang harus terus dipertahankan di setiap kecamatan.
Pihaknya berupaya menunjukkan cita karya kearifan lokal, sehingga esensi tradisi dan semangatnya tetap terjaga. Baleganjur bebarongan juga memiliki keterkaitan erat dengan tradisi yang disakralkan, seperti prosesi mengarak simbol spiritual Barong dan Rangda mengelilingi desa.
Ruang Kreativitas dan Regenerasi Seniman Baleganjur Gianyar
Pekan Budaya Gianyar memberikan ruang ekspresi yang berharga bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas mereka. Ini adalah kesempatan bagi seniman untuk mengembangkan dan menampilkan garapan-garapan baru dalam seni baleganjur.
Seniman I Wayan Sudirana mengapresiasi pelaksanaan acara ini dan berharap kegiatan serupa tidak hanya berhenti di tahun 2026. Ia berharap parade baleganjur bebarongan dapat terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, mengingat perannya sebagai ajang pemanasan sebelum Pesta Kesenian Bali.
Keberlanjutan acara ini sangat krusial untuk regenerasi seniman dan pengembangan seni baleganjur di Gianyar. Dengan adanya wadah seperti ini, potensi-potensi baru dapat bermunculan dan tradisi budaya dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Ragam Kreasi Baleganjur dari Berbagai Kecamatan
Dalam parade baleganjur bebarongan ini, masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas dan ciri khasnya. Mereka mengemas seni baleganjur bebarongan dengan memadukan unsur tradisi dan kearifan lokal yang unik.
Penampilan diawali oleh Sekaa Gong Satya Jnana dari Kecamatan Gianyar yang mempersembahkan garapan berjudul Nyapuh. Kemudian, dilanjutkan oleh Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara dari Kecamatan Ubud dengan garapan Gerinsing. Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana dari Kecamatan Tegallalang membawakan garapan Bwah Rong, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari dari Kecamatan Blahbatuh dengan sajian berjudul Swara Raksa.
Selanjutnya, Pesraman Satya Kumara Shanti dari Kecamatan Payangan menghadirkan garapan Ruwat Mala, lalu Sekaa Gong Sila Pertipa dari Kecamatan Sukawati dengan garapan Sida Arsa. Pementasan ditutup oleh Sekaa Balaganjur Gandara Shanti dari Kecamatan Tampaksiring melalui garapan berjudul Lawat Liwat.
Sumber: AntaraNews