Fakta Unik: Erupsi Gunung Lewotobi Paksa IFG Marathon Labuan Bajo 2025 Batal Digelar
Lomba lari bergengsi IFG Marathon Labuan Bajo 2025 resmi dibatalkan di Labuan Bajo akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Pembatalan ini dilakukan untuk menghindari terulangnya pengalaman buruk bagi para peserta.
Lomba lari tahunan Indonesia Financial Group (IFG) Labuan Bajo Marathon yang sedianya digelar pada tahun 2025 dipastikan batal dilaksanakan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Keputusan ini diambil menyusul aktivitas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terus-menerus terjadi di Kabupaten Flores Timur. Pembatalan ini diumumkan oleh Wakil Bupati Manggarai Barat (Mabar), Yulianus Weng, pada Sabtu lalu.
Yulianus Weng menjelaskan bahwa lokasi penyelenggaraan IFG Marathon akan dipindahkan dari Labuan Bajo ke tempat lain. Hal ini merupakan langkah antisipasi setelah insiden pada November 2024 lalu, di mana erupsi gunung tersebut menyebabkan gangguan serius. Penutupan Bandara Komodo di Labuan Bajo kala itu berdampak langsung pada ribuan peserta yang hendak mengikuti ajang sport tourism tersebut.
Pengalaman buruk tersebut menjadi pertimbangan utama bagi penyelenggara dan pemerintah daerah untuk membatalkan event di Labuan Bajo pada tahun 2025. Banyak pelari yang tertunda keberangkatannya dan harus menggunakan transportasi laut sebagai alternatif. Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan para peserta IFG Marathon Labuan Bajo.
Dampak Erupsi Gunung Lewotobi Terhadap Event Internasional
Pembatalan IFG Marathon Labuan Bajo 2025 menjadi bukti nyata dampak signifikan erupsi gunung berapi terhadap sektor pariwisata dan penyelenggaraan acara besar. Pada November 2024, saat IFG menyelenggarakan lomba lari dengan konsep sport tourism, erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki telah menyebabkan Bandara Komodo, Labuan Bajo, ditutup. Akibatnya, banyak peserta IFG Labuan Bajo Marathon mengalami penundaan keberangkatan.
Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, secara langsung menyampaikan kekhawatiran tersebut. "Itu pengalaman buruk, sehingga pada waktu itu ada banyak sekali pelari yang tertunda keberangkatannya, mesti menggunakan transportasi laut," ungkapnya. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak terkait untuk tidak mengambil risiko serupa di masa mendatang, terutama mengingat status Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih aktif.
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki memang menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Dalam enam jam periode pengamatan pada Sabtu pukul 06.00 WITA hingga Pukul 12.00 WITA, gunung tersebut mengalami tujuh kali erupsi. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Lewotobi Laki-laki, Yosef S Mboro, melaporkan bahwa tinggi letusan mencapai 1.000-2.500 meter dengan asap kelabu.
Upaya Pemkab Manggarai Barat dan Status Gunung Lewotobi
Meskipun IFG Marathon Labuan Bajo 2025 batal, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat tidak menyerah begitu saja. Pemkab Mabar terus mendorong agar IFG Labuan Bajo Marathon dapat dilaksanakan kembali di Labuan Bajo pada tahun 2026. "Kami upayakan kalau bisa tahun depan kembali lagi ke Labuan Bajo," kata Yulianus Weng, menunjukkan komitmen untuk mengembalikan event tersebut ke destinasi pariwisata super prioritas itu.
Sementara itu, kondisi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur (Flotim) masih memerlukan kewaspadaan tinggi. Ketujuh erupsi yang terjadi tercatat dengan amplitudo 14.8-44.4 mm dan durasi 23 detik hingga 614 detik. Selain itu, terjadi juga tremor menerus (Microtremor) dengan amplitudo 14.8-22.2 mm (dominan 14.8 mm), menunjukkan aktivitas vulkanik yang berkelanjutan.
Secara visual, asap kawah bertekanan sedang hingga kuat teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 1000-2500 meter di atas puncak kawah. Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada Status Level IV (Awas). Masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius enam kilometer dan sektoral barat daya-timur laut tujuh kilometer dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki demi keselamatan bersama.
Sumber: AntaraNews