Penanganan 1.313 Pengungsi Gempa Flores NTT Terus Berlanjut, Bantuan Mendesak Disalurkan

Gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan 1.313 pengungsi Gempa Flores NTT membutuhkan penanganan intensif. Simak upaya tim gabungan dan kebutuhan mendesak di lokasi bencana.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penanganan 1.313 Pengungsi Gempa Flores NTT Terus Berlanjut, Bantuan Mendesak Disalurkan
Gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan 1.313 pengungsi Gempa Flores NTT membutuhkan penanganan intensif. Simak upaya tim gabungan dan kebutuhan mendesak di lokasi bencana. (AntaraNews)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sebanyak 1.313 pengungsi terdampak gempa bumi di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kini dalam penanganan petugas gabungan. Peristiwa ini terjadi setelah serangkaian gempa mengguncang wilayah tersebut sejak Rabu (8/4) dini hari.

Tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan dinas teknis terkait terus berupaya memberikan bantuan serta memastikan keselamatan warga. Fokus utama penanganan adalah penyediaan tempat tinggal sementara dan kebutuhan logistik bagi para korban.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 tersebut berpusat di darat, sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka, pada kedalaman lima kilometer. Guncangan kuat dirasakan selama dua hingga empat detik, memicu kerusakan signifikan di beberapa desa.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa dampak gempa terasa di beberapa desa di Kecamatan Adonara dan Solor Timur. Desa Terong, Lamahala Jaya, Dawata, Karing Lamalouk, Waiwerang, Ipi Ebang, Motonwutun, dan Watobuku menjadi wilayah yang paling terdampak.

Data terbaru BNPB menunjukkan bahwa sebanyak 238 unit rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat guncangan gempa. Selain itu, tiga rumah ibadah, empat fasilitas pendidikan, dan dua fasilitas umum juga turut rusak.

Tercatat ada 10 orang mengalami luka ringan dari total 285 keluarga atau 1.313 jiwa yang menjadi pengungsi mandiri. Angka ini menunjukkan skala kebutuhan penanganan dan bantuan yang harus segera dipenuhi.

Abdul Muhari menegaskan bahwa penanganan lanjutan masih berlangsung oleh tim petugas gabungan di lapangan. BPBD telah mendirikan tenda pengungsi dan tenda keluarga di beberapa titik yang mudah dijangkau masyarakat dan dipastikan aman dari potensi bencana susulan.

Tenda pengungsi berukuran 6x12 meter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga sebagai pos layanan kesehatan dan posko darurat. Meskipun demikian, BNPB melaporkan belum ada lokasi pengungsian terpusat hingga saat ini.

Mayoritas warga terdampak saat ini lebih memilih mendirikan tenda mandiri di dekat rumah mereka atau mengungsi di rumah kerabat. Pilihan ini didasari oleh kekhawatiran akan gempa susulan yang masih sering terjadi, terutama saat malam hari.

Kebutuhan akan tenda pengungsi dan tenda keluarga menjadi sangat mendesak di Flores Timur. Stok tenda sebelumnya telah digunakan untuk penanganan darurat erupsi Gunungapi Lewotobi Laki-Laki. BPBD Provinsi NTT dan BNPB kini sedang mendistribusikan tenda, logistik, serta peralatan lain yang dibutuhkan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 4,7 yang terjadi pada Rabu (8/4) dini hari. Gempa tersebut memicu kepanikan di kalangan warga Flores Timur.

Hasil pemantauan sistem sensor getaran BMKG menunjukkan adanya 48 aktivitas gempa bumi susulan. Gempa susulan ini masih dirasakan oleh warga di pesisir Pulau Adonara hingga saat ini.

Situasi ini menambah kewaspadaan masyarakat dan petugas gabungan dalam menghadapi potensi bencana lanjutan. Pentingnya informasi akurat dari BMKG membantu dalam mitigasi dan respons bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi