Fakta Unik DNA: Tim DVI Lakukan Tes DNA pada 2 Jasad WNI Korban Heli Jatuh Kalsel
Dua jasad WNI korban helikopter jatuh di Kalsel yang hangus terbakar akan menjalani tes DNA oleh Tim DVI. Penasaran mengapa proses tes DNA ini krusial untuk identifikasi?
Proses identifikasi korban kecelakaan helikopter di Kalimantan Selatan terus berlanjut. Tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) Polda Kalsel mengambil langkah krusial untuk memastikan identitas dua jasad Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditemukan dalam kondisi hangus terbakar. Keputusan ini diambil setelah data post-mortem menunjukkan keterbatasan signifikan dalam proses identifikasi.
Helikopter BK117 D3 yang terlibat dalam insiden ini jatuh di kawasan hutan Desa Emil Baru, Mentewe, Tanah Bumbu. Insiden nahas ini terjadi setelah helikopter tersebut hilang kontak pada Senin (1/9) sekitar pukul 08.54 WITA. Bangkai helikopter akhirnya ditemukan pada Rabu (3/9), dan seluruh jasad berhasil dievakuasi pada Kamis (4/9) malam.
Dari total delapan korban, enam di antaranya sudah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI. Namun, dua jasad WNI yang belum teridentifikasi memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan mendalam. Oleh karena itu, tes DNA menjadi metode terakhir yang paling akurat untuk menguak identitas pasti dari kedua korban tersebut.
Mengapa Tes DNA Menjadi Pilihan Utama?
Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr Muhammad El Yandiko menjelaskan alasan di balik keputusan untuk melakukan tes DNA. Menurutnya, meskipun data antemortem atau data saat korban masih hidup cukup lengkap, kondisi jasad menjadi kendala utama. Dua jenazah WNI ditemukan dalam kondisi hangus terbakar, sehingga menyulitkan identifikasi melalui metode konvensional.
Kondisi jasad yang rusak parah menyebabkan pemeriksaan data post-mortem sangat terbatas. Ini memaksa tim DVI untuk mengambil langkah terakhir yang paling pasti, yaitu tes DNA. Yandiko menegaskan, “DNA adalah bukti otentik, setiap orang memiliki rumus DNA berbeda,” yang menjadikannya metode identifikasi paling valid.
Sampel telah diambil dari kedua jasad WNI yang hangus tersebut. Sampel ini kemudian akan diperiksa secara mendalam di laboratorium khusus yang berlokasi di Jakarta. Proses ini diharapkan dapat memberikan kepastian identitas korban, memberikan kejelasan bagi keluarga yang menunggu.
Tantangan dan Waktu Proses Tes DNA
Proses tes DNA ini diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar dua minggu. Yandiko menjelaskan bahwa lamanya waktu ini disebabkan oleh kualitas sampel DNA yang tidak begitu bagus. Kondisi jenazah yang rusak berat akibat terbakar mempengaruhi integritas dan kuantitas sampel DNA yang dapat diambil.
Kualitas sampel yang buruk memerlukan penanganan khusus dan proses ekstraksi yang lebih rumit di laboratorium. Hal ini dilakukan untuk memastikan hasil identifikasi tetap akurat dan tidak bias, meskipun dihadapkan pada tantangan teknis. Tim laboratorium akan bekerja ekstra keras untuk mendapatkan profil DNA yang jelas dari sampel yang ada.
Dua jasad WNI yang belum teridentifikasi adalah Kapten Haryanto Tahir yang berasal dari Kota Batam, Kepulauan Riau, dan Andys Rissa Pasulu dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Identifikasi mereka sangat penting tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga untuk melengkapi data investigasi kecelakaan. Kejelasan identitas akan membawa ketenangan bagi pihak keluarga yang berduka.
Kronologi Kecelakaan Helikopter BK117 D3
Helikopter BK117 D3 membawa delapan orang saat insiden terjadi, terdiri dari seorang pilot, seorang teknisi, dan enam penumpang. Pilot yang belum teridentifikasi adalah Kapten Haryanto Tahir, sementara teknisi bernama Hendra Darmawan dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Enam penumpang lainnya termasuk Mark Werren (Australia), Santha Kumar Prabhakaran (India), Claudine Pereira Quito (Brasil), Iboy Irfan Rosa (Kabupaten Kuantan Singingi, Riau), Yudi Febrian Rahman (Pekan Baru, Riau), dan Andys Rissa Pasulu (Kota Balikpapan, Kalimantan Timur). Tiga di antaranya adalah Warga Negara Asing (WNA) dan tiga lainnya WNI.
Tim SAR menemukan bangkai helikopter di titik 03° 5’6” S – 115° 37’39.07” E, yang berada di kawasan hutan sekitar Desa Emil Baru, Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu, Kalsel. Penemuan ini terjadi pada Rabu (3/9) sekitar pukul 14.45 WITA, setelah helikopter hilang kontak.
Helikopter tersebut hilang kontak pada Senin (1/9) sekitar pukul 08.54 WITA. Bangkai ditemukan sekitar 700 meter dari titik koordinat yang sebelumnya diberikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Seluruh jasad berhasil dievakuasi Tim SAR pada Kamis (4/9) malam sekitar pukul 21.50 WITA, menandai berakhirnya operasi pencarian dan evakuasi.
Sumber: AntaraNews