DPRD DKI Minta Pemprov Antisipasi Banjir dan Longsor DKI Akibat Cuaca Ekstrem, Apa Saja yang Perlu Dilakukan?
Menjelang musim hujan, Komisi D DPRD DKI Jakarta mendesak Pemprov untuk serius antisipasi banjir dan longsor DKI akibat cuaca ekstrem. Apa saja langkah mitigasi yang harus segera diambil?
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda Ibu Kota. Permintaan ini disampaikan guna mengantisipasi banjir dan tanah longsor yang berpotensi terjadi di berbagai wilayah Jakarta. Langkah proaktif dan komprehensif sangat diperlukan untuk melindungi warga dari dampak buruk musim hujan.
Yuke menyoroti beberapa aspek krusial yang memerlukan perhatian serius, termasuk masalah saluran air yang kerap menjadi penyebab utama genangan, potensi tanah longsor di wilayah tertentu, serta kondisi pohon-pohon besar yang rawan tumbang. Ia menekankan pentingnya mitigasi bencana secara menyeluruh agar jumlah warga terdampak dapat diminimalkan. Koordinasi lintas instansi juga harus terus ditingkatkan agar penanganan dapat berjalan efektif.
Selain itu, politisi PDI Perjuangan ini juga mengingatkan Pemprov DKI untuk memperhatikan potensi peningkatan debit air dari hulu sungai saat musim hujan tiba. Berbagai upaya teknis seperti pengerukan kali dan pengecekan infrastruktur air harus segera dilakukan sebagai bagian dari strategi antisipasi. Sosialisasi kepada masyarakat juga dinilai vital untuk mencegah pembuangan sampah sembarangan yang dapat memperparah kondisi saluran air.
Prioritas Mitigasi: Saluran Air dan Pohon Tumbang
Dalam menghadapi cuaca ekstrem, Yuke Yurike menekankan pentingnya penanganan saluran air dan kondisi pepohonan di Jakarta. Menurutnya, selain persoalan saluran air yang kerap menjadi penyebab banjir, tanah longsor di wilayah tertentu juga perlu menjadi perhatian serius Pemprov DKI. Hal ini membutuhkan pemetaan dan penanganan khusus di area-area rawan.
Yuke juga menyoroti kondisi pohon-pohon besar yang tersebar di seluruh Jakarta. Ia meminta Dinas Pertamanan untuk melakukan penopingan secara berkala guna mencegah pohon tumbang saat musim hujan yang biasanya dibarengi dengan angin kencang. "Ditambah lagi kondisi pohon-pohon besar yang ada di Jakarta harus diperhatikan oleh Dinas Pertamanan. Jika perlu, lakukan penopingan untuk mencegah pohon tumbang, karena saat musim hujan, biasanya dibarengi dengan angin kencang," kata Yuke.
Langkah mitigasi bencana banjir juga sangat penting untuk menekan jumlah warga yang terdampak. Yuke menjelaskan bahwa evakuasi korban banjir membutuhkan waktu dan koordinasi yang baik. "Mitigasi banjir sangat penting, karena evakuasi terhadap korban banjir membutuhkan waktu, dikarenakan kondisi mendadak dan serentak, walaupun sejauh ini koordinasi lintas instansi cukup baik dan profesional," ujar Yuke.
Kesiapan Infrastruktur dan Sumber Daya Air
Aspek kesiapan infrastruktur air menjadi poin penting dalam upaya antisipasi banjir dan longsor DKI. Yuke Yurike menyoroti potensi peningkatan debit air dari hulu saat musim hujan, sehingga langkah pengerukan kali harus segera dilakukan. Pengecekan saluran air, turap, tanggul, dan jembatan juga dinilainya sebagai tindakan preventif yang tidak boleh ditunda.
Ia menegaskan bahwa antisipasi harus dilakukan sejak awal agar Pemprov tidak terkesan tidak siap menghadapi dampak musim hujan. "Antisipasi harus kita lakukan sejak awal. Jangan sampai Pemprov tidak siap dalam menghadapi dampak dari musim hujan pada akhir tahun 2025 ini," ucap Yuke, menekankan urgensi persiapan dini.
Secara teknis, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta diharapkan dapat melakukan pengecekan titik-titik genangan yang terjadi saat ini. Evaluasi terhadap titik-titik yang sudah dilakukan pembenahan juga perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitasnya dalam mengurangi banjir. Hal ini penting untuk perbaikan dan perencanaan jangka pendek maupun menengah.
Peran Serta Masyarakat dan Evaluasi Berkelanjutan
Selain upaya teknis dan infrastruktur, Yuke Yurike juga menyoroti pentingnya peran serta masyarakat dalam antisipasi banjir. Sosialisasi kepada masyarakat harus terus digencarkan untuk menumbuhkan kesadaran agar tidak membuang sampah rumah tangga ke dalam sungai dan saluran air. Pembuangan sampah sembarangan dapat mengakibatkan saluran air tidak berfungsi normal saat hujan, memperparah genangan.
Evaluasi berkelanjutan terhadap program-program penanganan banjir juga menjadi kunci. "Apakah sudah masuk dalam rencana jangka pendek dan menengah kita atau tidak? Lalu, beberapa titik yang sudah dilakukan pembenahan bisa mengurangi banjir atau tidak. Itu harus dilakukan evaluasi untuk perbaikan-perbaikan," tutur Yuke, menekankan pentingnya data dan analisis.
Menurutnya, menyelesaikan persoalan banjir di Jakarta harus dilakukan secara tuntas, bukan setengah-setengah. Pendekatan parsial diyakini tidak akan efektif dan hanya akan menyebabkan genangan tetap terjadi setiap musim hujan. Oleh karena itu, komitmen jangka panjang dan menyeluruh sangat dibutuhkan.
Komitmen Jangka Panjang untuk Jakarta Bebas Banjir
Penanganan banjir di Jakarta, termasuk upaya antisipasi banjir dan longsor DKI, membutuhkan komitmen yang kuat dan berkelanjutan dari pemerintah. Yuke Yurike memberikan contoh penanganan Sungai Ciliwung yang harus tuntas, di samping 12 aliran sungai lainnya. "Contohnya untuk Ciliwung, sepakat harus tuntas. Disamping juga 12 aliran sungai lainnya. Jika itu dilakukan, tentunya saya yakin banjir Jakarta bisa berkurang atau mungkin terbebas dari banjir," jelas Yuke.
Ia mengakui bahwa untuk bisa bebas dari banjir merupakan tantangan yang sangat sulit, karena membutuhkan anggaran yang besar dan komitmen bersama dari setiap gubernur DKI Jakarta. "Untuk bisa bebas dari banjir, memang sangat sulit, karena butuh anggaran yang besar dan komitmen bersama dari gubernur DKI Jakarta. Tidak bisa hanya diselesaikan oleh 1 atau 2 gubernur, tapi juga dilakukan berkelanjutan oleh setiap gubernur. Apalagi, Jakarta memiliki blue print pengendalian banjir yang harus disepakati dan tinggal dijalankan bersama," papar politisi PDI Perjuangan itu.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebutkan bahwa penanganan banjir dan genangan di Ibu Kota lebih cepat dibandingkan daerah lainnya. "Mohon maaf, bukan apa-apa, kalau dibandingkan dengan daerah-daerah sekitar, Jakarta pasti lebih cepat penanganannya, dan kemarin relatif cepat penanganannya,” kata Pramono saat dijumpai di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.
Pramono mengakui genangan air di Jakarta selalu ada, terutama saat musim hujan. Namun, ia telah meminta Dinas SDA DKI untuk menyiagakan seluruh pompa yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta. "Seperti yang saya janjikan berulang kali, kemarin sebelum hujan, semua air saya minta untuk dipompa. Jadi, sumber daya air sekarang ini 600 pompa yang kemarin dipersiapkan,” ungkap Pramono, menunjukkan kesiapan teknis Pemprov.
Sumber: AntaraNews